Operasi penangkapan ikan sapu-sapu kembali dilakukan di Jakarta sebagai bagian dari upaya mengendalikan populasi spesies invasif di perairan ibu kota. Hingga Jumat (17/4/2026), sebanyak 6,98 ton ikan sapu-sapu berhasil diangkat dari berbagai sungai dan saluran air. Jumlah ini mencerminkan penyebaran yang sangat masif di lingkungan perkotaan. Puluhan ribu ekor ikan langsung dimusnahkan guna mencegah dampak lanjutan terhadap ekosistem.
Sebanyak 68.880 ekor ikan hasil tangkapan dibelah dan dikubur di sekitar pintu air. Proses ini dilakukan secara sistematis di bawah pengawasan ketat petugas. Selain untuk menekan populasi, langkah tersebut juga bertujuan mencegah potensi penyalahgunaan hasil tangkapan. Pemerintah daerah memastikan seluruh tahapan berjalan sesuai prosedur agar tidak ada celah distribusi ilegal. Lantas, mengapa ikan sapu-sapu begitu diburu dan dimusnahkan? Berikut penjelasannya!
Ikan Sapu-Sapu Tercemar Logam Berat dan Tak Layak Konsumsi
Mengutip laporan detiknews (20/4/2026), Kepala Seksi Perikanan Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian Jakarta Selatan, Arief Prakoso, menegaskan bahwa ikan sapu-sapu yang tertangkap memang harus dimusnahkan. Ia menyebutkan bahwa prosedur pembelahan dan penguburan dilakukan sebagai standar operasional yang telah ditetapkan. Hal ini juga diperkuat oleh Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, Hasudungan A Sidabalok, yang menekankan pentingnya pengawasan ketat di lapangan. Menurutnya, langkah ini efektif untuk memastikan tidak ada ikan yang disalahgunakan atau diperjualbelikan secara ilegal. Misalnya, penjualan hasil tangkapan secara sepihak ke pedagang.
Di sisi lain, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengungkapkan bahwa ikan sapu-sapu dari perairan Jakarta mengandung logam berat dalam kadar tinggi. Kandungan tersebut dinilai berbahaya bagi kesehatan manusia jika dikonsumsi. Bahkan, pengolahan menjadi pakan ternak pun masih berisiko karena dapat masuk ke rantai makanan. Secara teori, ikan sapu-sapu dapat diolah menjadi tepung ikan. Namun, kandungan logam berat yang tinggi di perairan Jakarta membuat pemanfaatan tersebut belum aman dilakukan. Ia menyebutkan bahwa kadar logam yang ditemukan rata-rata sudah di atas 0,3 dan tergolong berbahaya.
Sejalan dengan itu, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Haeru Rahayu, mengingatkan bahwa residu logam berat dapat terakumulasi dalam tubuh organisme dan kembali ke manusia melalui konsumsi ikan. Oleh karena itu, pemusnahan menjadi langkah yang dinilai paling aman saat ini.
Ikan Sapu-Sapu Dikenal Sebagai Ikan Hias Populer
Ikan sapu-sapu sebenarnya berasal dari Amerika Selatan dan awalnya dikenal sebagai ikan hias yang populer di akuarium. Julukan “ikan pembersih” melekat karena kemampuannya memakan alga dan lumut yang menempel di kaca atau dekorasi air. Banyak penghobi memeliharanya karena dianggap membantu menjaga kebersihan akuarium.
Namun, popularitas tersebut justru menjadi awal penyebaran yang tidak terkendali. Ketika ikan ini dilepas ke perairan umum, kemampuannya beradaptasi membuatnya mudah bertahan bahkan di lingkungan yang tercemar. Ikan sapu-sapu dapat hidup hingga 10–15 tahun dan tumbuh hingga sekitar 50 cm. Selain itu, pola makannya yang luas yakni dari alga, tumbuhan air, hingga telur ikan membuatnya unggul dalam persaingan. Akibatnya, ikan lokal seperti wader terancam karena kehilangan sumber makanan dan ruang hidup.
