Kenapa Biaya Prewedding Kadang Lebih Mahal dari Resepsinya Sendiri

  • Boy Nugroho

Oppal Gengs yang lagi siap-siap merencanakan pernikahan pasti pernah kaget waktu menyusun anggaran. Tiba-tiba saja kok biaya sesi foto prewedding bisa lebih besar dari anggaran resepsi? Logikanya, resepsi kan acara utama yang mengundang ratusan tamu, sedangkan prewedding itu hanyalah sesi foto sebelum Hari H.


Tenang, jangan panik dulu. Ada banyak faktor di balik membengkaknya biaya prewedding, mulai dari sisi psikologis, bisnis, sampai tren sosial media yang bikin standar foto pranikah makin tinggi dari tahun ke tahun.


Ilustrasi foto prewedding. (Sumber: Pexels)


Prewedding Bukanlah Sekadar Dokumentasi


Banyak yang mengira foto prewedding cuma pelengkap buat dipajang di pelaminan, padahal fungsinya sudah bergeser jauh. Harus diakui bahwa sejak dulu foto prewedding menjadi ajang menampilkan identitas pasangan calon pengantin, bukan sekadar dokumentasi. Artinya, setiap pasangan punya motif dan bentuk identitas tertentu yang ingin ditampilkan, dan ini melibatkan pihak lain yang berkepentingan seperti fotografer.


Baca Juga: Royal Wedding Mangkunegaran, Gusti Bhre Spill Kakaknya Menikah November 2026, Ini Sosoknya


Karena jadi ajang “pamer”, pasangan pun terdorong memilih konsep yang lebih elaborate, seperti ganti kostum berkali-kali, pilih lokasi yang unik dan jauh, sampai efek visual yang niat banget. Identitas yang ditampilkan bahkan bisa mempengaruhi psikologi pasangan itu sendiri, disadari atau tidak. Semakin kompleks konsep yang diinginkan, otomatis semakin banyak juga biaya produksi yang harus dikeluarkan.


Destinasi Jauh dan Ganti Kostum Bikin Biaya Melonjak Drastis


Salah satu pemicu utama biaya prewedding membengkak adalah tren foto di lokasi jauh, bahkan luar negeri. Detikcom/BBC pernah mencatat kasus pasangan yang membayar Rp70 juta untuk paket pemotretan yang sudah mencakup prewedding di luar negeri selama dua hari plus dokumentasi hari pernikahan, lengkap dengan juru kamera video, tiga fotografer, dan mini studio untuk tamu. Angka segini saja sudah setara atau bahkan melebihi biaya resepsi sederhana di rumah untuk 50-100 tamu yang menurut panduan biaya pernikahan 2026 bisa dimulai dari Rp20-25 juta.


Ilustrasi pasangan prewedding. (Sumber: Pexels)


Belum lagi kalau bicara soal ganti kostum dan konsep. Untuk sesi indoor sederhana dengan konsep monochrome building saja, biaya bisa mulai dari Rp1,2 juta, sementara konsep di pelataran hotel bisa tembus Rp6 juta ke atas.  Itu pun baru satu konsep, belum ditambah konsep outdoor lain yang biasanya dipadukan dalam satu paket. Kalau pasangan memilih dua sampai tiga konsep sekaligus plus lokasi jauh, wajar kalau totalnya bisa menyamai bahkan melampaui budget resepsi.


Bisnis Fotografi Pranikah Makin Menggiurkan, Makin Banyak Paket Premium


Fenomena ini juga didorong dari sisi supply, dengan kenyataan bahwa bisnis fotografi pranikah kini jadi ladang yang sangat menggiurkan bagi para vendor. Dilansir dari  BBC, fotografer Bernardo Halim yang mengelola Bernardo Pictura mengaku sudah melayani setidaknya 55 klien pemotretan di dalam dan luar negeri dalam setahun, termasuk pemotretan di Paris dan Santorini, Yunani. Menurutnya, tren pemotretan ke destinasi eksotis seperti Paris sudah jadi hal biasa, sampai-sampai sebagian klien mulai mencari destinasi yang lebih niche seperti Islandia.


