Cetak Sejarah Baru! Fakta Menarik Como 1907, Klub Milik Orang Indonesia yang Debut di Liga Champions

  • Muhammad Arsyad

Como 1907 mencatatkan debut fenomenal di Liga Champions Eropa musim 2026/27. Betapa tidak? Mereka mengalahkan RB Leipzig dengan skor telak 4-1. Ya, Leipzig, klub yang udah sering bermain di Liga Champions. Kemenangan atas klub Jerman itu membuat Como jadi satu-satunya tim Italia yang menang di pekan pertama Liga Champions musim ini.


AS Roma, Inter, Napoli, semuanya gagal memetik kemenangan. Tidak cuma menjadi satu-satunya wakil Italia yang menang di matchday pertama, Como 1907 juga menjadi satu-satunya debutan yang memetik kemenangan di laga pertama Liga Champions. Seperti apa sih klub Italia yang satu ini? Kok bisa sengeri itu? Inilah fakta menarik Como 1907.


Memulai dari Serie D


Como 1907 bukan tim yang udah lama bertengger di Serie A atau kasta tertinggi Italia. Justru mereka merangkak dari posisi terendah, yakni Serie D atau kasta keempat Italia. Hal itu dimulai ketika klub berjuluk I Lariani itu terdegradasi dari Serie B pada tahun 2016. Como lalu bangkrut dan tidak diizinkan untuk berkompetisi.


Mereka harus memulai dari Serie D pada musim 2017/18. Singkat cerita, di tahun 2019, SENT Entertainment, sebuah perusahaan hiburan bagian dari Grup Djarum mengakuisisi klub ini. Benar, ini Grup Djarum milik Hartono Bersaudara, pengusaha asal Indonesia. Apa yang terjadi berikutnya?


Sejak dibeli Grup Djarum pada 2019 dengan nominal “hanya” 850 ribu euro atau sekitar Rp12-14 miliar kala itu, I Lariani mengalami peningkatan yang signifikan. Mereka pelan-pelan naik kasta. Awalnya promosi ke Serie C, juara Serie C, promosi ke Serie B, lalu akhirnya kembali ke Serie A pada 2024 setelah menanti selama 21 tahun.


Menariknya, baru dua musim di Serie A, Como langsung lolos ke Liga Champions. Pada musim 2025/26, I Lariani berhasil finis di peringkat empat Serie A, mengalahkan klub-klub raksasa macam Milan dan Juventus. Dengan kata lain, Como 1907 hanya butuh waktu tujuh tahun untuk lolos ke Liga Champions dari kasta keempat.


Baca juga: Como Cetak Sejarah Lolos ke Liga Champions, Klub Milik Konglomerat Indonesia Jadi Sorotan


Orang Indonesia di Balik Como 1907


Seperti yang tadi disebut, Como 1907 diakuisisi oleh Grup Djarum melalui SENT Entertainment. Artinya, Como dimiliki oleh orang Indonesia, Hartono Bersaudara. Tapi ada hal yang menarik dari struktur kepemilikan Como. Jadi, bukan hanya Grup Djarum yang memiliki saham di sana.

Dua nama beken di dunia sepak bola yang kebetulan sama-sama mantan pemain Arsenal, Thierry Henry dan Cesc Fabregas juga memiliki saham minoritas klub tersebut. Dan yang menariknya lagi, SENT Entertainment ternyata perusahaan yang berbasis di Inggris.

Orang Indonesia di Como 1907 juga bukan cuma si pemilik. Orang yang cukup penting dan sangat berpengaruh di balik proyek klub ini juga berasal dari Indonesia. Dialah Mirwan Suwarso yang menduduki jabatan sebagai presiden klub. Ia menjadi kepanjangan tangan dari Grup Djarum alias juga perwakilan dari SENT Management.

Baca juga: Drawing Liga Champions 2026/27, Tim Mana yang Punya Lawan Terberat?

Dilatih Oleh Cesc Fabregas


Nah, Fabregas sendiri tidak hanya memegang saham di Como, tapi juga menjadi pelatih kepala di sana. Uniknya, Fabregas datang ke Como awalnya sebagai pemain tahun 2022. Namun, setelah gantung sepatu, eks pemain Barcelona itu menduduki jabatan sebagai pelatih. Mulanya sebagai interim pada 2023, lalu jadi pelatih kepala tahun 2024.


