Mengenang Toshifumi Suzuki: Sang Pendiri Ritel 7-Eleven yang Punya Etos Kerja Luar Biasa

  • Bayu Dewantara
  • Berpulang: Toshifumi Suzuki meninggal dunia pada 18 Mei 2026 di usia 93 tahun akibat gagal jantung.  
  • Inspirasi: Saat menjadi eksekutif di Ito-Yokado, Suzuki terinspirasi oleh konsep toko kelontong jam operasional panjang di Amerika Serikat.  
  • Pemimpin yang Turun ke Lapangan: Meski sudah berusia di atas 80 tahun dan menjabat sebagai CEO, ia tetap rutin meninjau gerai langsung setiap akhir pekan untuk memeriksa kualitas produk 

Dunia ritel global sedang dirundung duka yang mendalam. Toshifumi Suzuki, sosok visioner yang merevolusi cara dunia berbelanja melalui jaringan toko kelontong (convenience store) 7-Eleven, mengembuskan napas terakhirnya pada 18 Mei 2026 di usia 93 tahun akibat gagal jantung.

Pengumuman resmi dari Seven & i Holdings Co pada Senin (25/5/2026) ini menyisakan kesedihan sekaligus warisan inspirasi yang tak ternilai bagi para pelaku bisnis di seluruh dunia.

Membicarakan 7-Eleven tidak bisa dilepaskan dari keteguhan hati seorang Suzuki. Kisah hidupnya adalah potret nyata tentang bagaimana sebuah keyakinan yang kuat, jika dibarengi dengan kerja keras, mampu meruntuhkan dinding skeptisisme setinggi apa pun.

Baca juga: Kisah Djoko Susanto, Putus Sekolah di Kelas 1 SMA Tapi Berhasil Jadi 10 Orang Terkaya di Indonesia!

Melawan Skeptisisme Dunia demi Sebuah Visi

Perjalanan Suzuki membangun imperium bisnisnya dimulai pada tahun 1974. Kala itu, ia menjabat sebagai eksekutif di perusahaan ritel Ito-Yokado. Terinspirasi setelah kunjungannya ke Amerika Serikat, Suzuki melihat potensi besar dari konsep toko serba ada yang memiliki jam operasional panjang. Ia pun bertekad membawa waralaba 7-Eleven ke tanah kelahirannya, Jepang.

Langkah ini bukanlah hal yang mudah. Pada era tersebut, pasar Jepang masih didominasi oleh toko-toko kelontong tradisional. Rencana Suzuki seketika dihujani penolakan dan keraguan dari berbagai pihak.

"Ketika pertama kali memutuskan membawa 7-Eleven ke Jepang, semua orang mengatakan itu tidak akan berhasil dan menentang ide tersebut—para eksekutif, profesor universitas, konsultan, semuanya," kenang Suzuki dalam sebuah wawancara pada tahun 2013. Namun dengan penuh keyakinan, ia menambahkan, "Saya tahu mereka salah"

Keteguhan hati Suzuki terbukti benar. Gerai pertama yang ia buka di kawasan Toyosu, Tokyo, langsung menarik perhatian publik. Dalam waktu singkat, konsep toko kelontong modern ini meledak di pasaran. Suzuki berhasil mengubah total lanskap pemenuhan kebutuhan harian masyarakat.

Dari Menghadapi Penolakan hingga Mengakuisisi Perusahaan Induk

Kejeniusan Suzuki tidak berhenti pada adaptasi pasar lokal. Salah satu momen paling legendaris dalam sejarah bisnis global terjadi ketika Southland Corp, perusahaan induk 7-Eleven di Amerika Serikat, dinyatakan bangkrut pada tahun 1990.

Melihat hal tersebut, Suzuki tidak tinggal diam. Melalui Ito-Yokado, ia justru membalikkan keadaan dengan mengakuisisi perusahaan Amerika tersebut. 


Di bawah kendali dingin Suzuki, 7-Eleven bertransformasi dari bisnis yang hampir mati menjadi raksasa ritel global yang ekspansif. Dari yang semula hanya belasan ribu gerai, jaringan ini menggurita hingga memiliki lebih dari 85.000 gerai di berbagai belahan dunia saat ini.


Warisan Etos Kerja: "Keberuntungan Tidak Datang Begitu Saja"


Nilai inspiratif terbesar dari sosok Toshifumi Suzuki terletak pada etos kerjanya yang luar biasa. Lahir sebagai anak kesembilan dari sepuluh bersaudara di Prefektur Nagano, Suzuki dibesarkan oleh seorang ibu yang sangat disiplin. Sang ibu menanamkan prinsip kuat bahwa "siapa yang tidak bekerja, tidak akan makan." Doktrin masa kecil itulah yang membentuk karakter kepemimpinannya.


Bahkan ketika usianya telah melewati angka 80 tahun dan posisinya sudah berada di puncak tertinggi sebagai CEO, Suzuki menolak untuk bersantai. Ia diketahui masih rutin turun ke lapangan setiap akhir pekan. Suzuki mendatangi gerai-gerai 7-Eleven secara langsung, membeli produk, dan memeriksa sendiri kualitas barang dagangannya demi memastikan kepuasan pelanggan.


Bagi Suzuki, kesuksesan yang ia raih bukanlah hadiah dari langit. Dalam autobiografinya yang terbit tahun 2008, ia menuliskan sebuah pesan mendalam yang patut direnungkan oleh setiap generasi muda:


"Saya sangat beruntung sebagai pebisnis, tetapi saya selalu merasa keberuntungan berpihak pada mereka yang melakukan segala hal untuk mencapai tujuan mereka. Keberuntungan tidak datang begitu saja kepada orang-orang tertentu."


Kini, sang pelopor ritel modern telah tiada. Toko kelontong yang kini akrab disebut "combini" tempat di mana orang tidak hanya membeli makanan segar, tetapi juga menarik uang tunai dan membayar tagihan akan selalu menjadi monumen hidup atas kerja keras dan visi besarnya. Toshifumi Suzuki telah membuktikan kepada dunia bahwa ketika semua orang meragukan impian kita, fokus terbaik yang bisa dilakukan adalah membuktikan bahwa mereka salah. Selamat jalan, Maestro.