Gubernur BI Perry Warjiyo, didampingi Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti mengumumkan kenaikan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen. Ini bukan kenaikan pertama dalam sebulan terakhir. Bahkan dalam rentang waktu yang relatif singkat sejak Mei 2026, suku bunga acuan Indonesia telah terkerek hingga 100 basis poin secara kumulatif.
Bagi banyak orang awam, kenaikan suku bunga terdengar seperti berita buruk, cicilan kredit makin mahal, dunia usaha makin berat menanggung beban pinjaman, tapi di balik keputusan itu, ada rangkaian pertimbangan yang saling terkait. Mulai dari gejolak di pasar uang global, ketegangan geopolitik, hingga upaya menjaga agar uang yang dipegang masyarakat Indonesia tidak tergerus nilainya..
Rupiah yang Harus Dijaga
Alasan paling sering diucapkan pejabat BI dalam beberapa bulan terakhir adalah satu kata, yakni stabilitas. Penjelasannya sederhana namun krusial, di mana ketika suku bunga acuan dinaikkan, instrumen investasi berbasis rupiah, termasuk Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menjadi lebih menarik bagi investor asing. Imbal hasil yang lebih tinggi membuat dana asing betah parkir di Indonesia, bukannya kabur mencari keuntungan di tempat lain.
Strategi ini, tampaknya membuahkan hasil. Pada 17 Juni 2026, rupiah tercatat menguat 0,76 persen dibandingkan akhir Mei, berada di kisaran Rp17.730 per dolar AS. BI meyakini penguatan ini adalah buah dari kombinasi kenaikan suku bunga, intervensi aktif di pasar valuta asing, dan optimalisasi instrumen SRBI yang membuat investasi portofolio asing kembali mengalir deras ke pasar keuangan domestik.
Bayang-bayang The Fed
Indonesia tidak bergerak sendirian di tengah lautan ekonomi global. Salah satu pertimbangan besar BI adalah arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Bank sentral AS, The Fed, diperkirakan masih akan mempertahankan sikap ketat di tengah inflasi domestik AS yang belum sepenuhnya jinak. BI mencermati betul peluang kenaikan Fed Funds Rate, karena setiap pergerakan suku bunga AS punya efek riak ke seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Yang membuat situasi makin menantang, imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) juga bertahan di level tinggi sekitar 4,49 persen untuk tenor 10 tahun dan 4,18 persen untuk tenor dua tahun per pertengahan Juni 2026. Selama imbal hasil aset-aset "aman" di negara maju tetap menggiurkan, arus modal global cenderung mengalir ke sana, meninggalkan negara berkembang seperti Indonesia dengan tekanan tambahan terhadap mata uangnya. Dalam situasi seperti ini, menaikkan BI Rate menjadi semacam tawaran balasan agar investor tetap melirik aset rupiah.
Gejolak Timur Tengah
Faktor lain yang turut memicu kenaikan suku bunga acuan beberapa pekan sebelumnya adalah eskalasi konflik di Timur Tengah. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Deny Prakoso, secara eksplisit menyebut bahwa kenaikan BI Rate saat itu merupakan langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi rupiah dari dampak gejolak global akibat perang di kawasan tersebut.
Ketegangan geopolitik semacam ini biasanya memicu investor global untuk menarik diri dari aset berisiko dan berlari ke instrumen yang dianggap lebih aman, sebuah pola klasik yang disebut "flight to safety". Indonesia, sebagai bagian dari pasar negara berkembang, ikut terkena imbasnya.
Inflasi Global yang Diproyeksikan Naik
BI juga memperhitungkan proyeksi makroekonomi global yang kurang menggembirakan. Pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 diperkirakan hanya sekitar 3 persen, sementara inflasi global justru diproyeksikan naik menjadi sekitar 4,4 persen. Kombinasi pertumbuhan yang melambat namun inflasi yang meningkat menciptakan tekanan ganda bagi bank-bank sentral di seluruh dunia, termasuk BI, untuk tetap waspada.
Di luar urusan nilai tukar, Gubernur Perry Warjiyo berulang kali menekankan pre-emptive. Artinya, BI tidak menunggu inflasi benar-benar melonjak baru bertindak, melainkan mengambil langkah lebih dulu agar laju kenaikan harga pada 2026 dan 2027 tetap berada dalam kisaran sasaran pemerintah, yaitu 2,5 persen plus-minus 1 persen.
Pada akhirnya, keputusan menaikkan BI Rate adalah pilihan yang tidak pernah bebas dari trade-off. Suku bunga tinggi memang membuat rupiah lebih kuat dan investor asing lebih betah menanam modal di instrumen domestik, tapi di sisi lain juga membuat biaya pinjaman bagi dunia usaha dan masyarakat ikut naik, yang berpotensi menahan laju pertumbuhan ekonomi domestik
Saifan Zaking