7 Momen Ikonik yang Mewarnai Demo 28 Oktober di Bundaran HI

  • Muhammad Ichsan

Penyelenggaraan demo yang bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda pada Rabu, 28 Oktober 2026, ribuan mahasiswa dan elemen masyarakat memadati kawasan Bundaran HI , Jakarta Pusat, dalam aksi #IndonesiaSadar. Aksi yang digagas oleh BEM UI dan Komite Selamatkan Daulat Rakyat (SADAR) itu merupakan lanjutan demo 20 Oktober, dengan lima tuntutan: penetapan status bencana nasional untuk karhutla, APBN untuk kepentingan rakyat, penurunan biaya pendidikan, pemberantasan KKN, serta penghentian militerisasi ruang sipil. Berikut ini momen yang paling mencuri perhatian selama demo berlangsung.



1. Sebagian Massa Berhasil Tembus ke Bundaran HI

Polisi sempat melakukan pembatasan dan melarang massa untuk melakukan aksi di Bundaran HI dengan alasan kawasan tersebut merupakan pusat pemerintahan dan perekonomian serta banyak kedutaan di sekitarnya. Meski ditahan oleh barikade yang berada di depan Gedung UOB, sebagian massa akhirnya berhasil masuk dan mencapai area air mancur sekitar pukul 14.30 WIB dan akhirnya melakukan orasi.



2. Angkot Jadi Kunci Mobilitas 

Pada aksi kali ini, kendaraan umum menjadi senjata utama bagi mahasiswa. Menurut Radar TV, 79 angkot dan 18 minibus dikerahkan untuk mengangkut peserta. Angkot yang dipakai berasal dari trayek seperti Pinang Ranti-Depok dan Pasar Rebo-Lenteng Agung. Saat akses dibarikade, sebagian peserta berpencar lewat jalan lain untuk menembus lokasi.


3. Ibu-Ibu Buka Posko Logistik

Aliansi ibu-ibu mendirikan posko yang menyediakan makanan ringan, roti, buah, dan air mineral gratis. Seorang relawan, Nada, menyebut kehadiran mereka murni “organik”, tidak dipaksa atau ditunggangi sesuatu; mereka datang untuk mendukung mahasiswa dan masyarakat. Posko lain didirikan Jakarta M3nyala sejak pukul 11.00 WIB, dan sempat ada kelompok perempuan menyanyikan “Tanah Airku” dengan tangan terangkat.


Baca juga: Semangat Sumpah Pemuda di Era Sekarang: Dari Ikrar 1928 hingga Prestasi Anak Muda Indonesia


4. Salam Tiga Jari dan Nyanyian Kebangsaan

Massa mengangkat tangan dan memberikan salam tiga jari, yakni telunjuk, jari tengah, dan jari manis, di tengah aksi. Simbol itu hadir berdampingan dengan nyanyian lagu kebangsaan yang dinyanyikan para ibu, menandai nuansa Sumpah Pemuda dalam aksi tersebut. Makna dari tiga jari ini melambangkan simbol perlawanan dan solidaritas, gestur yang mengungkapkan rasa kemarahan, kekecewaan, serta perlawanan terhadap ketidakadilan atau kekuasaan yang dianggap menekan.


5. Banner Seruan “All Eyes on Karhutla” Dibentangkan

Isu karhutla menjadi salah satu pesan penting yang juga disampaikan massa pada aksi 28 Oktober. Serikat Mahasiswa Bogor Raya menyerukan aksi dengan tagar #AllEyesOnKarhutla, sementara di lapangan terbentang spanduk bertuliskan “Hutan Bukan Milik Oligarki, Alam Harus Dilindungi, Perusak Harus Diadili”. Ada pula poster yang menyindir pejabat yang berpesta saat asap menyelimuti.


6. Peserta Aksi Melakukan Shalat Berjamaah di Tengah Kerumunan

Momen yang juga menjadi sorotan, sejumlah peserta demonstrasi yang berada di Bundaran HI melakukan salat Maghrib berjamaah pada Rabu (28/10/2026). Banyak peserta dan juga masyarakat yang merekam, mendokumentasikan, dan menyebarkannya di media sosial saat massa mengikuti demo dengan seruan #IndonesiaSadar. Momen ini menunjukkan bagaimana nuansa keagamaan tetap terjaga walaupun kondisi sedang carut-marut. 


7. Salib Merah Besar Dipikul PMKRI

Lambang salib merah yang berukuran cukup besar juga menjadi salah satu momen ikonik. Salib tersebut dibawa oleh Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) sepanjang jalan. JPNN menyebut kehadiran salib dalam demo mahasiswa sebagai hal yang tak biasa, dan memaknainya sebagai simbol penderitaan, solidaritas, serta harapan akan keadilan.


Pengamanan dan Respons Petugas 

Menurut Polda Metro Jaya, ada 53 aksi penyampaian aspirasi di Jakarta pada hari itu, dengan 14.324 petugas gabungan diterjunkan. Bakom menyebut lima tuntutan tersebut bagian dari kebijakan pemerintah. Pada malam hari, massa yang bertahan sempat menyalakan flare, dan Kapolda Metro menemui massa saat hujan deras. Aksi kemudian bubar dan jalan di sekitar Bundaran HI kembali dibuka.

Penutup

Dari angkot hingga posko ibu-ibu, aksi 28 Oktober memperlihatkan beragam elemen masyarakat yang bersatu di momentum Sumpah Pemuda. Semoga negara kita selalu dalam lindungan Tuhan dan aman sentosa.