Kenapa Eropa Dilanda Gelombang Panas Ekstrem? Ini Penjelasan Ilmiahnya

  • Hanadia Syahidah


  • Perubahan iklim menjadi penyebab utama meningkatnya frekuensi dan intensitas gelombang panas di Eropa.

  • Fenomena heat dome membuat udara panas terperangkap sehingga suhu terus meningkat selama beberapa hari.

  • Gelombang panas juga disertai kelembapan udara yang tinggi, membuat suhu terasa lebih menyengat dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan. 

  • Sejumlah negara Eropa mengeluarkan peringatan merah dan melakukan berbagai penyesuaian, mulai dari pembatasan aktivitas hingga peningkatan kewaspadaan menghadapi cuaca ekstrem.


Sejumlah negara di Eropa tengah dilanda gelombang panas ekstrem dengan suhu yang memecahkan rekor di berbagai wilayah, melampaui 40 derajat Celsius. Menurut peneliti World Weather Attribution (WWA), gelombang panas kali ini menjadi yang paling ekstrem yang pernah tercatat di Eropa. Tak hanya mencatat suhu tertinggi, peristiwa tersebut juga menjadi gelombang panas dengan kelembapan paling tinggi di kawasan itu.

Baca juga: Hantavirus Jadi Sorotan, WHO Pastikan Tidak seperti COVID-19

Perubahan Iklim Disebut Jadi Penyebab Utama Gelombang Panas

Gelombang panas yang melanda berbagai negara Eropa bukan hanya dipicu oleh datangnya musim panas. Para ahli menyebut perubahan iklim akibat aktivitas manusia menjadi faktor utama yang membuat suhu ekstrim kini jauh lebih memungkinkan untuk terjadi.

Studi terbaru dari WWA menyebut fenomena ini bukan disebabkan oleh El Nino, melainkan dipicu oleh perubahan iklim yang diperkuat oleh kondisi atmosfer tertentu. WWA menunjukkan gelombang panas yang terjadi pada 2026 hampir mustahil terjadi apabila kondisi iklim masih seperti lima dekade lalu. Kini, peluang terjadinya peristiwa serupa diperkirakan sekitar 200 kali lebih besar dibandingkan sekitar 20 tahun lalu. 

Fenomena Heat Dome Membuat Udara Jadi Terperangkap

Selain faktor perubahan iklim, gelombang panas di Eropa juga dipicu oleh fenomena heat dome atau kubah panas. Fenomena ini terjadi ketika sistem tekanan udara tinggi yang sangat kuat bertahan di suatu wilayah sehingga udara panas terperangkap di dekat permukaan bumi. Kondisi ini membuat udara yang seharusnya naik kembali terdorong ke bawah, lalu memanas akibat proses pemanasan kompresional. Akibatnya, suhu terus meningkat dan panas bertahan lebih lama. 

Tak Hanya Panas, Kelembapan Udara Memperparah Gelombang Panas

Selain suhu yang sangat tinggi, gelombang panas kali ini juga disertai tingkat kelembapan udara yang tidak biasa. Di sejumlah kota di Inggris, kelembapan tercatat melampaui 50 persen dengan suhu titik embun sekitar 20 derajat Celsius, jauh lebih tinggi dibandingkan gelombang panas pada Juli 2022.

Studi tersebut juga menunjukkan indeks wet-bulb globe temperature (WBGT), yang mengukur gabungan suhu udara, kelembapan, radiasi panas, dan pergerakan angin, memecahkan atau diperkirakan akan memecahkan rekor di hampir separuh kota di Eropa. Kondisi ini membuat tubuh lebih sulit melepaskan panas melalui penguapan keringat sehingga cuaca terasa lebih menyengat.

Menurut para peneliti, kelembapan udara yang tinggi juga meningkatkan risiko gangguan kesehatan karena memperlambat proses penguapan keringat yang berfungsi mendinginkan tubuh. Kelompok yang paling rentan terhadap kondisi ini antara lain lansia, penderita penyakit kronis, serta masyarakat seperti migran dan tunawisma berisiko tinggi.

Gelombang Panas Paksa Eropa Lakukan Berbagai Penyesuaian

Sejumlah badan meteorologi di berbagai negara Eropa mengeluarkan peringatan merah akibat meningkatnya risiko akibat gelombang panas ekstrem. Sebagai langkah antisipasi, sejumlah aktivitas, seperti kegiatan olahraga, pembelajaran di sekolah, layanan transportasi umum, hingga operasional beberapa tempat wisata dibatasi.

Kondisi ini juga menjadi tantangan bagi banyak negara di Eropa yang belum memiliki penggunaan pendingin ruangan (AC) secara luas maupun infrastruktur yang dirancang untuk menghadapi suhu ekstrem. Karena hal tersebut, Prancis menjadi salah satu negara yang paling terdampak setelah mencatat hari terpanas dalam sejarah pada pekan ini.