Nama SMAN 1 (Smansa) Pontianak mendadak jadi atensi di jagat edukasi Kalimantan Barat. Bukan cuma soal prestasinya yang mentereng, tapi keberanian sekolah ini dalam menyuarakan ketidakadilan di ajang Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat provinsi. Tak tanggung-tanggung, mereka menuntut tanding ulang demi sportivitas bagi para siswanya.
Profil SMAN 1 Pontianak di Kalimantan Barat, Sekolah "Legend" dengan Segudang Prestasi

(Source: https://sman1ptk.sch.id/)
Berdiri sejak tahun 1953, SMAN 1 Pontianak bukan pemain baru dalam urusan mencetak siswa unggulan. Terletak strategis di jantung Kota Khatulistiwa, sekolah ini dikenal sebagai salah satu SMA favorit yang punya standar akademik tinggi.
Berdasarkan profil resminya, Smansa Pontianak punya visi mencetak lulusan yang cerdas, religius, dan berwawasan lingkungan. Nggak heran kalau setiap tahunnya, sekolah ini selalu jadi "rebutan" calon siswa baru dan langganan juara di berbagai kompetisi, mulai dari sains sampai debat konstitusi.
Bahkan, nama SMAN 1 Pontianak semakin dikenal luas karena masuk daftar sekolah terbaik berdasarkan hasil UTBK yang dirilis Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi pada 2022. Pada saat itu, SMA ini tembus 4 terbaik di Provinsi Kalimantan berdasarkan nilai UTBK.
Kontroversi di Panggung Cerdas Cermat
Namun, suasana mendadak panas saat gelaran LCC 4 Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalbar baru-baru ini. Muncul dugaan kejanggalan dalam proses penjurian yang dianggap merugikan tim Smansa Pontianak. Merasa ada yang "nggak beres," pihak sekolah nggak tinggal diam. Mereka memilih untuk speak up secara terbuka mengenai kontroversi ini.
Langkah berani ini diambil bukan sekadar soal menang atau kalah, tapi demi menjaga mental dan integritas para siswa yang sudah belajar mati-matian memahami materi yang sudah dipelajari
Dukungan DPR RI: Perjuangkan Tanding Ulang demi Keadilan
Aksi protes Smansa Pontianak ini ternyata sampai ke telinga petinggi di Senayan. Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, secara terbuka menyampaikan permohonan maaf kepada para siswa SMAN 1 Pontianak atas ketidaknyamanan yang terjadi.
Tak hanya minta maaf, Hetifah menegaskan dukungannya agar dilakukan tanding ulang (rematch). Menurutnya, ajang seperti LCC 4 Pilar haruslah menjadi wadah pembelajaran demokrasi yang bersih dan jujur. Pihak sekolah pun terus berkomitmen memperjuangkan hak murid-muridnya agar mendapatkan penilaian yang objektif.
"Ini soal keadilan dan memberikan pelajaran bagi siswa bahwa kebenaran harus diperjuangkan," ungkap pihak sekolah dalam keterangannya.
Bayu Dewantara