Tema mata menjadi benang merah menarik dalam rilisan musik Indonesia sepanjang enam bulan terakhir. Sejumlah musisi menghadirkan karya lewat judul maupun makna yang berkaitan pada kondisi visual, mulai dari buram, rabun, hingga kacamata. Pendekatan ini membuat tema sederhana terasa lebih catchy saat diangkat ke dalam lirik lagu.
Fenomena ini pun sempat ramai diperbincangkan karena kemunculan lagu-lagu berkonsep serupa dalam waktu yang berdekatan. Deretan lagu-lagu berikut menunjukkan bahwa “mata” tidak sekadar soal indra penglihatan, tetapi juga bisa menjadi simbol perasaan dan cara pandang seseorang. Berikut lima rekomendasi lagu bertema mata yang unik untuk kamu dengarkan.
1. Idgitaf – Mungkin di Depan Buram
Setelah sukses lewat “Sedia Aku Sebelum Hujan” dan “Rutinitas”, Idgitaf kembali melanjutkan perjalanannya menuju album penuh kedua lewat perilisan single “Mungkin di Depan Buram” pada 15 April 2026. Lagu ini menjadi single ketiga yang dirilisnya di tahun yang sama sekaligus penanda awal menuju album yang dijadwalkan hadir dalam waktu dekat. Kehadirannya melengkapi deretan karya Idgitaf yang dikenal dekat dengan keseharian pendengar.
Idgitaf menjelaskan bahwa lagu ini menggambarkan perasaan sedih yang berjalan beriringan bersama semangat untuk terus melangkah. Ia mengangkat tema hubungan yang tumbuh di tengah kondisi tidak sempurna, sekaligus menyinggung ketidakpastian masa depan yang kerap dirasakan banyak orang. Pesan tentang harapan dan keberanian seolah mengajak pendengar tetap bertahan meski arah di depan terasa belum jelas.
Secara musikal, “Mungkin di Depan Buram” menghadirkan perpaduan pop dan sentuhan country. Aransemen gitar lembut membuka lagu lewat nuansa sendu, tetapi memberi rasa optimistis yang menenangkan. Lirik seperti “Mungkin di depan buram, mungkin di depan seram…” begitu relate. Hal ini mempertegas ciri khas Idgitaf dalam merangkai karya reflektif yang mampu memeluk keresahan pendengarnya menjadi bahan bakar untuk terus melangkah.
2. Bernadya – Rabun Jauh
Lewat lagu terbarunya, Bernadya kembali merangkai emosi dalam balada sendu berjudul Rabun Jauh. Dirilis pada 13 April 2026 di bawah naungan Juni Records, single ini langsung mencuri perhatian berkat liriknya yang sederhana dan terasa menusuk. Lagu ini juga lahir dari kolaborasi bersama Rendy Pandugo dan Kamga, yang memberi sentuhan emosional dalam keseluruhan aransemen.
Secara garis besar, lagu ini menggambarkan seseorang yang berada di antara harapan dan kenyataan, terus mencari sosok yang dirindukan meski sadar kehadirannya mungkin sudah tak lagi ada. Konsep “rabun jauh” diolah menjadi simbol emosional dimana kondisi saat seseorang memilih untuk tidak melihat kenyataan secara utuh demi menjaga perasaan. Metafora rindu hadir lewat momen kecil seperti mencari seseorang di tengah keramaian tanpa kepastian. Pendengar pun diajak merasakan kekosongan itu secara perlahan tanpa perlu disampaikan secara dramatis.
Menariknya, lagu ini mengambil sudut pandang seolah tokohnya berada di ruang ramai namun tetap merasa sendiri. Ia yakin bisa “melihat” sosok yang dirindukan meski tak benar-benar jelas. Di sinilah kekuatan storytelling Bernadya begitu terasa, karena ia mampu membawa pendengar masuk ke dalam perasaan yang sama. Pada akhirnya, Rabun Jauh berbicara tentang proses menerima bahwa tidak semua harapan akan terwujud. Lagu ini tidak hanya tentang menunggu dan kehilangan, tetapi juga tentang belajar melepaskan sehingga terasa relate bagi siapa pun yang pernah mengalami hal serupa.
3. Afgan - Kacamata
Afgan resmi merilis single terbarunya berjudul “Kacamata” pada Oktober 2025 sebagai pembuka menuju album ketujuhnya, Retrospektif. Album ini menjadi simbol perjalanan kariernya untuk kembali ke akar musik yang telah lama melekat pada dirinya, yakni pop Indonesia. Dalam lagu ini, Afgan menghadirkan nuansa pop bercampur sentuhan modern dan elemen RnB yang lembut sehingga menciptakan warna musik yang terasa familiar.
