Mahasiswa ITB Bikin Alat Penerjemah Bahasa Kucing, Begini Cara Kerjanya

  • Cynthia Paramitha

Pernah nggak sih kamu melihat kucing dan bertanya-tanya, sebenarnya mereka lagi mikirin apa? Apakah sedang lapar, nyaman, takut, atau justru ingin bermain

Pertanyaan semacam itu ternyata coba dieksplorasi oleh Gusti Ilalang Seta, mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Teknologi Bandung (ITB). Lewat tugas akhirnya yang diberi nama Project Solem, Seta mencoba mencari cara untuk menerjemahkan emosi dan jejak kognitif kucing ke dalam bentuk yang bisa dipahami manusia.

Menariknya, proyek ini nggak berhenti pada konsep. Seta menggunakan teknologi electroencephalography (EEG) yang merupakan metode untuk merekam aktivitas listrik di otak menggunakan sensor yang ditempelkan di kepala. Fungsinya untuk merekam aktivitas neurologis pada kucing. Data yang didapat kemudian diolah dan diterjemahkan ke dalam bentuk visual berupa keramik.

Apa Itu Project Solem?

Project Solem merupakan karya eksperimental yang mencoba mengeksplorasi hubungan antara manusia dan hewan melalui teknologi dan seni.

Alih-alih membuat alat yang menerjemahkan suara “meong” menjadi kata-kata manusia, proyek ini menggunakan data dari aktivitas otak kucing. Data tersebut kemudian divisualisasikan menjadi bentuk tertentu.

Dalam prosesnya, Seta menggunakan EEG untuk menangkap aktivitas neurologis kucing setelah diberikan beberapa stimulus.

Ada enam stimulus berbeda yang digunakan dalam eksperimen tersebut. Setiap respons yang terekam kemudian menjadi bagian dari proses untuk menentukan bentuk visual yang merepresentasikan fase tertentu dari emosi dan jejak kognitif kucing.

Perjalanannya Dimulai dari Desain

Proses pembuatan Project Solem dibagikan Seta melalui akun TikTok pribadinya secara bertahap. Pada bagian awal, Seta menunjukkan proses eksplorasi desain dan mencari berbagai referensi yang dianggap relevan dengan proyeknya.

Setelah melalui tahap eksplorasi, akhirnya dipilih desain alat yang memiliki bentuk ergonomis dan minimalis. Bentuk ini bukan hanya soal tampilan, tetapi juga mempertimbangkan kenyamanan ketika alat digunakan pada kucing.

Di tahap ini, Seta juga mulai membuat program yang nantinya digunakan untuk membaca data dari aktivitas otak kucing.

Alatnya Dibuat Lebih Kecil dan Nyaman


Credit: https://www.tiktok.com/@florasapien


Memasuki tahap berikutnya, Seta membuat prototype pertama. Salah satu hal yang diperhatikan adalah ukuran alat. Karena akan digunakan pada kucing, perangkat dibuat lebih kecil dan ringan agar tidak terlalu mengganggu pergerakan hewan.


Program yang dibuat juga mulai menunjukkan perkembangan. Sistem tersebut sudah dapat mengenali frekuensi gelombang otak yang masuk.


Namun, prosesnya ternyata tidak semudah membuat alat lalu langsung memasangkannya ke kucing. Seta menemukan tantangan lain, yaitu perangkat harus bisa menyesuaikan dengan bentuk tubuh kucing.


Zoro Jadi Subjek Percobaan


Credit: https://www.tiktok.com/@florasapien


Setelah berbagai penyesuaian dilakukan, Seta akhirnya mulai melakukan percobaan pada subjek kucing bernama Zoro. Pada percobaan pertama, alat berhasil mendapatkan sinyal dengan cukup baik. Salah satu hal yang membantu proses pengambilan sinyal tersebut adalah penggunaan ultrasonic gel.


Selain bagian elektronik, perangkat juga dibuat melalui proses 3D printing. Setelah perangkat keras selesai, fokus kemudian berlanjut pada pengembangan program yang akan digunakan untuk mengolah data.


Bukan Sekadar Alat, Tapi Juga Karya Seni


Hal menarik dari Project Solem adalah cara Seta menggabungkan teknologi dengan seni. Dalam proyek ini, komunikasi dengan hewan tidak diterjemahkan menjadi suara atau tulisan seperti bahasa manusia pada umumnya. Data yang diperoleh justru diterjemahkan ke dalam rupa atau bentuk visual.


Karena itu, keramik menjadi bagian penting dari proyek ini. Setelah proses pengambilan dan pengolahan data dilakukan, akhirnya terpilih enam bentuk yang dianggap dapat merepresentasikan fase tertentu dari emosi dan jejak kognitif kucing.

Bentuk-bentuk tersebut kemudian diasumsikan memiliki padanan tertentu dalam bahasa manusia.

Enam Bentuk dari “Pikiran” Kucing

Credit: https://www.tiktok.com/@florasapien


Pada tahap akhir, Seta memperlihatkan seluruh bentuk yang dihasilkan dari eksperimen Project Solem. Enam bentuk tersebut menjadi representasi visual dari respons kucing terhadap stimulus yang diberikan selama eksperimen.


Dengan kata lain, bentuk keramik tersebut bukan sekadar benda dengan desain tertentu. Setiap bentuk memiliki makna yang berkaitan dengan data aktivitas neurologis yang diperoleh dari kucing. Di sinilah konsep Project Solem menjadi menarik. Manusia biasanya mencoba memahami hewan lewat suara, gerakan tubuh, ekspresi wajah, atau perilakunya. Seta mencoba melihat kemungkinan lain, yaitu melalui aktivitas neurologis yang kemudian diterjemahkan menjadi visual.