Semakin banyak permintaan destinasi premium, semakin banyak pula paket-paket mahal yang ditawarkan vendor, lengkap dengan iming-iming pengalaman liburan romantis sekaligus dokumentasi. Ini menciptakan lingkaran yang saling memperkuat: pasangan makin terpapar contoh prewedding mewah di media sosial, permintaan naik, vendor pun makin berani menaikkan harga paket premium karena target pasarnya jelas ada dan terus bertambah.


Budaya Selebrasi Konsumsi


Fenomena membengkaknya biaya acara-acara seputar pernikahan, termasuk prewedding, juga bisa dibaca lewat kacamata sosiologi. Momen sakral seperti pernikahan bisa tereduksi menjadi selebrasi konsumsi barang dan jasa yang penuh dengan tanda yang berfungsi untuk mendapatkan citra dan gengsi sosial.


Pola semacam itu ikut menetes ke masyarakat umum lewat media sosial. Standar “pernikahan ideal” yang dipertontonkan terus-menerus di linimasa membuat banyak pasangan biasa merasa perlu menyamai standar visual tertentu, termasuk dalam sesi prewedding, meski budget mereka jauh dari kelas selebriti. Efeknya, alokasi dana yang seharusnya proporsional jadi timpang, prewedding membengkak demi validasi visual, sementara resepsi yang sebenarnya jadi inti acara malah ditekan seminimal mungkin.


Resepsi Sederhana Ternyata Bisa Jauh Lebih Hemat dari Prewedding


Resepsi paling sederhana di rumah untuk 50-100 tamu, sudah mencakup catering UMKM lokal, dekorasi sederhana, rias pengantin standar, dan dokumentasi basic, bisa dimulai dari Rp20-25 juta saja. Bahkan akad nikah di KUA pada hari kerja bisa gratis tanpa biaya penghulu sama sekali.

Biaya prewedding di Indonesia bisa mahal. (Sumber: Pexels)

Bandingkan dengan paket prewedding destinasi luar negeri yang bisa tembus Rp70 juta, atau bahkan sesi domestik dengan multiple konsep dan lokasi yang totalnya bisa mencapai puluhan juta rupiah. Kalau ditotal, ada pasangan yang justru menghabiskan proporsi dana lebih besar untuk sesi foto beberapa jam dibanding acara utama yang dihadiri seluruh keluarga dan kerabat. Bukan berarti prewedding itu salah, tapi jadi pengingat penting soal keseimbangan prioritas anggaran sebelum menikah.


Biaya prewedding bisa lebih mahal dari resepsi karena gabungan beberapa faktor. Pasalnya, sesi foto ini sudah bergeser jadi ajang konstruksi identitas, bukan sekadar dokumentasi. Belum lagi tren destinasi jauh dan ganti konsep yang bikin biaya melonjak, bisnis vendor yang makin agresif menawarkan paket premium, sampai tekanan sosial dari budaya konsumsi yang dipertontonkan terus-menerus di media sosial. Semua faktor itu saling memperkuat satu sama lain, bikin banyak pasangan tanpa sadar mengalokasikan dana besar untuk momen yang sebenarnya cuma pelengkap.


Bukan berarti Oppal Gengs harus skip prewedding sama sekali, tapi penting untuk sadar bahwa resepsi tetaplah acara inti yang seharusnya dapat porsi anggaran lebih besar dan matang. Sebelum kalap pilih paket prewedding, cobalah tanyakan ke diri sendiri: ini beneran untuk kenangan berdua, atau cuma ikut arus validasi sosial? Ingatlah bahwa pernikahan yang berkesan itu nggak selalu soal seberapa mahal atau seberapa jauh lokasi fotonya, tapi soal momen yang benar-benar dirayakan bersama orang-orang terdekat.