Kenapa Rakyat Indonesia Tuh Lucu-Lucu Semua, Meski Kondisi Negara Lagi Gak Baik-Baik Aja?

  • Bayu Dewantara

Pernah ngerasa capek banget nggak sih ketika ngbaca berita akhir-akhir ini? Isinya kalau nggak korupsi, harga kebutuhan meroket, sampai drama elit yang bikin lo mikir, "Ini negara literally kok gini amat ya?" Sikon yang serba uncertain ini tanpa sadar sering merembet ke urusan personal. Akhirnya malah berpengaruh ke banyak hal dalam hidup lo. Entah bikin lo jadi overthinking, capek, atau tiba-tiba lose motivation dan gak bisa produktif ngerjain apa-apa.

Mau Pindah Negara, Tapi Ketahan Saldo Rekening

Bawaannya pengen kesel aja, apalagi kalo makin dipikirin. Saking capeknya sama keadaan saat ini, kadang lo sampai beneran googling "cara pindah jadi warga negara Selandia Baru". Tapi pas ngelihat saldo rekening dan responsibilities yang masih numpuk, realita justru nggak mendukung itu. Ujung-ujungnya apa? Lo malah buka medsos, scrolling meme atau baca komentar netizen soal kekacauan ini, dan akhirnya memilih untuk ikutan ketawa atau mengisi kolom komentar dengan meme satir andalan.

Baca juga: Survival Show Gen Z Sebagai WNI: Udah Kena Mental, Ditambah Krisis Finansial

Itu yang gue dan mungkin Oppal Gengs rasain. Aneh nggak sih? Negara lagi carut-marut, tapi rakyatnya kok effortlessly lucu semua? Tiap ada tragedi, life crisis, atau kebijakan yang di luar nalar, selalu aja ada banyolannya.

Respon Warga +62, Tragedi Jadi Komedi

Kalimat-kalimat semacam “Hidup cuma sekali, tapi kenapa menjadi WNI”, “Warga desa gak pake dolar tapi pake dulur” dan lain sebagainya jadi salah satu contoh gimana bentuk respons masyarakat yang membumbui hal ini sebagai komedi. 

Usut punya usut, sebenernya hal ini merupakan hal yang normal dan bisa lo tangani kok. Tertawa di tengah kondisi yang lagi berduka, stres, atau under pressure itu pada dasarnya adalah sebuah mekanisme bertahan atau bahasa kerennya yaitu coping mechanism.

Coping Mechanism

Berbagai penelitian psikologi tuh nyebutin kalau humor adalah salah satu bentuk defense mechanism yang paling works. Waktu lo dihadapin sama realita pahit atau external pressure yang di luar kontrol lo, otak bakal secara otomatis nyari way out buat release stresnya. 

Secara ilmiah, pakai humor di saat krisis terbukti ampuh nurunin kadar hormon stres (kortisol) dan memicu pelepasan endorfin. Hormon bahagia inilah yang akhirnya bikin lo ngerasa sedikit lebih lega dan kewarasan lo tetep terjaga!

Dilansir dari theconservation.com, menurut Pratiwi Utami, seorang Dosen Ilmu Komunikasi di UGM, ngejelasin kalau fenomena coping mechanism lewat komedi dan meme di saat krisis tuh bukan hal baru. Dari zaman tensi politik Pemilu 2019 sampai era uncertainty pas pandemi Covid-19, masyarakat kita emang udah kebiasa pakai jokes buat nerjemahin situasi yang lagi berantakan. Di tengah himpitan keadaan yang out of control, meme itu bener-bener jadi instrumen yang praktis dan ekonomis banget buat ambil jeda, sekaligus nyiptain emotional distance dari konflik atau krisis yang lagi happening.

Tapi disclaimer juga nih, pakai meme itu ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, di bawah iklim politik yang kaku, komedi dan satire itu beneran jadi safe space dan jalan paling aman buat ngelempar kritik tanpa harus takut sama risiko legal yang terlalu frontal

Tapi di sisi lain, kalau candaannya kelewat viral, esensi kritiknya malah sering lost in translation. Kadang orang cuma fokus ngakak doang, sampai substansi masalah aslinya malah kabur. Contohnya kayak tren lagu My Little Bolu Ketan, saking fyp dan viralnya, netizen malah miss the point dari kritik awalnya!

Alasan Kenapa Lo Harus Tetap Bertahan

Balik lagi ke topik coping mechanism, jadi, pas lo ngerespons penderitaan atau isu berat pakai jokes receh, itu bukan berarti lo ignorant, denial, atau apatis. Itu adalah cara kolektif kita buat embrace kepahitan itu sambil bilang, "Gila, ini situasi ampas banget, tapi kalau cuma ditangisin doang, gue bisa gila beneran." 

Ngomongin soal bertahan, lo pernah kepikiran nggak sih, apa yang sebenernya bikin lo tetep mau bangun pagi dan keep going di tengah rentetan chaos ini?

Kalau kita reflect lagi, menurut gue yang bikin gue bertahan adalah kombinasi antara tanggung jawab hidup, rasa kepo sama plot twist dari akhir cerita perjuangan gue sendiri. Karena pada dasarnya manusia itu punya rasa penasaran dan selalu ingin tahu bagaimana ending dalam perjalanan hidup sendiri.

Jadi mau gak mau kita choose to survive karena percaya kalau setiap fase 'ampas' ini pasti ada tanggal kedaluwarsanya. Nggak mungkin susah atau pusing terus, kan? Jadi sayang banget rasanya kalau lo mutusin buat nyerah di tengah jalan sebelum lihat happy ending-nya!

Buat lo yang sekarang lagi ngerasa burnout parah atau demotivated gara-gara situationship di luar sana, validate aja rasa capek lo itu. Mau sambat, silakan. Dan kalau di sela-sela itu lo nemu meme random yang ngetawain mirisnya hidup terus lo ikut ngakak, enjoy aja. Karena kadang, ngetawain penderitaan itu adalah bentuk perlawanan dan coping mechanism paling ultimate buat bikin lo tetep moving forward.