Jakarta Panas Hari Ini, Ternyata Ada Alasan Mengapa Ibu Kota Terasa Menyala

  • Saifan Zaking

Akhir-akhir ini cuaca terasa terasa sangat terik, keluar rumah di siang hari sudah terasa seperti berdiri di depan oven terbuka. Banyak warga yang bertanya-tanya, ada apa sebenarnya dengan cuaca ibu kota? 


Jakarta memang memiliki masalah panasnya sendiri, fenomena Urban Heat Island (UHI) atau pulau panas perkotaan. Ini terjadi ketika suhu di kawasan perkotaan jauh lebih tinggi dibandingkan daerah sekitarnya yang lebih terbuka.


Di Jakarta, intensitas UHI tercatat berkisar antara 3°C hingga 6°C untuk suhu permukaan. Suhu udara di dalam kota pun rata-rata lebih tinggi 1°C hingga 2,5°C dibanding wilayah sekitarnya. 


Sebagai perbandingan, penelitian berbasis pemodelan cuaca menunjukkan suhu permukaan rata-rata Jakarta lebih tinggi 2,3°C dibanding wilayah rural sekitarnya seperti Depok dan Bogor, bahkan selisih itu melebar di musim hujan.


Mengapa Bisa Begitu?


Penyebabnya sudah tertanam di wajah kota itu sendiri. Sebagian besar permukaan Jakarta ditutupi beton, aspal, dan gedung-gedung tinggi dengan material yang menyerap panas matahari di siang hari lalu melepaskannya kembali secara perlahan di malam hari. 


Akibatnya, suhu tetap tinggi bahkan setelah matahari terbenam. Ruang terbuka hijau Jakarta hanya mencakup sekitar 9,98% dari total luas kota, jauh di bawah standar minimal 30% yang diamanatkan peraturan perundang-undangan.


Faktor lain yang ikut menyumbang panas adalah polusi dari kendaraan bermotor dan industri, serta panas yang dibuang dari jutaan unit AC yang beroperasi sepanjang hari. Semakin banyak orang menyalakan AC untuk mendinginkan interior, semakin banyak panas yang dibuang ke udara luar.


Kepala Pusat Studi Lingkungan UGM, Prof. Djati Mardiatno juga menegaskan bahwa alih fungsi lahan dan bertambahnya jumlah bangunan berkontribusi nyata pada panas ekstrem yang dirasakan. "Daerah dengan struktur bangunan yang padat, terutama pusat perkotaan, cenderung mengalami suhu yang lebih tinggi," katanya.


Terjadinya Fenomena Alam


Tidak hanya faktor itu saja, melainkan kombinasi berlapis dari fenomena alam. Penyebab paling mendasar yang sedang terjadi saat ini adalah masa pancaroba, transisi dari musim hujan menuju musim kemarau.


Prakirawan BMKG, Wahyu Argo menegaskan bahwa kondisi panas yang dirasakan warga Jakarta merupakan bagian dari peralihan musim menuju kemarau. Dalam fase ini, Monsun Australia mulai menguat dan membawa angin timuran yang cenderung lebih kering.


Ini bukan sekadar panas biasa yang segera berlalu. BMKG memperkirakan sebagian besar wilayah Indonesia akan mulai memasuki musim kemarau pada April hingga Juni 2026, dan Jakarta menjadi salah satu yang merasakan dampak awal peralihan tersebut.


Di balik minimnya awan di langit Jakarta, ada fenomena atmosfer global yang berperan besar, yakni Madden-Julian Oscillation (MJO). BMKG menjelaskan bahwa situasi panas ini berkaitan dengan fase kering dari MJO yang sedang melintasi wilayah Indonesia bagian barat. Pada fase ini, aktivitas pembentukan awan dan hujan cenderung melemah.


Indikasi Super El Nino?


Peringatan juga sudah disampaikan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan merilis prediksi cuaca ekstrem berupa El Nino Godzilla berpotensi melanda RI di periode musim kemarau tahun 2026 ini. Namun di sisi lain, BMKG telah memberikan klarifikasi bahwa tidak ada indikasi terjadinya "Super El Niño" atau yang kerap disebut di media sosial sebagai "El Niño Godzilla" pada 2026.


Pasalnya, jika hal itu terjadi, dunia dapat kembali menghadapi tekanan iklim besar. Bahkan, juga berpotensi melampaui periode 2023-2024 yang tercatat sebagai salah satu kondisi terpanas dalam sejarah.


Suhu Tertinggi dan Himbauan BMKG, Suhu Tertinggi di Indonesia Capai 36,6 Derajat!


Pada 26 April, BMKG mencatat adanya suhu ekstrem di sejumlah wilayah. Dengan suhu maksimum Jakarta menyentuh 34,8°C, sementara Ciputat 35,6°C, dan terpanas nasional ada di Kapuas Hulu (36,8°C) dan Palu (36,2°C).


BMKG mengimbau masyarakat untuk menghindari paparan langsung sinar matahari antara pukul 10.00 hingga 16.00 WIB, menggunakan pelindung diri seperti topi, payung, dan sunscreen, serta memperbanyak konsumsi air putih agar terhindar dari dehidrasi. 

Daftar Top 20 Suhu Maksimum Harian Tertinggi Di Indonesia 2026 1. Stamet Pangsuma, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat 36.8 °C 2. ⁠Stamet Mutiara Sis-Al Jufri, Palu, Sulawesi Tengah 36.2 °C 3. Balai Besar MKG Wilayah II, Ciputat, Banten 35.6 °C 4. Stamet Beringin, Barito Utara, Kalimantan Tengah 35.3 °C 5. Balai Besar MKG Wilayah I, Medan, Sumatera Utara 35.3 °C 6. Stamet Tjilik Riwut, Palangkaraya, Kalimantan Tengah 35.3 °C 7. Stamet Sanggu, Barito Selatan, Kalimantan Tengah 35.2 °C 8. Staklim Banten, Tangerang, Banten 35.2 °C 9. Stamet Kertajati, Majalengka, Jawa Barat 35.1 °C 10. Staklim Jawa Tengah, Semarang, Jawa Tengah 35.0 °C 11. Stamet Syamsudin Noor, Banjarmasin, Kalimantan Selatan 35.0 °C 12. Stamet Ahmad Yani, Semarang, Jawa Tengah 34.9 °C 13. Stamet H. Asan, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah 34.8°C 14. Iswahyudi TNIAU, Magetan, Jawa Timur 34.8°C 15. Adi Soemarmo TNIAU, Karanganyar, Jawa Tengah 34.8°C 16. Stageof Denpasar, Denpasar, Bali 34.8°C 17. Stamet Maritim Tanjung Priok, Jakarta Utara, DKI Jakarta 34.8°C 18. Stamet Maritim Tanjung Emas, Semarang, Jawa Tengah 34.7°C 19. Stageof Malang, Malang, Jawa Timur 34.7°C 20. Stamet Nangapinoh, Melawi, Kalimantan Barat 34.7°C