Fabregas memang bukan orang baru di dunia sepak bola, tapi di dunia kepelatihan, dia masih bau kencur. Como saja merupakan klub pertamanya sampai sekarang. Meski begitu, Como di tangan Fabregas bukan tim yang dilatih oleh sosok yang kurang profesional dan kurang mahir melatih.


Fabregas di Como justru tampak seperti sosok pelatih yang matang. Dia tahu skema yang akan dipakai, pemain mana yang sesuai, dan bagaimana menciptakan struktur permainan yang, tidak hanya sedap dipandang, tapi juga menghasilkan tiga poin.


Ia merupakan bagian dari proyek Como 1907. Bahkan soal pembelian pemain, Como melakukannya sesuai dengan keinginan Fabregas. Dan ada satu fakta menarik soal ini.


Baca juga: Daftar Calon Lawan Persib di Liga Champions Asia 2 Musim 2026/27


Klub Italia Tapi Tak Banyak Pemain Italia


Walaupun Como 1907 adalah klub Italia, tapi pemain Italia sangat sedikit menghiasi skuad Como. Bahkan saat menang melawan RB Leipzig di Liga Champions, Fabregas tak menurunkan barang sebiji pemain asal Italia di 11 pertama.


Jika kita lihat daftarnya cuma ada empat pemain Italia di skuad Como. Mereka antara lain Alberto Dossena, Samuel Ricci, Mattia Liberali, dan Moise Kean. Kecuali Dossena, bahkan baru didatangkan musim ini. Ketiadaan pemain Italia di Como sempat membuat klub ini dibenci di Italia.


Tapi sekarang, setelah menjadi satu-satunya klub Italia yang menang di laga pertama Liga Champions, Como dielu-elukan. Terlepas dari itu sebenarnya ada alasan kenapa Como 1907 tak memakai pemain asal Italia.


Belajar Moneyball dari Sumbernya Langsung


Como 1907 merekrut pemain berdasarkan data dan kebutuhan taktis Cesc Fabregas. Pelatih asal Spanyol itu kebetulan telah menganalisis bahwa minim pemain Italia yang bisa menyesuaikan taktiknya. Jadi itulah alasan kenapa Como agak males merekrut pemain Italia.

Como memang begitu. Mereka menggunakan data dan statistik untuk mendatangkan seorang pemain. Istilahnya adalah “Moneyball”. Dan hebatnya, Como tidak sekadar menerapkan, tapi meminta langsung sang empunya konsep datang ke Como.


Ya, mereka bekerja sama langsung dengan Billy Beane. Ia adalah mantan eksekutif Oakland Athletics, klub bisbol asal Amerika. Beane terkenal melakukan pendekatan berbasis data di klubnya itu yang kemudian menjadi inspirasi dari film Moneyball.


Como menggandeng Beane untuk membantu membangun pendekatan analitis dalam perekrutan dan pengambilan keputusan sepak bola. Ini membuat Como sama seperti Brighton and Hove Albion dan Liverpool yang juga menggunakan konsep moneyball.


Baca juga: Fakta-Fakta PSG Juara Liga Champions 2026: Taklukkan Arsenal Lewat Drama Adu Penalti


Markasnya di Tepi Danau Como



Satu lagi fakta menarik tentang Como 1907. Markasnya berada persis di tepi Danau Como, yang terletak di wilayah Lombardi di Italia bagian utara. Nama markasnya Stadio Giuseppe Sinigaglia. Inilah yang membuat stadion Como punya daya tarik sendiri. Ketika datang ke sana tidak hanya menikmati sepak bola, tapi juga pemandangan Danau Como yang indah.


Jika kamu ngira Giuseppe Sinigaglia yang jadi inspirasi nama stadion ini adalah mantan pemain Como, kamu keliru. Giuseppe Sinigaglia bukan pesepakbola, melainkan mantan atlet dayung Italia yang meraih sukses tahun 1906-1913. Nah, sebetulnya stadion ini awalnya tak layak menggelar pertandingan Liga Champions. Kenapa?


Stadio Giuseppe Sinigaglia tidak memenuhi standar regulasi UEFA. Nah, karena itu, Como ngebut merenovasi stadionnya itu, demi bisa menggelar pertandingan Liga Champions. Hasilnya, pembangunan ulang stadion ini rampung hanya dalam waktu kurang dari 90 hari. Gila, cepet banget kan?


Nah itu tadi soal Como 1907, klub Italia yang menjadi milik orang Indonesia. Menurut kalian Como bisa melaju jauh di Liga Champions nggak nih?