Suka Ngantuk di Jalan? Mahasiswa ITB Ciptakan Helm Pintar yang Bisa Deteksi Microsleep

  • Reyvan
  • Tim iConic ITB raih Juara 2 Nasional SASECOM 2026 melalui inovasi SADAR Helmet pada kategori Lomba Karya Tulis Ilmiah, mengungguli puluhan finalis dari seluruh Indonesia.

  • SADAR Helmet mampu mendeteksi microsleep secara real-time menggunakan kombinasi sensor PPG, akselerometer, dan giroskop, lalu memberikan peringatan melalui getaran, suara, dan notifikasi digital untuk mencegah kecelakaan.

  • Teknologi memanfaatkan IoT dan machine learning untuk menganalisis detak jantung, Heart Rate Variability (HRV), serta pola gerakan kepala sehingga dapat mengenali kondisi pramicrosleep sebelum pengendara kehilangan kesadaran.

  • Dirancang dengan pendekatan preventif dan biaya lebih terjangkau, SADAR Helmet dapat dipasang pada helm standar SNI tanpa mengubah strukturnya dan berpotensi dikembangkan dengan integrasi AI, aplikasi mobile, GPS tracking, serta cloud monitoring.


Rasa kantuk saat berkendara sering kali dianggap sepele. Padahal, kondisi ini dapat memicu microsleep yaitu hilangnya kesadaran selama beberapa detik yang kerap menjadi penyebab kecelakaan lalu lintas fatal. Berangkat dari permasalahan tersebut, tiga mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) mengembangkan inovasi helm pintar yang mampu mendeteksi tanda-tanda kantuk pengendara secara real-time.

Inovasi tersebut dikembangkan oleh Tim iConic yang terdiri atas Mahesya Friemay Romadhoni, Muhammad Yasser Saputro, dan Rizky Miftah Alifah dari Program Studi Teknik Industri angkatan 2023. Berkat inovasi bernama SADAR Helmet, tim ini berhasil meraih Juara 2 Nasional pada kategori Lomba Karya Tulis Ilmiah dalam ajang Smart Safety Competition (SASECOM) 2026 yang diselenggarakan oleh OSH Forum Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro (FKM Undip).

Kompetisi tersebut mengangkat tema keselamatan dan kesehatan kerja, transportasi aman, dan inovasi digital. Dari total 80 finalis yang mengikuti kompetisi, Tim iConic berhasil menembus tahap akhir dan meraih penghargaan setelah melalui proses seleksi karya tulis dan presentasi pitch deck secara daring.

Helm Pintar untuk Mencegah Microsleep

SADAR Helmet dikembangkan sebagai solusi atas tingginya angka kecelakaan lalu lintas yang disebabkan oleh kelelahan dan microsleep. Menurut tim pengembang, banyak kecelakaan terjadi ketika pengendara kehilangan kesadaran hanya dalam hitungan detik tanpa menyadarinya. Sementara itu, sebagian besar teknologi keselamatan yang tersedia saat ini masih berfokus pada mitigasi setelah kecelakaan terjadi.

Melalui pendekatan yang lebih preventif, SADAR Helmet dirancang untuk mendeteksi kondisi pramicrosleep sebelum pengendara benar-benar kehilangan konsentrasi. Ketika sistem mendeteksi tanda-tanda kantuk, helm akan memberikan peringatan melalui getaran, suara, serta notifikasi digital sehingga pengendara dapat segera beristirahat atau meningkatkan kewaspadaan.

"Kami memilih topik ini karena microsleep merupakan masalah nyata dan sangat relevan di Indonesia, terutama bagi pengguna sepeda motor yang mendominasi angka kecelakaan nasional. Perkembangan teknologi IoT dan smart mobility juga membuka peluang besar untuk menghadirkan sistem keselamatan yang lebih preventif, murah, dan mudah diimplementasikan," ujar Mahesya, mengutip situs resmi ITB.

Baca Juga: Google Ajukan Pelepasan 32 Juta Nyamuk, Ini Tujuan Besar di Baliknya

Menggabungkan IoT, Sensor, dan Machine Learning

Dalam pengembangannya, SADAR Helmet memanfaatkan berbagai teknologi untuk memantau kondisi pengendara. Sistem ini mengintegrasikan sensor Photoplethysmography (PPG), akselerometer, dan giroskop guna memantau kondisi fisiologis serta pola gerakan kepala pengendara.

Sensor PPG digunakan untuk membaca detak jantung dan Heart Rate Variability (HRV), sementara akselerometer dan giroskop berfungsi mendeteksi perubahan gerakan kepala yang berkaitan dengan rasa kantuk. Data dari berbagai sensor tersebut kemudian diolah menggunakan teknologi machine learning dan sensor fusion untuk mengklasifikasikan tingkat kewaspadaan pengendara secara lebih akurat.

Dari sisi keselamatan, tim juga menerapkan berbagai pendekatan ilmiah seperti Heinrich's Accident Triangle, Domino Theory, Swiss Cheese Model, serta Hierarchy of Controls yang mengacu pada standar NIOSH dan ISO 45001. Keunggulan utama SADAR Helmet terletak pada kemampuannya mendeteksi kondisi kantuk secara real-time sebelum kecelakaan terjadi. Selain itu, sistem dapat dipasang pada helm standar SNI tanpa mengubah struktur utama helm. Biaya implementasinya pun dinilai lebih terjangkau dibandingkan teknologi deteksi kantuk berbasis kamera maupun electroencephalography (EEG).

Tantangan di Balik Pengembangan SADAR Helmet

Perjalanan mengembangkan inovasi ini tidak berlangsung mudah. Tim harus menyusun karya tulis ilmiah, membuat rancangan prototipe menggunakan SolidWorks dan AutoCAD, hingga melakukan validasi keamanan berdasarkan berbagai jurnal ilmiah dalam waktu yang relatif singkat.

"Prosesnya memakan banyak waktu karena kami benar-benar melakukan brainstorming berhari-hari untuk mendapatkan ide SADAR Helmet. Kebetulan kami juga sedang mengambil mata kuliah Pengembangan Produk dan Bisnis, sementara K3 menjadi salah satu objek kajian di Teknik Industri," kata Rizky.

Di tengah kesibukan perkuliahan, anggota tim membagi waktu dengan menjadwalkan sesi kerja kelompok setelah jam kuliah. Langkah tersebut dilakukan agar seluruh tahapan pengembangan dapat diselesaikan sesuai jadwal kompetisi.

Berpotensi Dikembangkan Lebih Lanjut

Ke depan, Tim iConic berharap SADAR Helmet tidak hanya menjadi karya kompetisi, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi produk yang bermanfaat bagi masyarakat luas. Mereka berencana menambahkan integrasi aplikasi mobile, GPS tracking, cloud monitoring, serta analisis berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan akurasi sistem.

Selain itu, tim juga berharap dapat menjalin kolaborasi dengan industri helm, sektor otomotif, maupun pemerintah agar inovasi tersebut dapat diproduksi dan diimplementasikan secara lebih luas di Indonesia.

"Kami belajar bahwa keberhasilan sebuah inovasi tidak hanya berasal dari ide yang bagus, tetapi juga dari proses riset yang kuat, kerja sama tim, komunikasi yang baik, dan kemampuan memahami permasalahan nyata di masyarakat," ujar Yasser.

Nah, Oppal Gengs, bagaimana menurutmu? Jika teknologi seperti SADAR Helmet benar-benar diproduksi massal, apakah kamu tertarik menggunakannya saat berkendara?