Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 akan digelar di Sirkuit Mandalika, Nusa Tenggara Barat, pada 9-11 Oktober 2026. Indonesia memiliki dua wakil rider, yakni Veda Ega Pratama di kelas Moto3 dan Mario Suryo Aji di kelas Moto2, yang akan turun untuk bersaing memperebutkan podium dan yang menjadi home race (balapan kandang) bagi mereka. Keduanya merupakan pembalap binaan Honda dengan Veda membela Honda Team Asia dan Mario membela Idemitsu Honda Team Asia.
Source: Bola.net
Veda Ega Pratama: Dari Gunungkidul ke Panggung Dunia
Veda merupakan seorang pembalap yang lahir di Gunungkidul, Yogyakarta, pada 23 November 2008. Namanya mulai dikenal setelah ia mengikuti event Asia Talent Cup. Pada seri Mandalika 2021, ia tampil sebagai wildcard dan berhasil finis di urutan kedelapan pada balapan pertamanya. Setelah satu tahun, ia berhasil menang dua kali dari empat balapan di sirkuit yang sama, lalu mengunci gelar juara Asia Talent Cup pada 2023.
Langkah berikut yang ia ikuti adalah Red Bull Rookie Cup, di mana ia berhasil menjadi runner-up pada tahun 2025. Hasil balapan ini sangatlah penting karena batas usia minimum Moto3 sebenarnya 18 tahun, sementara Veda baru berusia 17 tahun. Namun, berkat bakat dan prestasi yang ia torehkan, Veda mendapat izin debut di Moto3 2026 bersama Honda Team Asia dan Zen Mitani.
Sejarah Tercipta di Brasil
Pada debutnya, Veda langsung mencetak sejarah. Pada 22 Maret 2026, ia finis di posisi ketiga di seri Moto3 Brasil dan menjadi pembalap Indonesia pertama yang naik ke podium Grand Prix. Podium keduanua meyusul pada gelaran GP Prancis. Di Jerman pada Juli, ia juga menjadi pemuncak dalam sesi latihan di Sachsenring. Setelah 15 seri, ia tercatat berada di peringkat kedelapan klasemen dengan mengumpulkan total 100 poin dan finis ke-11 pada sesi terakhir di Jepang.
Menjelang home race yang akan digelar di Indonesia, Veda tidak memasang target untuk wajib bisa podium. Ia lebih memilih pendekatan yang lebih terukur dan menganggap Mandalika sebagai kepulangannya ke sirkuit yang sudah membesarkan namanya.
Mario Suryo Aji: Berawal dari Motocross
Berbeda dengan pembalap yang satu ini, Mario Aji lahir pada 16 Maret 2004. Ia mulai menekuni dunia balap sejak usianya masih menginjak 10 tahun lewat motocross, mengikuti jejak sang ayah, Hartoto, yang juga merupakan mantan pembalap motocross nasional. Setelah lulus dari Honda Racing School pada 2016, ia mengikuti Asia Talent Cup 2018 dan finis kelima dengan satu kemenangan serta empat podium.
Pada 2019 sampai 2021, Mario memperbanyak pengalamannya di Red Bull Rookies Cup dan FIM CEV Moto3 Junior World Championship. Ia tampil sebagai pembalap tamu di satu seri Moto3 2021, lalu penuh musim di Moto3 bersama Honda Team Asia pada 2022 dan 2023, dengan hasil terbaik finis di posisi ke-12. Pada 2024 ia naik level ke Moto2 dan di Mandalika pada tahun tersebut ia finis di posisi ke-18.
Baca juga: Anak-Anak Indonesia Sumbang 61 Medali di IMSO ke-23, Enam di Antaranya Emas
Musim Ketiga yang Berat
Musim 2026 menjadi musim ketiga bagi Mario di Moto2 dan menempuh perjalanan yang tidak mudah. Ia harus menjalani operasi akibat fraktur servikal (tulang leher), absen di beberapa seri, lalu kembali di Moto2 yang akan diselenggarakan di Jerman. Pada Agustus, ia juga sempat terjatuh di kualifikasi Moto2 Inggris dan untungnya tidak ada indikasi cedera serius. Di Jepang, ia gagal finis. Kini ia berada di peringkat 27 dengan raihan tiga poin. Mario mengakui bahwa performanya mengalami grafik yang naik turun dan menegaskan, "Targetnya menyelesaikan sisa musim ini dengan performa yang baik."
Persiapan dan Dukungan Menuju Mandalika
Saat jeda musim panas, keduanya pulang lewat "Homecoming Tour Local Heroes Indonesia" di Jakarta, Bali, dan Yogyakarta. Pada 21-22 Juli, mereka berlatih di Mandalika dengan Honda CBR600RR. Di hari kedua, Veda menempuh 90 lap dan Mario 69 lap. Menjelang balapan, komunitas beserta penggemar mereka juga memberikan dukungan lewat acara makan malam yang digelar Idemitsu Lube Indonesia.
Dengan latar yang berbeda, Veda yang sedang naik daun dan Mario yang berjuang bangkit dari cederanya sama-sama menjadi harapan bagi publik Indonesia untuk bisa mendapatkan hasil maksimal di Mandalika. Apa pun hasilnya, keberadaan mereka di grid Grand Prix sudah menjadi bukti bahwa jalur pembinaan balap Indonesia mulai membuahkan hasil.
Muhammad Ichsan