Tren liburan mulai bergeser dari wisata ramai dan itinerary padat menuju konsep slow living tourism yang lebih santai dan menenangkan.
Banyak wisatawan merasa lelah dengan over-tourism, antrean panjang, kemacetan, dan tekanan untuk mengunjungi banyak destinasi sekaligus.
Slow living saat liburan identik dengan menikmati alam, tinggal di homestay, ngobrol dengan warga lokal, hingga healing dari rutinitas kota yang hectic.
Wisatawan kini mencari deep connection melalui pengalaman personal seperti memasak makanan lokal, berkebun, naik sepeda keliling desa, dan lain-lain.
Desa dan kota kecil seperti Ubud, Penglipuran, Selo, Tetebatu, hingga Wae Rebo mulai dilirik karena menawarkan suasana tenang dan pengalaman liburan yang lebih bermakna.
OPPAL Gengs, pernah nggak sih merasa pulang liburan justru makin capek? Baru sampai rumah sudah harus menghadapi tumpukan foto, itinerary super padat, sampai rasa pegal karena hampir seharian berpindah tempat wisata. Fenomena seperti ini ternyata mulai dirasakan banyak orang, terutama generasi muda yang kini lebih ingin menikmati liburan secara santai dibanding sekadar mengejar checklist destinasi populer.
Belakangan, tren slow living tourism atau slowcation mulai ramai dibicarakan di media sosial. Banyak wisatawan memilih desa kecil, kota tenang, hingga hidden gems yang jauh dari keramaian demi mencari ketenangan. Liburan bukan lagi soal datang ke sebanyak mungkin tempat, melainkan menikmati suasana, beristirahat dari rutinitas kota, dan membangun koneksi lebih dalam terhadap lingkungan sekitar.
Liburan Sekarang Bukan Cuma Soal Checklist Tempat Wisata
Banyak wisatawan mulai merasa jenuh terhadap konsep liburan yang terlalu sibuk. Destinasi populer sering dipenuhi antrean panjang, kemacetan, hingga over-tourism yang membuat suasana liburan terasa melelahkan. Tidak sedikit orang akhirnya merasa lebih banyak menghabiskan waktu di perjalanan dibanding benar-benar menikmati momen liburan itu sendiri.
Kondisi tersebut membuat banyak orang mulai mengubah cara bepergian. Jika sebelumnya wisata identik dengan berpindah tempat secepat mungkin demi mengejar banyak destinasi, kini muncul tren menikmati perjalanan secara perlahan. Wisatawan mulai memilih tempat yang lebih tenang agar bisa menikmati suasana tanpa tekanan jadwal terlalu padat.
Muncul Tren Slow Living Tourism
Seiring berkembangnya tren slowcation, sejumlah kota kecil dan desa mulai ramai dibicarakan wisatawan karena menawarkan suasana yang lebih tenang. Kawasan seperti Tetebatu, Selo, hingga Penglipuran menjadi pilihan karena menghadirkan kombinasi alam, budaya lokal, dan ritme hidup yang lebih lambat. Wisatawan biasanya datang bukan untuk berpindah-pindah tempat, melainkan menikmati suasana desa selama beberapa hari.
Selain desa wisata populer, banyak orang juga mulai mencari hidden gems yang belum terlalu ramai wisatawan. Fenomena ini muncul karena sebagian wisatawan ingin mendapatkan pengalaman yang jauh dari kesan komersial. Tren tersebut bahkan turut dipengaruhi media sosial yang kini dipenuhi konten bertema “healing”, “escape from city”, hingga visual pedesaan yang identik dengan suasana tenang ala film My Neighbor Totoro.
Deep Connection Jadi Pengalaman Baru
Bagi banyak wisatawan, pengalaman liburan kini tidak lagi sekadar soal foto estetik atau tempat viral di media sosial. Mereka mulai mencari deep connection atau hubungan yang lebih dekat dengan budaya, alam, dan masyarakat lokal. Hal tersebut membuat aktivitas sederhana di desa justru terasa lebih bermakna dibanding agenda wisata yang terlalu padat dan ramai.
Beberapa wisatawan bahkan rela mengikuti aktivitas harian warga seperti memasak makanan tradisional, berkebun, hingga bersepeda mengelilingi desa. Ada juga yang memilih melakukan internet detox agar bisa menikmati suasana tanpa gangguan notifikasi dan media sosial. Pengalaman seperti ini dianggap memberi ketenangan sekaligus membantu orang lebih menghargai hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Pengamat pariwisata dari Universitas Andalas, Sari Lenggogeni, menyebut generasi muda kini lebih tertarik pada wisata berbasis pengalaman lokal dan keberlanjutan. Desa wisata dinilai mampu memenuhi kebutuhan tersebut karena menawarkan budaya asli yang masih terjaga dan suasana autentik yang sulit ditemukan di kota besar. Banyak wisatawan juga mulai tertarik bersepeda seperti warga lokal, menginap di rumah tradisional, hingga menikmati ritme hidup desa yang jauh lebih tenang.
