Pragmata: Game Capcom yang Buat Pemain Ingin Menjadi Ayah

  • Saifan Zaking

Sejak pertama kali diumumkan di acara PlayStation 5 Future of Gaming pada Juni 2020, Pragmata telah melewati beberapa kali penundaan yang sempat membuat banyak gamer putus asa. Kini, lebih dari lima tahun setelah pengumuman perdananya, game ini akhirnya rilis pada 17 April 2026.


Dan hasilnya? Capcom tidak mengecewakan. Bahkan lebih dari itu, mereka menghadirkan sesuatu yang benar-benar istimewa.


Pragmata adalah aksi petualangan fiksi ilmiah yang membawa kita ke sebuah fasilitas riset di bulan bernama The Cradle. Kita berperan sebagai Hugh Williams, seorang teknisi luar angkasa yang dikirim untuk menyelidiki mengapa komunikasi antara bumi dan fasilitas tersebut terputus. 


Sesampainya di sana, bencana terjadi., sebuah gempa bulan memisahkan Hugh dari rekan-rekannya, dan satu-satunya makhluk "hidup" yang ia temukan bukanlah manusia, melainkan seorang android muda bernama D-I-0336-7, yang kemudian ia beri nama Diana.




Bukan 'Dad Game' Biasa


Dunia game sudah sangat familiar dengan formula 'dad game', dari Joel dan Ellie di The Last of Us, hingga Kratos dan Atreus di God of War. Game-game tersebut membangun hubungan ayah-anak di atas fondasi trauma, penyesalan, dan kepahitan. Sementara Pragmata mengambil jalan yang berbeda dan jauh lebih menguras emosi pemain.


Hugh bukan ayah yang murung dan penuh luka batin. Ia bukan pria yang terpaksa melindungi sosok anak karena tidak ada pilihan lain. Sejak awal, ia merangkul Diana dengan hangat, memberinya nama, dan berjanji membawanya melihat keindahan Bumi yang belum pernah ia rasakan. Hugh membesarkan rasa ingin tahu Diana dengan sabar dan penuh cinta, bukan karena kewajiban, melainkan karena ia sungguh-sungguh menikmati peran itu.


Sosok Hugh ini bahkan dengan gembira menceritakan keindahan Bumi kepada Diana. Ia memasang gambar-gambar crayon yang dibuat Diana di dinding shelter mereka. Ia duduk menemani Diana yang penasaran dengan setiap hal kecil yang ia temukan. Inilah yang membuat Pragmata terasa berbeda dan terasa nyata. Hubungan mereka bukan beban, melainkan hadiah.


Pragmata diartikan bagi banyak pemain adalah 'dad game' untuk para ayah yang benar-benar mencintai anak mereka.


Gameplay: Tembak-Hack


Di balik cerita yang menyentuh, Pragmata juga merupakan game aksi yang solid. Sistem tempur uniknya memadukan third-person shooting milik Hugh dengan kemampuan hacking real-time milik Diana. Saat menghadapi musuh robot, pemain harus menyelesaikan mini-game puzzle hacking untuk melemahkan pertahanan robot, lalu menembak titik lemahnya dengan senjata Hugh.


Perpaduan dua mekanik ini menciptakan ritme tempur yang adiktif dan menuntut koordinasi pikiran sekaligus refleks. Permainan ini berdurasi sekitar 10-12 jam. Tidak ada live service, tidak ada grinding yang membosankan. Hanya pengalaman yang terfokus dan dikerjakan dengan penuh cinta.


Capcom membangun Pragmata di atas RE Engine, mesin yang sama di balik Resident Evil dan Dragon's Dogma 2, dan hasilnya secara visual memukau. Lingkungan bulan yang dipenuhi cetakan 3D gagal dari Bumi, lorong-lorong fasilitas yang sunyi, hingga pertarungan boss yang spektakuler.


Pesan Bagi Laki-laki Seluruh Dunia


Pragmata lebih dari sekadar game aksi yang bagus. Ia adalah arti bagaimana membesarkan seseorang, bukan hanya melindungi dari bahaya fisik, tetapi juga menjaga kobaran rasa ingin tahu, menumbuhkan keberanian untuk bermimpi, dan mengajarkan bahwa dunia ini, meski keras, layak untuk dicintai.


Bagi para gamer yang sudah menjadi ayah, game ini akan terasa seperti cermin. Bagi yang belum, Pragmata diam-diam menanam benih keinginan untuk suatu hari bisa menjadi sosok Hugh, yang suatu saat akan dengan tulus berkata kepada anaknya, "ayo, aku akan tunjukkan keindahan dunia ini padamu". Pragmata adalah sebuah game yang membuktikan bahwa kasih sayang seorang ayah tidak perlu penuh luka untuk terasa dalam.


Pragmata berhasil melakukan sesuatu yang jarang dilakukan game menggambarkan sosok ayah yang benar-benar bahagia menjadi ayah. Hugh bukan karakter yang terpaksa melindungi Diana karena trauma atau kewajiban, melainkan karena ia sungguh-sungguh menikmati setiap momen membesarkan sang android muda itu.


Alih-alih bersikap enggan seperti banyak karakter 'video game dad' sebelumnya, Hugh justru merangkul peran itu sepenuhnya. Dibandingkan game-game Dad Game lainnya, hubungan Hugh dan Diana nyaris bebas drama.