Erupsi Anak Krakatau yang terjadi secara beruntun di awal September 2026 ini mengakibatkan tersebarnya abu vulkanik hingga ke wilayah Jabodetabek. Warga Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi mendapati kendaraan mereka tertutup dengan lapisan debu yang cukup banyak, bahkan Pemprov DKI mengumumkan untuk melakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) mulai 7 September 2026 demi menjaga kesehatan siswa dan guru.
Lantas mengapa abu vulkanik ini sangat dihindari oleh berbagai pihak? Sebenarnya, apa kandungan yang terdapat pada abu vulkanik dan bagaimana efeknya terhadap kesehatan tubuh manusia?
Mengandung Campuran Mineral, Bebatuan, dan Kaca
Direktur Pascasarjana Universitas YARSI sekaligus Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Prof. Tjandra Yoga Aditama, menjelaskan bahwa karakteristik dari abu vulkanik sangat berbeda dengan abu yang biasa kita temui di jalanan. "Abu vulkanik adalah campuran dari mineral, bebatuan, dan partikel kaca yang keluar waktu letusan gunung berapi," kata Tjandra.
Secara lebih rinci, abu vulkanik terdiri dari pecahan batuan, mineral, dan kaca vulkanik yang berukuran tidak lebih dari dua milimeter. Kandungan unsur yang paling umum di dalamnya meliputi natrium, kalsium, kalium, magnesium, fluorida, sulfat, dan klorida. Bahan-bahan ini memiliki sifat yang asam, sehingga dapat mengakibatkan kerusakan atau iritasi pada benda atau tubuh yang terpapar.
Kandungan Silika yang Jadi Perhatian Utama
Salah satu unsur yang paling disorot dalam kandungan abu vulkanik adalah silika. Menurut anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Daryono, bahaya abu vulkanik tidak hanya berasal dari ukurannya yang sangat kecil, tetapi juga dari sifat fisik dan kandungan kimia yang berada di dalamnya. Sebagian dari abu vulkanik mengandung mineral kuarsa, kristobalit, atau tridimit, yang juga merupakan bentuk kristal silika bebas atau silikon dioksida (SiO2).
Apabila terkena paparan silika dengan jumlah tertentu dalam jangka waktu yang lama, hal ini dapat menimbulkan gangguan pada paru-paru yang cukup serius, bahkan berpotensi memicu silikosis, yaitu kondisi di mana debu silika yang terhirup memicu peradangan serta pembentukan jaringan parut di paru-paru. Walaupun begitu, bukan berarti setiap paparan abu vulkanik akan otomatis menyebabkan silikosis, karena risikonya lebih terkait dengan konsentrasi silika serta lama dan intensitas paparan yang terjadi secara terus-menerus selama bertahun-tahun.
Sifatnya yang Keras dan Tidak Larut Air
Selain kandungan kimianya yang berbahaya, abu vulkanik juga bersifat keras, abrasif, atau mengikis, dan tidak mudah larut dalam air. Karakteristik inilah yang membuat abu vulkanik dapat berdampak buruk terhadap kesehatan apabila terhirup melalui indra pernapasan dan masuk ke dalam tubuh. Partikel-partikel yang terkandung bisa tersangkut dan mengendap di dalam saluran pernapasan.
Baca juga: Stay Safe! Ini Cara Melindungi Diri dari Abu Vulkanik Erupsi Gunung Krakatau
Dampak Bagi Kesehatan Pernapasan
Dalam jangka pendek, partikel abu vulkanik dapat mengakibatkan iritasi pada hidung dan juga tenggorokan, serta dapat memicu batuk, hidung berair, pilek, dan rasa tidak nyaman ketika bernapas. Jika terpapar cukup tinggi, gejala seperti rasa tidak nyaman di dada dan batuk bahkan bisa dialami oleh orang yang sebelumnya berada dalam kondisi sehat.
Apabila terhirup lebih dalam, abu vulkanik berpotensi mengakibatkan gejala bronkitis akut seperti batuk kering, produksi dahak berlebih, mengi, hingga merasa sesak napas. Kelompok yang paling rentan jika mengalami dampak seperti ini adalah anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit paru seperti asma, bronkitis, dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
Efek Abu Vulkanik pada Kesehatan Mata, Kulit, dan Pencernaan
Selain mengganggu sistem pernapasan, paparan abu vulkanik ini juga dapat menyebabkan iritasi pada mata dan kulit. Jika abunya sampai mencemari makanan dan air minum yang biasa kita konsumsi, lalu tertelan secara tidak sengaja, bisa mengakibatkan rasa mual, muntah, dan nyeri perut.
Masker Biasa Belum Tentu Cukup
Penting bagi masyarakat untuk memperhatikan pemilihan masker yang tepat saat situasi seperti ini. Karena ukuran abu vulkanik yang sangat halus, masker biasa atau masker kain tidak bisa memberikan perlindungan optimal. Daryono, yang juga menjabat sebagai Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, menganjurkan penggunaan masker dengan kemampuan filtrasi lebih tinggi, seperti masker N95, guna menyaring partikel abu secara lebih efektif.
Langkah Antisipasi bagi Masyarakat
Masyarakat yang berada di wilayah terdampak diimbau untuk menghindari aktivitas outdoor karena partikel-partikel dari abu vulkanik masih berterbangan di udara luar, termasuk saat membersihkan abu dari rumah maupun dari kendaraan. Jika mengalami keluhan pernapasan dan mengalami iritasi mata yang menganggu, sebaiknya segera lakukan konsultasi dengan dokter agar mendapatkan penanganan yang tepat, terutama bagi kelompok yang rentan dan berisiko mengalami dampak yang lebih serius akibat paparan abu vulkanik.
Muhammad Ichsan