Mengapa Ikan Sapu-sapu Dikubur Massal, Bukan Dimanfaatkan?

  • Saifan Zaking

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sejak pertengahan April ini menggelar operasi besar-besaran penangkapan ikan sapu-sapu di berbagai sungai dan waduk ibu kota. Hasilnya pun diluar dugaan dengan hampir 7 ton atau sekitar 68.880 ekor ikan berhasil dijaring hanya dalam hitungan hari.


Nah, yang menjadi pro-kontra di ruang publik adalah kenapa ikan tersebut seluruh dimatikan dan dikubur massal di sejumlah titik dekat pintu air. Banyak yang berpikir kenapa tidak dimanfaatkan saja, misalnya untuk olahan makanan.


Tapi sebenarnya ada alasan ilmiah yang kuat di balik keputusan itu lho!


Ikan Sapu-sapu = Bom Kimia


Masalah utama ikan sapu-sapu dari perairan Jakarta bukan soal rasa atau dagingnya yang keras, melainkan soal racun yang tersimpan di dalam tubuhnya.


Ikan sapu-sapu adalah spesies yang dikenal bandel. Ia mampu bertahan di perairan yang sangat tercemar, bahkan di kondisi minim oksigen sekalipun. Kemampuan bertahan inilah yang justru menjadi bumerang.


Bayangkan, selama bertahun-tahun hidup di sungai Jakarta yang sarat polutan, tubuh ikan ini menjadi gudang penyimpan logam berat. Analisis laboratorium menggunakan teknologi X-Ray Fluorescence (XRF) menemukan bahwa kadar arsen, kadmium, merkuri, dan timbal dalam sampel ikan sapu-sapu dari perairan Jakarta melampaui batas maksimum yang ditetapkan BPOM. 


Lebih parahnya lagi, logam berat ini bersifat bioakumulatif. Artinya, racun itu tidak bisa hilang hanya dengan cara dimasak. Digoreng, direbus, dikukus, atau dijadikan siomay sekalipun, kandungan logam beratnya tetap ada dan tetap berbahaya, terutama bagi anak-anak dan ibu hamil.


Lalu, Bagaimana Kalau Dijadikan Tepung Ikan?


Wacana mengolahnya menjadi tepung untuk pakan ternak pun pernah ramai diperbincangkan. Pihak Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pun memberikan peringatan bahwa jika tepung itu dimakan oleh ikan atau hewan ternak lainnya, dan dikonsumsi manusia, maka potensi keracunan pun tetap ada.


Inilah yang disebut biomagnifikasi, racun berpindah dan bahkan semakin terkonsentrasi saat bergerak ke atas rantai makanan. Ternak yang diberi pakan dari ikan sapu-sapu berlogam berat berpotensi menyerap logam tersebut ke dalam dagingnya. Ketika daging itu dikonsumsi manusia, racun pun ikut terbawa masuk.


Kenapa Harus Dikubur?


Untuk hal itu, ada dua alasan. Pertama karena ikan sapu-sapu sulit mati meskipun sudah di darat. Yang ada nanti mereka terbawa air hujan dan kembali ke ekosistem sungai.


Kedua, bangkai ikan sapu-sapu yang dibiarkan membusuk di tempat terbuka bisa mencemari lingkungan sekitar. Logam berat di dalam tubuhnya bisa merembes ke tanah dan air, atau justru meracuni hewan lain yang memakannya. 


Dengan dikubur sedalam 1-2 meter, polutan tersebut terpendam lebih aman dan tidak masuk ke rantai makanan.