Mengutip ANTARA, tingginya minat wisatawan terhadap desa wisata tidak boleh membuat pengelola mengabaikan nilai-nilai lokal yang selama ini dijaga masyarakat. Pengelola, warga, maupun wisatawan diharapkan tetap menghormati adat, kepercayaan, dan aturan setempat agar keaslian desa tetap terpelihara. Hal tersebut dianggap penting karena salah satu alasan utama wisatawan datang ke desa adalah mencari pengalaman autentik yang tidak mereka temukan di kawasan wisata modern.
Selain itu, wisatawan dari kalangan Gen Z juga mulai tertarik terhadap konsep slow living atau gaya hidup dengan ritme lebih lambat yang dianggap mampu memberi ketenangan. Pengalaman slow living biasanya dijalani dengan menetap selama sekitar satu minggu atau lebih agar wisatawan bisa benar-benar menikmati budaya dan keseharian masyarakat lokal. Pola ini berbeda dari fast tourism yang cenderung mengutamakan kunjungan singkat selama tiga hingga empat hari demi mengejar banyak destinasi sekaligus.
Slow Living Bawa Dampak Positif bagi Desa Wisata
Meningkatnya tren slow living turut membuka peluang ekonomi baru bagi desa wisata di berbagai daerah Indonesia. Sejumlah desa mulai mengembangkan konsep community-based tourism atau pariwisata berbasis masyarakat agar wisatawan bisa menikmati pengalaman lokal secara langsung. Konsep ini tidak hanya menguntungkan wisatawan, tetapi juga membantu masyarakat desa memperoleh manfaat ekonomi tanpa harus kehilangan identitas budaya mereka.
Beberapa desa wisata bahkan mulai dikenal luas karena mampu menjaga keseimbangan antara pariwisata dan keberlanjutan lingkungan. Misalnya, Wae Rebo sering dianggap sebagai contoh desa wisata yang tetap mempertahankan budaya lokal sambil mengembangkan ekowisata berbasis masyarakat. Selain itu, pengembangan desa wisata berbasis budaya dan kearifan lokal juga dinilai mampu menjaga keberlanjutan ekonomi masyarakat sekaligus melestarikan tradisi daerah.
Rekomendasi Desa dan Kota Kecil yang Cocok untuk Slow Living
Indonesia sendiri memiliki banyak desa dan kota kecil yang cocok dijadikan destinasi slow living. Kawasan pinggiran Ubud, Bali, menawarkan suasana tenang berupa hamparan sawah, kafe kecil, dan ritme hidup yang lebih santai dibanding pusat wisata Bali yang ramai. Selain itu, ada juga Penglipuran, Bali yang terkenal karena kebersihan desa dan suasana tradisional yang masih terjaga.
Di luar Bali, ada Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah yang berada di antara Gunung Merapi dan Merbabu, cocok untuk menikmati udara sejuk dan pemandangan pegunungan. Kemudian Ruteng dan Wae Rebo yang menawarkan pengalaman budaya khas Flores. Sementara itu, Kalibaru, Banyuwangi, Jawa Timur terkenal karena perkebunan dan suasana pedesaannya, Tomohon, Sulawesi Utara, memiliki udara dingin khas pegunungan, lalu Belitung Timur, Bangka Belitung dan Tetebatu, Nusa Tenggara Barat cocok bagi wisatawan yang ingin menikmati alam sambil menjauh sejenak dari keramaian kota.
Tren slow living menunjukkan bahwa cara orang menikmati liburan kini mulai berubah. Banyak wisatawan tidak lagi mengejar sebanyak mungkin destinasi dalam waktu singkat, tetapi lebih memilih perjalanan yang memberi ketenangan dan pengalaman personal. Desa kecil dan kota tenang akhirnya menjadi pelarian baru dari kehidupan urban yang semakin padat dan melelahkan.
Meski terlihat sederhana, konsep slow living ternyata mampu memberi pengalaman liburan yang lebih membekas bagi banyak orang. Selain membantu wisatawan beristirahat dari rutinitas, tren ini juga membuka peluang besar bagi desa wisata dan masyarakat lokal untuk berkembang secara berkelanjutan. Kalau OPPAL Gengs sendiri, lebih suka liburan ramai penuh itinerary atau menikmati slow living di desa kecil yang tenang?
Reyvan