Atlet Indonesia kembali memberikan prestasi di ajang internasional. Kini, lewat lomba para cycling di Asian Para Games Aichi-Nagoya 2026, Muhammad Fadli Imammuddin mempersembahkan emas ketiga bagi Merah Putih. Ia menjuarai nomor perlombaan Men's C4 4.000 meter Individual Pursuit di Izu Velodrome, Shizuoka, Jepang, Selasa (20/10/2026), sekaligus memecahkan rekor Asian Para Games.
Source: Suara.com
Rekor yang Dipecahkan Fadli
Pemecahan rekor ini terjadi di babak kualifikasi. Fadli berhasil mencatatkan waktu 4 menit 50,169 detik dengan kecepatan rata-rata 49,626 km/jam, sekaligus menjadi unggulan pertama. Catatan ini lebih cepat dan melampaui rekor sebelumnya, yaitu 4 menit 52,032 detik milik atlet China, Wang Xian, yang tercipta pada 24 Oktober 2023 di Hangzhou. Selisihnya sekitar 1,8 detik. Rekor yang didapatkan merupakan rekor di ajang Asian Para Games, bukan rekor dunia.
Perjuangan Selama Berada di Lintasan
Pada ajang perebutan medali emas di babak final, Fadli menghadapi pembalap sepeda asal Iran, Behrooz Farzad. Fadli memberikan penampilan yang dominan dan berhasil menyalip lawannya satu putaran penuh (overlap). Dalam aturan individual pursuit, ketika seorang pebalap menyusul lawannya, balapan langsung berakhir dan kemenangan jatuh kepada pebalap yang menyalip.
Tiga Edisi Beruntun, Tiga Emas Didapatkan
Perolehan emas pada edisi ini juga terus melanjutkan tradisi Fadli di Asian Para Games. Pada tahun 2018, yang berlangsung di Jakarta, ia keluar sebagai juara di kategori individual pursuit C4. Selain itu, di Asian Para Games 2022 di Hangzhou (digelar Oktober 2023), ia meraih emas individual time trial C4-5 jalan raya. Raihan positif ini kembali ia dapatkan di Nagoya, dan naik ke podium tertinggi. Usai laga, Fadli mengaku ingin menjalani kariernya dengan lebih santai atau "enjoy".
Profil Muhammad Fadli Imammuddin: Dari Lintasan Motor ke Velodrome
Fadli lahir di Cibinong, Bogor, pada 25 Juli 1984. Selama sekitar 15 tahun, ia memulai kariernya sebagai pembalap motor profesional. Hidupnya berubah pada tahun 2015, saat balapan Supersport 600cc Asia Road Racing Championship seri kedua di Sirkuit Sentul. Menurut Tempo, ia tertabrak dari belakang oleh pembalap Thailand yang sedang berduel kecepatan tinggi. Kaki kirinya diamputasi dari bawah lutut, dan ia pensiun dari balap motor.
Setelah kejadian tersebut, ia tidak ingin larut berlama-lama dalam rasa trauma dan kesedihan. Kepada Tempo pada 2018, Fadli menyebut kuncinya adalah sugesti positif dan menganggap dirinya normal. Ia lalu beralih ke balap sepeda dan debut di Asian Cycling Championships 2017.
Di luar lintasan sepeda, Fadli juga masih dekat dengan dunia motor. Ia menjadi instruktur Astra Honda Racing School dan mendirikan 43 Racing School untuk membina para pembalap muda. Kompas mencatat, berkat polesannya, tim balap motor Papua meraih lima emas di PON Papua 2022 pada kategori motocross beregu. Pada 2026, ia juga dipercaya menjadi bagian dari Global Team Toyota Athletes.
Prestasi yang Ia Dapatkan di Event Lain
ASEAN Para Games 2017, Kuala Lumpur: dua perak dan dua perunggu pada debut internasionalnya.
Asian Para Games 2018, Jakarta: emas individual pursuit C4, selain medali lain.
Paralimpiade Tokyo 2020: tampil sebagai satu-satunya wakil para balap sepeda Indonesia, namun terhenti di babak kualifikasi.
Asian Para Games 2022, Hangzhou: emas time trial C4-5, perak individual pursuit C4-5 (kalah dari Wang Xian), dan perunggu team sprint campuran.
Paralimpiade Paris 2024: kembali menjadi satu-satunya atlet paracycling Indonesia.
ASEAN Para Games 2025: Medali emas.
Inspirasi bagi Atlet Disabilitas
Perjalanan Fadli dari pebalap motor profesional hingga menjadi juara para balap sepeda Asia menunjukkan bahwa kecelakaan bukan akhir dari karier seorang atlet. Dengan tiga emas beruntun di tiga edisi Asian Para Games, namanya kini tercatat sebagai salah satu atlet disabilitas paling konsisten dari Indonesia.
Muhammad Ichsan