Perbandingan Kinerja IHSG dari Era Presiden Soeharto hingga Prabowo, Apa Saja Dinamikanya?

  • Naufal Mamduh

Oppal Gengs, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kerap menjadi perhatian investor, terutama ketika pasar mengalami gejolak. Sepanjang sejarahnya, indeks saham Indonesia telah melewati berbagai periode pemerintahan, mulai dari Presiden Soeharto hingga Presiden Prabowo Subianto.

Setiap era memiliki dinamika tersendiri. Ada periode ketika IHSG mencatat kenaikan signifikan, ada pula masa ketika indeks tertekan akibat krisis ekonomi dan sentimen global. Karena itu, membandingkan kinerja IHSG antar-era presiden perlu dilakukan dengan melihat data sekaligus konteks yang melatarbelakanginya.

Perhatian terhadap perbandingan ini kembali meningkat setelah IHSG anjlok 8,01% ke level 5.393,92 pada pembukaan perdagangan Jumat (16/10/2026). Penurunan tersebut memicu penghentian perdagangan sementara atau trading halt setelah MSCI membuka konsultasi terkait usulan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia.

Perbandingan Kinerja IHSG di Era Tiap Presiden


(Sumber: Investor Daily)

Berikut gambaran perubahan IHSG pada sejumlah periode pemerintahan berdasarkan data yang dihimpun dari pemberitaan Kontan dan sumber sekunder lainnya.

  • Soeharto: IHSG naik 298,04% dari level dasar 100 (1982) menjadi 398,04 pada akhir 1998, tahun berakhirnya masa kepresidenan Soeharto. 

  • B.J. Habibie: IHSG naik sekitar 37,8%, dari 424,01 menjadi 584,42.

  • Abdurrahman Wahid (Gus Dur): IHSG turun sekitar 19,54% selama periode pemerintahan pada 1999-2001.

  • Megawati Soekarnoputri: IHSG naik sekitar 78,80%, dari 470,23 menjadi 840,79.

  • Susilo Bambang Yudhoyono (SBY): IHSG naik sekitar 499,5%, dari 840,79 menjadi 5.040,53 selama dua periode pemerintahan.

  • Joko Widodo (Jokowi): IHSG naik sekitar 53,95%, dari 5.040,53 menjadi 7.760,06 pada akhir masa jabatannya.

  • Prabowo Subianto: IHSG turun sekitar 32,6% dari level 7.760,06 pada akhir era Jokowi ke kisaran 5.233 pada penutupan sesi I Jumat (16/10/2026).

Baca juga: MSCI Ancam Ubah Status Indonesia jadi Standalone Market: Apa Artinya dan Dampak bagi Investor?

Khusus era Prabowo, angka tersebut masih bersifat sementara karena menggunakan posisi IHSG pada sesi I, bukan penutupan akhir hari. Perubahan persentase juga dapat berbeda jika sumber menggunakan tanggal awal atau level indeks yang berbeda.

Dinamika IHSG Berbeda di Setiap Era

Perjalanan IHSG tidak terlepas dari perubahan kondisi ekonomi dan pasar keuangan. Pada era Soeharto, indeks mulai mencatatkan sejarahnya pada awal 1980-an, jauh setelah pemerintahan tersebut dimulai.

Sementara itu, era Habibie berlangsung di tengah pemulihan setelah krisis moneter Asia 1997-1998. Periode Gus Dur dan Megawati juga memiliki kondisi politik dan ekonomi tersendiri yang memengaruhi kepercayaan investor.

Pada masa SBY, IHSG mencatat kenaikan kumulatif yang besar selama satu dekade. Periode ini turut diwarnai kenaikan harga berbagai komoditas, termasuk energi dan produk agribisnis, yang menjadi bagian penting perekonomian Indonesia.

Berbeda dengan itu, era Jokowi berlangsung di tengah pertumbuhan pasar modal, pandemi COVID-19, dan perubahan kondisi ekonomi global. Meski IHSG mengalami sejumlah koreksi, indeks tetap mencatat kenaikan sekitar 53,95% selama periode pemerintahannya.

Adapun era Prabowo memperlihatkan pergerakan yang sangat dinamis. IHSG sempat mencetak rekor penutupan 9.134,70 pada 20 Januari 2026, sebelum mengalami tekanan tajam pada tahun yang sama.

Mengapa Perbandingan IHSG Tidak Bisa Dibaca Sembarangan?

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika membandingkan kinerja IHSG di setiap era presiden.

Pertama, titik awal dan akhir pengukuran harus jelas. Perbedaan tanggal atau level indeks dapat menghasilkan persentase kenaikan maupun penurunan yang berbeda.

Kedua, durasi pemerintahan tidak sama. Perubahan indeks selama sekitar 1,4 tahun pada era Habibie tentu tidak bisa langsung dibandingkan dengan kenaikan kumulatif selama 10 tahun pemerintahan SBY atau Jokowi tanpa mempertimbangkan perbedaan durasi.

Ketiga, kondisi global ikut mempengaruhi pasar. Krisis keuangan, pandemi, suku bunga global, harga komoditas, dan konflik geopolitik dapat mempengaruhi IHSG di luar kebijakan pemerintah.

Selain itu, IHSG diluncurkan pada 4 April 1983. Artinya, indeks ini tidak mencakup seluruh periode pemerintahan Soeharto yang berlangsung selama lebih dari tiga dekade.

IHSG Era Prabowo dan Sentimen MSCI


(Sumber: IDX Channel)

Tekanan terbaru pada IHSG terjadi setelah MSCI mengumumkan konsultasi mengenai usulan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market pada 15 Oktober 2026.

MSCI menyampaikan kekhawatiran mengenai transparansi struktur kepemilikan saham dan dugaan aktivitas perdagangan terkoordinasi. Konsultasi tersebut belum menjadi keputusan final. MSCI menyatakan keputusan akhir akan diumumkan paling lambat akhir Juni 2027.

Pada pembukaan perdagangan Jumat (16/10), IHSG merosot 8,01% ke level 5.393,92 sehingga perdagangan dihentikan sementara selama 30 menit. Peristiwa ini menunjukkan bahwa sentimen investor terhadap tata kelola dan aksesibilitas pasar dapat mempengaruhi pergerakan indeks secara signifikan.

Baca Juga: IHSG Ambles hingga 11 Persen, MSCI Usulkan Status Bursa RI Turun ke Standalone Market  

Membaca Sejarah IHSG dengan Lebih Bijak

Oppal Gengs, perbandingan IHSG dari era Soeharto hingga Prabowo memberikan gambaran tentang perjalanan pasar modal Indonesia dalam menghadapi berbagai perubahan ekonomi.

Namun, kenaikan atau penurunan indeks tidak bisa dijadikan satu-satunya ukuran keberhasilan suatu pemerintahan. Setiap periode memiliki kondisi awal, durasi, dan tantangan yang berbeda.

Karena itu, saat membaca perbandingan kinerja IHSG, pastikan tanggal pengukuran, sumber data, dan konteks ekonominya jelas. Bagi investor, memahami faktor yang memengaruhi pasar dapat menjadi bekal untuk menilai risiko dan mengambil keputusan investasi secara lebih bijak.