Mengenang Adik Aqib, Korban Perundungan di Pemalang: Saatnya Hentikan Bullying

  • Muhammad Ichsan

Kasus perundungan kembali terjadi karena kembali memakan korban. Muhammad Hasbi Al Aqib, siswa kelas 2 SD Negeri 1 Kebondalem yang akrab disapa Aqib, berpulang pada Rabu (30/9/2026) sore dalam perjalanan menuju rumah sakit, diduga akibat tindakan perundungan yang dialaminya di lingkungan sekolah.


Souce: IG @cimahi_banget


Kronologi Singkat yang Terjadi

Sebelum kejadian, Aqib sempat menjalani perawatan intensif selama sembilan hari di RSUD Pemalang sejak 17 September 2026, usai mengeluhkan sakit pada bagian perut kepada keluarganya. Saat awal perawatan, Aqib belum menceritakan apa yang sebenarnya ia alami. Setelah beberapa hari, akhirnya Aqib mengaku kepada orang tuanya bahwa dirinya dipukul oleh kakak kelasnya di sekolah.

 

Ibunda Aqib, Diah Indriyanti, menjelaskan bahwa anaknya sempat memberitahu beberapa nama yang diduga menjadi pelaku kekerasan terhadapnya saat diperlihatkan foto. Ayah Aqib, Nurwandi, juga menyampaikan hal serupa. "Anak saya itu sebelum meninggal sudah ngomong siapa-siapa yang mukul dia, dilihatin foto terus dia nunjuk," ujar Nurwandi.


Kasat Reskrim Polres Pemalang, AKP M. Faizal Wildan Umar Rela, menjelaskan bahwa pihaknya masih mendalami kasus ini secara menyeluruh. "Masih dalam penyelidikan serta melakukan pendalaman terhadap saksi-saksi keluarga untuk mengungkap kejadian meninggalnya anak korban dan berkoordinasi dengan dinas dan instansi terkait," kata Faizal. Pihak kepolisian juga turut melakukan autopsi untuk memastikan apa yang menjadi penyebab utama dari kepergian Aqib, serta memeriksa keterangan sejumlah saksi.

Kepergian Aqib turut mendapat perhatian langsung dari pemerintah daerah. Plt. Bupati Pemalang, Nurkholes,juga meninjau langsung SD Negeri 1 Kebondalem serta melayat ke rumah duka. "Tadi ke sekolahan dan mendapat laporan kronologi kejadian, memang ada perselisihan antara korban dan pelaku, kemudian terjadilah pemukulan," ujar Nurkholes.


Baca juga: Kenapa Gen Z Takut Terlihat Tua? Ini Alasan dan Fenomenanya

Saatnya Hentikan Bullying

Source: Magnific


Kisah Aqib ini menjadi pengingat keras kepada para orang tua untuk lebih sadar melakukan edukasi kepada anak untuk tidak melakukan perundungan, baik di lingkungan rumah maupun sekolah, dan menjelaskan bahwa itu bukan merupakan sebuah candaan semata. Dampak yang dirasakan bisa berakibat fatal baik secara fisik, psikologis bagi korban yang mengalaminya. Setiap anak berhak untuk merasa aman di lingkungan sekolah tanpa merasa takut menjadi sasaran kekerasan dari teman maupun kakak kelasnya.


Sekolah, orang tua, dan masyarakat harus bersama-sama menciptakan lingkungan yang ramah anak. Guru dan pihak sekolah juga harus lebih peka terhadap setiap perubahan perilaku siswa yang tiba-tiba menjadi pendiam atau menunjukkan tanda-tanda ketakutan, karena hal tersebut bisa menjadi sinyal awal adanya perundungan yang terjadi secara diam-diam.

Cara Orang Tua Mencegah Anak Jadi Pelaku Bullying

Selain melindungi anak dari ancaman menjadi korban, penting juga bagi orang tua untuk mendidik anak agar tidak tumbuh menjadi pelaku perundungan. Beberapa langkah ini bisa diterapkan, di antaranya:


  • Ajarkan empati sejak dini dengan mengajarkan anak untuk memahami perasaan orang lain dan dampak dari tindakan yang mereka lakukan.

  • Menjadi teladan yang baik karena anak cenderung meniru cara orang tua dalam menghadapi konflik maupun berkomunikasi dengan orang lain.

  • Bangun komunikasi secara terbuka agar anak merasa lebih nyaman bercerita tentang apa pun yang mereka alami atau rasakan di sekolah.

  • Kenalkan konsekuensi dari tindakan kekerasan, baik secara fisik maupun verbal, dengan cara yang sesuai dengan usia anak.

  • Pantau pergaulan dan lingkungan sosial anak, termasuk bagaimana anak berinteraksi dengan teman sebaya maupun kakak kelasnya di sekolah.

  • Ajarkan cara menyelesaikan konflik secara sehat, tanpa kekerasan, agar anak terbiasa mencari solusi, bukan melampiaskan emosi lewat tindakan agresif.

Mengenang Aqib

Kepergian Aqib meninggalkan duka mendalam bagi orang-orang terdekatnya seperti keluarga, teman-teman sekolah, dan masyarakat Pemalang. Semoga kasus ini menjadi pengingat bersama bahwa setiap anak berhak tumbuh dalam lingkungan yang aman, dengan penuh kasih sayang, dan jauh dari kekerasan dalam bentuk apa pun. Mari jadikan kisah Aqib ini sebagai momentum bersama untuk benar-benar menghentikan budaya perundungan, baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah, demi masa depan anak-anak Indonesia yang lebih baik.