Oppal Gengs, memasuki musim kemarau, risiko kebakaran hutan dan lahan atau karhutla perlu menjadi perhatian bersama. Kondisi lahan yang semakin kering membuat api lebih mudah muncul dan menyebar, terutama ketika disertai angin kencang dan minimnya curah hujan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG menyebut risiko karhutla pada 2026 meningkat seiring kondisi kemarau yang lebih kering. Puncak musim kemarau sendiri diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September di banyak wilayah Indonesia.
Jangan Sembarangan Membakar Lahan
Oppal Gengs, langkah paling penting untuk mencegah karhutla adalah tidak membakar lahan secara sembarangan.
Pembakaran untuk membersihkan kebun, membuka lahan, maupun membakar sampah bisa menjadi sumber api yang sulit dikendalikan ketika kondisi lingkungan sedang kering.
Daripada menggunakan api, masyarakat dapat membersihkan lahan secara manual atau memanfaatkan sisa tanaman sebagai kompos dan mulsa. Pengelolaan sampah juga sebaiknya dilakukan tanpa pembakaran terbuka.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan turut mendorong pembukaan lahan dengan cara tanpa membakar sebagai salah satu upaya mengurangi risiko karhutla.
Baca juga: Hewan Endemik Ini Terancam Punah Akibat Karhutla Kalimantan
7 Cara Mencegah Kebakaran Lahan Saat Kemarau
Nah, selain menghindari pembakaran terbuka, ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan masyarakat untuk mencegah kebakaran lahan.
1. Hindari Membakar Lahan dan Sampah
Jangan membakar lahan, kebun, atau sampah, terutama ketika cuaca sedang panas dan angin bertiup kencang. Api yang awalnya kecil dapat dengan cepat merambat ke vegetasi kering di sekitarnya.
2. Bersihkan Bahan yang Mudah Terbakar
Periksa area sekitar rumah, kebun, dan lahan secara berkala. Singkirkan bahan-bahan kering yang mudah terbakar dengan cara yang aman.
Langkah sederhana ini dapat membantu mengurangi bahan bakar apabila sewaktu-waktu muncul sumber api.
3. Jangan Tinggalkan Api atau Bara
Buat kamu yang sedang memasak atau melakukan aktivitas di luar ruangan, pastikan api benar-benar padam sebelum meninggalkan lokasi.
Jangan meninggalkan bara dari aktivitas memasak, pembakaran, maupun sumber api lainnya tanpa pengawasan.
4. Siapkan Sumber Air dan Peralatan Sederhana
Masyarakat yang tinggal di wilayah rawan kebakaran sebaiknya memiliki sumber air dan peralatan sederhana yang dapat digunakan untuk penanganan awal.
Misalnya ember, selang, atau alat pemadam yang sesuai. Namun, peralatan tersebut hanya untuk penanganan awal terhadap api yang masih kecil dan aman ditangani. Jika api sudah membesar, jangan mengambil risiko memadamkannya seorang diri.
5. Pantau Cuaca dan Kondisi Kekeringan
Sebelum melakukan aktivitas di lahan, jangan lupa memantau informasi cuaca dari sumber resmi BMKG. Informasi mengenai kondisi kekeringan dan potensi bahan bakar mudah terbakar dapat membantu masyarakat mengetahui kapan risiko kebakaran sedang meningkat.
Dengan begitu, aktivitas yang berpotensi memunculkan api dapat dihindari atau dilakukan dengan kewaspadaan lebih tinggi.
6. Lakukan Patroli dan Deteksi Dini
Pencegahan karhutla akan lebih efektif jika dilakukan bersama-sama. Masyarakat dapat membentuk atau memperkuat kelompok yang melakukan patroli dan pemantauan lingkungan, terutama di wilayah yang memiliki lahan gambut, semak belukar, perkebunan, maupun kawasan hutan.
Deteksi dini sangat penting karena api yang diketahui sejak awal umumnya lebih mudah dikendalikan sebelum meluas.
Pemerintah juga mendorong penguatan patroli terpadu, pemantauan hotspot, pembasahan lahan gambut, serta pembangunan sekat kanal di kawasan yang rentan kebakaran.
7. Segera Laporkan Jika Menemukan Asap atau Titik Api
Oppal Gengs, kalau menemukan asap, titik api, atau indikasi kebakaran, jangan langsung nekat mencoba memadamkan api yang sudah membesar seorang diri.
Segera laporkan kepada aparat desa, petugas pemadam kebakaran, BPBD, atau pihak berwenang agar penanganan bisa dilakukan secepat mungkin.
Semakin cepat kebakaran diketahui dan dilaporkan, semakin besar peluang api ditangani sebelum menyebar ke area yang lebih luas.
Waspadai Wilayah yang Rentan Karhutla
Risiko kebakaran perlu mendapat perhatian lebih di wilayah dengan kondisi lahan yang mudah terbakar, seperti lahan gambut, semak belukar, perkebunan, dan kawasan hutan.
Pada musim kemarau, vegetasi yang mengering dapat menjadi bahan bakar ketika terkena sumber api. Kondisi angin dan rendahnya curah hujan juga dapat membuat api lebih cepat menyebar.
Karena itu, masyarakat yang tinggal atau beraktivitas di wilayah tersebut perlu lebih aktif melakukan pemantauan dan menghindari kegiatan yang berpotensi memicu kebakaran.
Baca juga: Menembus Pekat Asap Kalbar: Ketika Langkah Presiden Bertemu Jerit Tanah yang Terbakar
Jangan Sepelekan Puntung Rokok
Selain pembakaran lahan dan sampah, sumber api kecil seperti puntung rokok juga tidak boleh dianggap remeh.
Jangan membuang puntung rokok sembarangan, khususnya di area yang dipenuhi rumput, daun kering, semak, atau bahan mudah terbakar.
Pastikan puntung benar-benar padam sebelum dibuang dan jangan meninggalkan sumber api maupun bara di area terbuka.
Yang Perlu Dilakukan Saat Menemukan Kebakaran
Jika melihat asap tebal, titik api, atau indikasi kebakaran, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
Segera laporkan kepada aparat desa, BPBD, pemadam kebakaran, atau pihak berwenang.
Berikan informasi lokasi sejelas mungkin agar petugas lebih mudah melakukan penanganan.
Jangan mencoba mendekati atau memadamkan api yang sudah membesar seorang diri.
Jauhkan diri dari area yang berisiko terkena asap dan api.
Jika berada di kawasan rawan, ikuti arahan petugas dan informasi resmi terkait kondisi kebakaran.
Pencegahan karhutla pada akhirnya bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah maupun petugas pemadam kebakaran.
Kebiasaan sederhana seperti tidak membakar sampah dan lahan, tidak membuang puntung rokok sembarangan, menjaga area sekitar tetap bersih, serta aktif memantau kondisi lingkungan dapat membantu mengurangi potensi kebakaran.
Memasuki puncak musim kemarau yang diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September di banyak wilayah Indonesia, kewaspadaan perlu ditingkatkan. Jangan tunggu sampai api membesar untuk bertindak.
Dengan pencegahan, deteksi dini, dan kerja sama masyarakat, risiko karhutla dapat ditekan sehingga kualitas udara, lingkungan, lahan pertanian, dan kesehatan masyarakat tetap terjaga.
Naufal Mamduh