Marcha Real adalah lagu kebangsaan tanpa lirik resmi sejak awal dibuat.
Spanyol jadi satu dari cuma 4 negara di dunia dengan anthem instrumental.
Lirik sempat ada di era Franco, tapi dihapus karena identik fasisme.
Berbagai upaya bikin lirik baru selalu gagal karena keragaman budaya Spanyol.
Pernah mengamati para pemain Timnas Spanyol atau suporternya saat lagu kebangsaan mereka dimainkan? Mereka memang berdiri khidmat pas lagunya diputar, tapi mulutnya... diam saja. Nggak ada yang komat-kamit seperti suporter negara lain yang nyanyi sambil megang dada penuh haru.
Saat momen tersebut beredar di media sosial, tak sedikit orang yang menuding perihal kurangnya nasionalisme para pemain Spanyol. Padahal, faktanya jauh lebih menarik dan berakar dari sejarah panjang.
Berikut 5 fakta unik kenapa suporter dan pemain Spanyol nggak pernah nyanyi lagu kebangsaan mereka. Apa saja ya?
1. Marcha Real Emang Dari Awal Nggak Punya Lirik
Beda dari kebanyakan negara yang lagu kebangsaannya lengkap dengan syair penuh makna, Spanyol punya cerita sendiri. Marcha Real, yang secara resmi bernama Marcha Real Española, adalah lagu kebangsaan Spanyol dan merupakan satu dari hanya tiga lagu kebangsaan di dunia, bersama Bosnia-Herzegovina dan Kosovo, yang tidak memiliki lirik resmi.
Menariknya, meski banyak versi lirik pernah dibuat sepanjang sejarah, lagu ini memang tidak pernah punya lirik resmi sebagai lagu kebangsaan, berbeda dari kebanyakan negara lain.
Fakta sejarahnya lebih mencengangkan lagi. Lagu nasional Spanyol ini merupakan salah satu mars kebangsaan tertua di dunia, jadi wajar kalau tradisinya sudah mengakar kuat. Lagu kebangsaan Spanyol pertama kali tercetak dalam dokumen bertanggal 1761. Jadi Oppal Gengs, ini bukan soal males nyanyi, tapi memang dari lahirnya udah begini formatnya.
Baca Juga: Spanyol Melaju ke Final Piala Dunia 2026 Usai Kalahkan Prancis 2-1
2. Awalnya Cuma Mars Militer Buat Infanteri
Sebelum jadi simbol negara, Marcha Real ternyata punya fungsi yang jauh lebih praktis. ‘Marcha Real’ pertama kali digubah pada 1761 oleh Manuel de Espinosa de los Monteros, yang menulis melodinya sebagai mars militer untuk Infanteri Spanyol.
Jadi bayangin aja, dulu ini semacam aba-aba baris-berbaris, bukan lagu yang dirancang buat dinyanyikan rame-rame di tribun stadion.
Karena akarnya musik instrumental militer, format ini terus dipertahankan bahkan setelah statusnya naik jadi lagu kebangsaan. Berdasarkan Keputusan Kerajaan Spanyol 1560/1997, versi resmi Marcha Real saat ini adalah frasa musik sepanjang 16 bar tanpa kata, terbagi dalam dua bagian dengan pola AABB, bertangga nada B-flat mayor, tempo 76 bpm, dan berdurasi sekitar 52 detik saja.
3. Sempat Ada Lirik di Era Diktator Franco, Tapi Dihapus
Nah ini bagian sejarahnya yang cukup kelam, Oppal Gengs. Marcha Real ternyata pernah punya lirik, lho. Lirik resmi ditambahkan dan disetujui pada era diktator Jenderal Francisco Franco, dengan penulisnya adalah penyair José María Pemán selama masa Franco.
Sayangnya, lirik ini erat kaitannya dengan rezim otoriter yang menindas. Berhubung muatan lirinya sangat condong ke ideologi fasisme, lirik ini akhirnya dihapus total setelah Franco meninggal.
Pada 1978, “Marcha Real” kembali dikumandangkan tanpa lirik, dan seluruh teks era Franco resmi dihapuskan. Salah satu baris kontroversial dalam lirik itu bahkan menyerukan semangat “angkat lengan” yang identik dengan salam fasis, makanya wajar kalau Spanyol modern nggak mau lagi memakainya.
4. Terlalu Beragam Budaya, Susah Cari Lirik yang Netral
Spanyol itu bukan cuma satu identitas budaya aja, Oppal Gengs. Ada Catalan, Basque, Galicia, dan berbagai daerah otonom lain yang punya bahasa serta identitas kuat masing-masing.
Faktor keberagaman itulah yang menyebabkan sulitnya menentukan lirik untuk lagu ini karena kerap berujung kontroversi akibat dianggap nggak mewakili semua kelompok secara adil.
Pada 2008, Komite Olimpiade Spanyol sempat mencoba mencari lirik resmi, tapi sampai sekarang tak ada lirik yang disetujui secara resmi oleh pemerintah Spanyol. Salah satu alasannya, usulan lirik itu dibuka dengan frasa “Viva España” yang dianggap terlalu mengingatkan pada slogan era Franco, jadi langsung ditolak mentah-mentah oleh publik.
5. Dituduh Tidak Nasionalis
Momen ini bahkan sempat viral di media sosial saat Piala Dunia 2018, ketika publik salah paham dan menuduh pemain Spanyol “menolak” menyanyikan lagu kebangsaan mereka saat melawan Iran.
Faktanya, ini murni soal nggak adanya lirik untuk dinyanyikan, bukan soal kurangnya rasa cinta tanah air. Tradisi ini pun konsisten dipakai sampai ke ajang-ajang besar terbaru, termasuk saat La Roja tampil di berbagai turnamen internasional.
Jadi Oppal Gengs, sekarang udah kebayang kan kenapa suporter dan pemain Spanyol selalu diam pas lagu kebangsaan mereka diputar? Ini bukan soal nasionalisme yang kurang atau males hafalin lirik, tapi murni karena sejarah panjang yang penuh drama politik, mulai dari akar militer, era kelam Franco, sampai kerumitan menyatukan begitu banyak identitas budaya dalam satu bangsa.
Fenomena Marcha Real ini justru ngajarin kita satu hal penting. Kadang, cara orang menunjukkan cinta pada negaranya nggak selalu harus lewat suara yang lantang. Diam berdiri khidmat sambil menghayati melodi pun bisa jadi bentuk penghormatan yang sama dalamnya. Jadi lain kali lihat pemain Spanyol diam pas anthem, Oppal Gengs udah tahu ceritanya, ya!
Boy Nugroho