Andien Kembali Muda Lewat Sehidup Semusik

  • Attaya Salsabila
  • Album studio pertama Andien setelah hampir 16 tahun.

  • Kolaborasi dengan 11 produser lintas genre dan generasi.

  • Eksplorasi musikal baru tanpa meninggalkan identitas khas Andien.

  • Album personal yang merangkum cerita tentang keluarga, pasangan, dan musik.


Sumber: Instagram/@andien


Hampir 16 tahun setelah album terakhirnya, Andien akhirnya kembali lewat Sehidup Semusik. Di album terbarunya, Sehidup Semusik menjadi ruang baru bagi Andien untuk bereksplorasi, tanpa meninggalkan identitas yang telah melekat dalam perjalanan bermusiknya selama lebih dari dua dekade.

Penantian panjang tersebut seolah terbayar lewat album yang tidak hanya menawarkan warna baru, tetapi juga memperlihatkan bagaimana Andien terus berkembang sebagai musisi yang tetap terbuka terhadap berbagai eksplorasi, kolaborasi, dan pendekatan musikal yang lebih beragam. Semangat itu bukan hanya terlihat dari gaya penampilannya yang belakangan tampil lebih nyentrik. Di album ini, Andien juga terdengar lebih lepas dalam mengeksplorasi berbagai warna musik.

Meski menawarkan banyak hal baru, perubahan tersebut tidak terasa sebagai upaya mengikuti tren. Sebaliknya, semuanya mengalir secara alami, seolah menjadi kelanjutan dari perjalanan musik yang selama ini ia bangun.

Kolaborasi Lintas Genre dan Generasi

Berisi 13 lagu, Sehidup Semusik mempertemukan Andien dengan deretan produser dari lintas genre dan generasi. Mulai dari Kareem Soenharjo, Laleilmanino, Kenny Gabriel, Swugafunk, Abenk Alter, Mohammad Kamga, Lafa Pratomo, Kevin Queency, Nikita Dompas, Restha Wirananda, hingga Dipha Barus.

Kolaborasi dengan banyak produser membuat Sehidup Semusik terasa seperti sebuah mixtape. Album ini melintasi beragam warna musik, mulai dari synth-pop, elektronik, jazz, hingga pop R&B, tetapi tetap terdengar sebagai satu kesatuan. Di tengah beragam eksplorasi tersebut, karakter vokal Andien tetap menjadi benang merah yang menghubungkan setiap trek.

Nuansa baru dalam Sehidup Semusik juga hadir lewat cara Andien mengemas albumnya. Mulai dari cover album yang menyerupai siluet sepatu tabi hingga pemilihan judul lagu seperti Nonchalant dan Sentil Kalau Nakal, semuanya memberi sentuhan yang lebih kontemporer. Detail-detail tersebut membuat album ini terasa lebih segar tanpa menghilangkan ciri khas bermusik Andien.

Baca Juga: G-Dragon Resmi Ditunjuk Sebagai Duta Kehormatan Komite Warisan Dunia UNESCO

Tetap Akrab bagi Pendengar Lama

Bagi pendengar lama, Sehidup Semusik juga menyimpan momen yang terasa familier. Kehadiran Intro dan Nonchalant mengingatkan pada pendekatan serupa yang pernah digunakan Andien melalui skit track di album Kinanti. Bukan sekadar menjadi selingan, dua trek tersebut ikut membangun alur cerita album sekaligus menjadi benang merah yang menghubungkan Sehidup Semusik dengan salah satu fase penting dalam diskografi Andien.

Album yang Terasa Personal

Di balik eksplorasi musik dan kolaborasi yang mewarnai Sehidup Semusik, Andien juga menyelipkan cerita yang jauh lebih personal. Menariknya, pendekatan musik yang terasa lebih segar justru dibarengi dengan kisah yang berangkat dari fase hidupnya saat ini.

Hal itu mulai terlihat sejak Intro yang dibuka lewat suara dua buah hatinya, Kawa dan Tabi. Dari sana, cerita bergulir menuju beberapa lagu yang mengangkat perjalanan cintanya bersama sang suami, Irfan Wahyudi, atau yang akrab disapa Ippe, sebelum akhirnya bermuara pada Sehidup Semusik. Sebagai lagu penutup, trek tersebut terasa seperti merangkum perjalanan yang dibangun sejak awal album, yaitu tentang keluarga, pasangan, dan musik yang berjalan beriringan dalam fase hidup Andien saat ini.

Baca Juga: Tips Jaga Kesehatan Meski Suka Begadang Nonton Piala Dunia

Ruang Baru untuk Andien

Sebagai sebuah album, Sehidup Semusik lebih terasa ketika didengarkan dari awal hingga akhir. Setiap trek memiliki perannya masing-masing dalam membangun cerita, sehingga perpindahan antarlagu ikut membentuk pengalaman mendengarkan yang utuh. Dari situlah Sehidup Semusik tidak hanya hadir sebagai kumpulan lagu, tetapi juga sebagai perjalanan yang disusun dengan alur yang jelas.

Di antara 13 lagu yang ada, Naksir, Jatuh Pelan, dan Sehidup Semusik menjadi tiga trek yang paling menonjol. Ketiganya memberi gambaran tentang arah musikal yang dibawa Andien dalam album ini, sekaligus menunjukkan bagaimana ia memberi ruang bagi dirinya untuk mencoba banyak hal tanpa kehilangan identitas musikalnya.

Alih-alih menghadirkan sosok Andien yang benar-benar baru, Sehidup Semusik justru memperlihatkan seorang Andien sebagai musisi yang berani mengeksplorasi berbagai kemungkinan. Album ini seakan menjadi fase baru dalam perjalanan bermusiknya, ketika berbagai eksplorasi menyatu dengan identitas yang telah lama ia bangun, tanpa menghilangkan karakter yang membuat musiknya tetap mudah dikenali hingga hari ini.

Baca Juga: Komdigi: Komentar Spam Judol di Medsos Manfaatkan Euforia Piala Dunia. Hati-Hati Gengs!