Ekonomi Tertekan tapi Kafe Tetap Ramai, Mengenal Fenomena Lipstick Effect yang Terjadi di Indonesia

  • Saifan Zaking

Memasuki akhir pekan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya berhasil berbalik arah ke zona hijau dan ditutup menguat 1,10 persen atau naik 67 poin ke level 6.162,04 pada perdagangan Jumat (22/5/2026). Meskipun indeks berhasil rebound setelah sempat tertekan tajam di awal pekan, investor asing terpantau masih masif melakukan aksi jual bersih (net sell) dengan nilai mencapai Rp1,06 triliun. Di sisi lain, tekanan terhadap mata uang garuda juga belum mereda, di mana nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup melemah ke level Rp17.717 per dolar AS. Angka ini bukan sekadar statistik. Ia adalah cermin dari tekanan ekonomi yang makin terasa di kantong masyarakat, di mana harga barang impor merangkak naik, beban cicilan kian berat, dan bayang-bayang PHK massal masih menghantui berbagai sektor industri.


Namun di tengah semua itu, toko kosmetik tetap ramai, kafe-kafe tetap penuh antrian, tiket konser tetap ludes, dan aplikasi belanja online tetap mengirimkan notifikasi "pesanan Anda sedang dikemas". Inilah paradoks yang oleh para ekonom disebut sebagai lipstick effect yang sedang terjadi di dalam negeri.


Apa Lipstick Effect?


Istilah lipstick effect lahir dari pengamatan sederhana. Pada awal 2000-an, ketika resesi menghantam Amerika Serikat pasca peristiwa 11 September, Leonard Lauder Presiden Estée  Lauder mencatat sesuatu yang ganjil, yakni penjualan lipstik perusahaannya justru naik, padahal ekonomi dalam negeri sedang ambruk.


Lauder menyimpulkan ketika orang tak lagi mampu membeli tas desainer atau berlibur ke luar negeri, mereka akan mencari kepuasan yang lebih terjangkau. Lipstik, parfum, atau produk perawatan kulit menjadi "kemewahan kecil" yang tetap bisa diraih. Bukan pemborosan, melainkan terapi murah untuk jiwa yang tertekan.


Konsep ini kemudian diperkuat oleh ekonom dan sosiolog Juliet Schor, yang menjelaskan bagaimana tekanan ekonomi justru mendorong masyarakat mencari kepuasan instan melalui produk yang terjangkau namun tetap bernilai emosional. Di Indonesia, fenomena ini terjadi di depan mata.


Permainan Psikologi Fenomena ini


Mengapa masyarakat tetap belanja saat dompet terasa makin tipis. Para psikolog dan ekonom perilaku menunjuk beberapa mekanisme. Pertama, pelarian dari stres, yakni ketika tekanan finansial menghimpit, otak mencari pelepas stres yang cepat dan terjangkau. Membeli sebuah lipstik, memesan kopi seharga Rp65.000, atau membeli skincare baru memberikan lonjakan dopamin yang sama dengan membeli barang mahal hanya dengan biaya yang jauh lebih kecil.


Kedua, affordable luxury sebagai pengganti kemewahan besar. Alih-alih membeli tas branded seharga Rp10 juta, seseorang lebih memilih membeli parfum limited edition seharga Rp500 ribu. Kepuasan "memiliki sesuatu yang istimewa" tetap tercapai, tanpa menguras rekening secara dramatis.


Faktor ketiga adalah konsumsi sebagai ekspresi identitas. Bagi Gen Z dan milenial, dua kelompok paling aktif belanja, konsumsi bukan sekadar memenuhi kebutuhan. Namun ini merupakan cara menyatakan diri di tengah dunia yang makin tidak pasti. Kafe yang Instagramm-able, skincare yang viral di TikTok, atau tiket konser artis internasional adalah cara berkata bahwa mereka masih baik-baik saja.


Fenomena ini dinilai sebagai respons psikologis yang lumrah, ada kebutuhan manusiawi untuk menjaga rasa percaya diri dan semangat, meski daya beli secara umum sedang tertekan. Seperti ingin melepas lelah, stres, sebagai bentuk pelampiasan dari tekanan pekerjaan atau hidup.


Satu hal yang membedakan lipstick effect di Indonesia 2026 dengan versi Amerika 2001 adalah kecepatan dan jangkauannya. Ketika Lauder mengamati penjualan lipstik naik, ia melihatnya dari data penjualan toko fisik. Kini, fenomena yang sama terjadi dalam hitungan detik, dipercepat oleh algoritma media sosial dan kemudahan transaksi digital.


Marketplace menjadi accelerator lipstick effect. Video ulasan skincare bisa mendorong ribuan transaksi dalam semalam. Konten self-reward yang viral di medsos pun merayakan belanja kecil di tengah kondisi ekonomi sulit.


Ketika ‘Pelarian’ Menjadi Jebakan


Di balik dinamika yang menarik ini, ada sisi gelap yang perlu diperhatikan. lipstick effect yang berlebihan apalagi yang didorong oleh doom spending (belanja impulsif karena pesimisme tentang masa depan) bisa menggerogoti tabungan tanpa disadari.


Data BI memang menunjukkan saving rate yang naik ke 18,2%. Namun bagi kelompok menengah bawah yang sudah hidup "pas-pasan," setiap rupiah yang dialihkan ke kepuasan sesaat adalah rupiah yang tidak masuk dana darurat, tidak masuk investasi, dan tidak digunakan untuk membangun ketahanan finansial jangka panjang.


Paradoks lipstick effect adalah membuat orang merasa lebih baik hari ini, tetapi bisa membuat kondisi finansialnya lebih buruk esok hari. Terutama jika tekanan ekonomi yang memicunya tidak kunjung mereda.