IHSG Ambles hingga 11 Persen, MSCI Usulkan Status Bursa RI Turun ke Standalone Market

  • Muhammad Ichsan

Pasar saham Indonesia mengalami tren buruk pada Jumat (16/10/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok, dikabarkan turun bebas setelah penyedia indeks global MSCI mengumumkan rencana konsultasi untuk menurunkan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

Source: Kompas

Alur Terjadinya Pelemahan

Sehari sebelumnya, pada hari Kamis (15/10), IHSG ditutup turun 1,33 persen menjadi 5.863,78. Pada Jumat pagi, indeks dibuka anjlok 8,01 persen ke 5.393,92, atau turun 469,86 poin. Penurunan melewati batas 8 persen itu langsung memicu trading halt, yaitu penghentian sementara perdagangan selama 30 menit oleh Bursa Efek Indonesia (BEI). Setelah pasar perdagangan dibuka kembali, tekanan jual justru semakin dalam. IHSG sempat tercatat turun di angka 10,41 persen ke 5.253,52, lalu menyentuh 11,27 persen ke 5.203,19. Dalam periode itu, 780 saham melemah dan hanya 16 saham yang menguat. Rupiah ikut tertekan hingga menyentuh Rp18.000 per dolar AS.


Saham Apa Saja yang Anjlok?

Saham perbankan besar menjadi sektor yang paling terpukul. Bank Central Asia (BBCA) turun 14,81 persen ke 5.175, sedangkan Bank Negara Indonesia (BBNI) turun 12,61 persen, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) turun sekitar 10,65 persen, dan Bank Mandiri (BMRI) turun sekitar 9,30 persen. Indeks LQ45 ikut rontok sekitar 12,9 persen.


Di luar sektor bank, sejumlah saham berkapitalisasi besar juga terkena auto reject bawah, termasuk Barito Renewables Energy (BREN) yang turun 14,91 persen, Dian Swastatika Sentosa (DSSA) turun 14,88 persen, dan Bayan Resources (BYAN) yang turun 14,86 persen. Secara sektoral, energi turun 13,52 persen, industri 13,40 persen, dan infrastruktur 13,11 persen.


Apa Itu Standalone Market?

MSCI mulai membuka konsultasi pada hari Kamis (15/10) waktu setempat dan akan memberikan keputusan final paling lambat pada akhir bulan Juni 2027. Status Standalone Market adalah kategori tersendiri di luar kelompok Developed, Emerging, dan Frontier. Apabila diterapkan, maka indeks Indonesia dihitung terpisah dan tidak lagi masuk ke dalam indeks acuan global seperti MSCI Emerging Markets, sehingga dana asing berpotensi keluar dari saham Indonesia. Selama konsultasi, MSCI juga membekukan sejumlah perubahan indeks saham Indonesia.


Baca juga: BBM Bali Mulai Normal Lagi! Pertamina Guyur 26.200 KL Pertalite & Pertamax Buat Atasi Antrean


Alasan yang MSCI Berikan

MSCI menyoroti kemudahan berinvestasi (investability), ketidakjelasan struktur kepemilikan saham, dan dugaan praktik perdagangan terkoordinasi. Kekhawatiran itu sudah muncul sejak dilakukan Tinjauan Klasifikasi Pasar Juni 2026. Pengumuman kali ini keluar sebelum jadwal tinjauan indeks reguler November 2026, sehingga mengejutkan pelaku pasar.


Oleh karena itu, MSCI menilai bahwa klasifikasi Indonesia sebagai pasar berkembang (Emerging Market) tidak lagi tepat, dan kami memulai konsultasi mengenai usulan untuk mengklasifikasikan ulang Indonesia sebagai pasar mandiri (Standalone Market)," ujar MSCI.

Konteks yang Memperberat Tekanan

Menurut Reuters, IHSG telah turun lebih dari 30 persen sepanjang 2026. Moody's dan Fitch juga mengubah prospek peringkat utang Indonesia menjadi negatif tahun ini. Dari luar negeri, inflasi produsen Amerika Serikat yang lebih tinggi dari perkiraan ikut membebani aset negara berkembang. Bursa regional pun tertekan, dengan KOSPI turun 7,57 persen dan Nikkei turun 4,90 persen pada Kamis.

Respons Otoritas

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan akan melanjutkan reformasi pasar modal dan mencatat MSCI sebelumnya sudah mengakui empat pembenahan, seperti publikasi kepemilikan saham di atas 1 persen dan kebijakan kenaikan batas minimum free float. BEI juga akan meminta penjelasan atas dasar penilaian MSCI. Bank Indonesia memperkuat intervensi pasar untuk menahan tekanan rupiah. Status Indonesia di MSCI belum berubah dan masih menunggu hasil konsultasi.