Menembus Pekat Asap Kalbar: Ketika Langkah Presiden Bertemu Jerit Tanah yang Terbakar

  • Arief Novrianto


Bulan Agustus menjadi menjadi bulan yang membara bagi masyarakat Kalimantan Barat, karena kabut asap yang lumayan tebal menjadikan masyarakat kesulitan dalam beraktivitas. Napas yang sesak dan mata yang perih dikarenakan beberapa oknum yang tidak bertanggung jawab atas pembakaran lahan.

Kejadian terus berlangsung setiap tahunnya, ini sudah dianggap seperti rutinitas oleh masyarakat. Tidak mudah untuk menghadapinya, sehingga banyak unit dari pemerintahan yang berupaya untuk menghetikan pembakaran hutan ini. Namun karena kondisi polusi yang semakin parah menyebabkan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, turun langsung untuk meninjau sekaligus melakukan diskusi bersama dengan beberapa dinas terkait.

Berapa banyak titik panas di Kalimantan Barat

Berdasarkan Kasatgas Informasi Bencana BPBD Kalbar yang dilansir dari detikKalimantan , mengungkapkan bahwa Ketapang menjadi wilayah dengan sebaran hotspot tertinggi, yakni mencapai 1.795 titik, termasuk 81 titik dengan tingkat kepercayaan tinggi. Ini yang menjadikan Kalimantan Barat masih dalam waspada tinggi. Hal ini diperkuat lagi dari BMKG yang mengatakan bahwa terdapat 3.759 titik panas per tanggal 20 Agustus 2026.

Adapun beberapa area yang memiliki titik panas selain Ketapang adalah Kubu Raya 254 titik, Sanggau 466 titik, Landak 268 titik, Melawi 190 titik dan Kayong Utara 200 titik. Banyak titik panas ini menjadikan Presiden Prabowo langsung turun ke lapangan untuk melihat kondisi lapangan, melihat kebutuhan masyarakat dan melakukan rapat untuk mengambil tindakan agar kebakaran ini tidak semakin berlarut-larut.

Baca juga : Asap Kebakaran Hutan di Kalimantan Berdampak Sampai ke Malaysia, dan Titiknya Masih Terus Meluas

Kunjungan Presiden ke Kalimantan Barat

Pada tanggal 22 Agustus 2026 kemarin Bapak Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto langsung mendatangi area pembakaran di Kabupaten Kubu Raya untuk melihat kerusakan hutan yang terjadi. 

Photo Source : Eva Safitri/detikcom


Prabowo tidak hanya sendiri ketika sedang melakukan pemantauan, terlihat yang mendampingi adalah Seskab Teddy Indra Wijaya,Mensesneg Prasetyo Hadi, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, serta Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto. Namun ada pemandangan yang tidak biasa terlihat. Baik dari Prabowo dan rombongannya tersebut tidak mengenakan masker, mereka menelusuri Desa Limbung, Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya.


Terlihat banyak pejabat daerah setempat yang memberikan laporan kepada Prabowo, selain itu ada juga pemandangan beberapa petugas yang masih bertugas untuk memadamkan api yang masih menyebabkan kabut.


Tidak hanya sekedar pemantauan saja


Selama melakukan kunjungan ke Kalimantan Barat, Prabowo tidak hanya datang untuk melihat langsung area kebakaran tetapi juga melakukan rapat juga dengan pemerintah setempat. Jadi sebelum melakukan pemantauan ke lapangan langsung, pada saat tiba di bandara Supadio, Prabowo langsung mengadakan rapat.


Prabowo ingin mendengarkan secara langsung laporan terkait karhutla dan apa saja yang sudah dilakukan oleh pemerintah daerah dalam menanggulanginya. Salah satu pejabat yang memberikan laporan adalah Tenaga Ahli Kepala BNPB Brigjen Purnawirawan Asrianus Bulo. Asrianus memberikan laporan data satelit 24 jam terakhir, bahwa terdapat 198 titik api dengan tingkat tinggi.


Baca juga : Tragedi Satwa Endemik: Kehilangan Habitat dan Ancaman Kepunahan Akibat Bara Karhutla


Penanggulangan Pemerintah Daerah


Perlu dipahami juga bahwa selama ini pemerintah daerah, pada sebelum kedatangan Presiden sudah melakukan berbagai cara penanggulangan karhutla ini. Pemerintah mengerahkan beberapa armada helikopter bombing untuk memadam beberapa titik panas yang tersebar seperti di Kubu Raya, Ketapang hingga sambas.


Selain itu juga telah dilakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), dimana telah dilakukan penyemaian sekitar 9.000 kilogram dari total 10.000 kilogram bahan semai yang disiapkan menggunakan pesawat Cessna Grand Caravan 208B.


Sudah banyak hal yang dianggap perlu dilakukan untuk mengurangi polutan yang bisa menyebabkan gangguan pada bagian pernapasan. Sebagai contohnya saja di Kabupaten Kubu Raya, salah satu kabupaten terdekat dengan Pontianak, konsentrasi PM2.5 telah mencapai 254,1 mikrogram per meter kubik.


Sedikit informasi saja kalau konsentrasi PM2.5 adalah jumlah atau kadar partikel halus padat maupun cair yang melayang di udara dengan ukuran diameter 2,5 mikrometer.


Selain itu di kabupaten Mempawah, tepatnya di Jongkat, konsentrasi PM2.5 sudah masuk kategori tidak sehat dengan per meter kubiknya adalah 148,8 mikrogram. Inilah yang menjadikan kekhawatiran bersama, dimana kondisi udara yang diakibatkan oleh pembakaran hutan bisa menyebabkan banyak masalah kesehatan, terutama pada bagian pernapasan.