Lagu “Kacamata” bercerita tentang seseorang yang rela mengubah diri demi cinta, tetapi pada akhirnya menyadari bahwa pengorbanan tersebut sia-sia. Lagu ini menjadi metafora tentang kehilangan jati diri, konflik batin, hingga proses menemukan kembali identitas diri. Afgan sendiri menyebut “kacamata” sebagai tonggak perjalanan karier selama 15 tahun di industri musik sekaligus penanda kembalinya ia pada gaya bermusik yang membesarkan namanya.
Dalam proses kreatifnya, Afgan bekerja sama bersama Iqbal Siregar, Petra Sihombing, dan Kamga Mohammed untuk menghadirkan nuansa nostalgia yang dikemas lebih kekinian. Video musiknya disutradarai oleh Shadtoto Prasetio lewat konsep visual minimalis ala 90-an dan menampilkan akting bersama Yuki Kato sebagai model utama. Lagu “Kacamata” juga membawa pesan agar pendengar tidak menggantungkan kebahagiaan pada orang lain, melainkan tetap berpegang pada keyakinan dan jati diri.
4. Raissa Anggiani - Alur yang Buram
Raissa Anggiani merilis lagu berjudul “Alur Yang Buram” pada 19 September 2025. Lagu ini menjadi bagian dari album Kepada, Yang Terhormat, sebuah proyek berisi sebelas lagu yang dikemas sebagai kumpulan “surat pribadi” dengan nuansa reflektif, penuh harapan, sekaligus sarat kerinduan.
Video liriknya telah diunggah melalui kanal YouTube resmi dan mendapat respons positif, terutama dari pendengar yang menyukai musik bernuansa sendu dan emosional. Visual yang dihadirkan terbilang sederhana, dengan animasi tipis yang justru memperkuat suasana hati lagu tanpa mengalihkan fokus dari liriknya.
Secara tematik, lagu ini mengangkat kegelisahan dalam hubungan ketika arah dan masa depan mulai terasa tidak jelas. “Alur Yang Buram” juga dapat dimaknai sebagai surat batin untuk seseorang yang tidak sepenuhnya hadir, menghadirkan gambaran tentang cinta dan harapan yang masih ada, tetapi perlahan dibayangi oleh keraguan.
5. Sal Priadi - Foto Kita Blur
Sal Priadi mengangkat kisah gagal move on melalui lagu “Foto Kita Blur” yang dirilis pada 29 Maret 2024 dan masuk dalam album Markers and Such Pens Flashdisk. Lagu ini menggambarkan perasaan seseorang terhadap mantan kekasih yang telah pergi dibalut lirik puitis dan aransemen khas yang membuatnya terasa hangat sekaligus menyentuh. Nuansa emosional yang dihadirkan menjadikan lagu ini mudah dinikmati, terutama bagi pendengar yang pernah mengalami fase serupa.
Cerita utama dalam lagu ini berpusat pada kenangan masa lalu yang diabadikan lewat foto, namun kini hanya tersisa dalam bentuk yang buram. Foto-foto tersebut menjadi simbol ingatan yang perlahan memudar, meski perasaan yang tertinggal masih terasa kuat. Melalui liriknya, Sal Priadi menggambarkan bagaimana seseorang mencoba move on, tetapi tetap menyimpan sisa-sisa kenangan yang sulit dilepaskan.
Dalam beberapa bagian, lagu ini menyoroti dinamika hubungan yang dulu terasa dekat dan hangat, termasuk melalui panggilan sayang yang unik. Namun, semuanya berubah ketika sang mantan pergi begitu cepat, tergambar dalam lirik yang menyiratkan kepergian mendadak tanpa kembali. Secara keseluruhan, “Foto Kita Blur” merepresentasikan perasaan kehilangan yang diibaratkan seperti foto buram alias tak lagi jelas, tetapi masih menyimpan jejak kenangan. Lagu ini telah meraih lebih dari satu juta pemutaran di Spotify serta ratusan ribu penonton di kanal YouTube resminya hingga April 2026.
Kelima lagu di atas membuktikan bahwa tema “mata” dapat diolah menjadi metafora yang kaya makna. Tren ini sekaligus menunjukkan kreativitas musisi Indonesia dalam mengemas tema sederhana menjadi sesuatu yang dekat pada kehidupan pendengar. Bukan tidak mungkin akan muncul lebih banyak karya berkonsep serupa di kemudian hari. Dari kelima lagu ini, mana yang paling kamu suka, Oppal Gengs?
Reyvan