Populasi Ikan Sapu-Sapu Mengancam Ekosistem Air Tawar
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara lain. Secara fisik, spesies ini dapat mengganggu organisme lain di perairan karena perilakunya yang invasif dan kemampuannya beradaptasi dengan cepat. Akibatnya, ikan-ikan lokal kesulitan mempertahankan habitatnya dan berisiko mengalami penurunan populasi bahkan kepunahan. Fenomena ini dilaporkan oleh peneliti Alireza Radkhah dan Soheil Eagderi dalam Journal of Ornamental Aquatics (2023), yang juga diakses melalui laman Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO).
Di Iran, ikan sapu-sapu dilaporkan mendominasi perairan dan secara signifikan menggeser populasi ikan asli. Kondisi serupa juga terjadi di Bangladesh, yang dipicu oleh praktik pelepasan ikan dari akuarium ke lingkungan alami tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap ekosistem. Hal ini menunjukkan bahwa penyebaran spesies ini banyak dipengaruhi oleh aktivitas manusia.
Secara ekologis, kehadiran ikan sapu-sapu dapat menurunkan kualitas air. Selain itu, spesies ini juga mengganggu keseimbangan habitat. Sifatnya yang agresif dalam mencari makan membuat organisme lain sulit berkembang dan bersaing. Dampak yang ditimbulkan tidak hanya terbatas pada berkurangnya keanekaragaman hayati, tetapi juga merembet ke sektor ekonomi, seperti perikanan dan pariwisata. Nelayan dan masyarakat lokal menjadi kelompok yang paling terdampak akibat ketidakseimbangan ekosistem ini.
Penelitian dari Southeast Asian Fisheries Development Center (SEAFDEC) tahun 2007 juga mencatat bahwa ikan sapu-sapu menjadi masalah serius di Rawa Agusan, Mindanao Timur Laut, Filipina. Spesies ini telah menyebar luas di danau, sungai, hingga anak sungai di wilayah seperti Talacogon, La Paz, dan Bunawan. Dalam satu kali penangkapan, nelayan bahkan dapat memperoleh ratusan ekor, yang menunjukkan bahwa populasinya sangat tinggi dan sulit dikendalikan.
Studi tersebut menekankan pentingnya upaya pengendalian populasi secara terstruktur guna mencegah kerusakan ekosistem yang lebih luas. Kasus di Filipina menjadi contoh nyata bagaimana ikan yang awalnya dipelihara sebagai ikan hias dapat berubah menjadi ancaman serius ketika dilepas ke alam liar. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak membuang ikan sapu-sapu ke sungai atau waduk. Selain itu, konsumsi ikan dari perairan yang tercemar juga perlu dihindari karena berpotensi mengandung logam berat yang berbahaya bagi kesehatan dalam jangka panjang.
Upaya Jangka Panjang dan Imbauan untuk Masyarakat
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menegaskan bahwa operasi ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang dalam mengendalikan populasi ikan sapu-sapu. Selain penangkapan rutin, pemerintah berencana melibatkan akademisi untuk mencari solusi berbasis teknologi. Pendekatan ilmiah dinilai penting agar pengendalian tidak hanya bersifat sementara, tetapi juga menyasar akar permasalahan.
Di sisi lain, masyarakat diimbau untuk tidak melepas ikan sapu-sapu ke sungai atau waduk. Tindakan tersebut dapat mempercepat penyebaran spesies invasif dan memperparah kerusakan ekosistem. Selain itu, konsumsi ikan dari perairan tercemar juga perlu dihindari karena risiko kandungan logam berat.
Jika tidak dihentikan sejak sekarang, penyebaran ikan sapu-sapu bukan hanya mengancam ekosistem, tetapi juga mata pencaharian masyarakat yang bergantung pada perairan. Kesadaran kolektif menjadi kunci karena satu tindakan kecil seperti melepas ikan ke sungai bisa berdampak besar bagi lingkungan dalam jangka panjang. Yuk, OPPAL Gengs, jangan melepas ikan sapu-sapu ke sungai atau waduk demi menjaga keberlanjutan ekosistem perairan kita. Sebaiknya juga tidak mengonsumsinya, ya!
Reyvan