KAI merancang jalur kereta Trans Sumatera yang akan menghubungkan Banda Aceh hingga Bandar Lampung sebagai bagian dari upaya membangun konektivitas rel terpadu di Pulau Sumatera.
Investasi yang dibutuhkan diperkirakan mencapai Rp448 triliun atau sekitar 25 miliar dollar AS untuk mewujudkan jaringan kereta api yang tersambung dari utara hingga selatan Sumatera.
Tahap awal proyek difokuskan pada koridor Banda Aceh–Besitang sepanjang 478 kilometer, yang mencakup lintas Banda Aceh–Sigli, Sigli–Bireuen–Lhokseumawe, dan Lhokseumawe–Langsa–Besitang.
Proyek Trans Sumatera masuk dalam peta jalan transformasi KAI 2026–2030, dengan agenda reaktivasi jalur nonaktif, pembangunan jalur baru sepanjang 1.110 kilometer, dan pengembangan koridor logistik strategis di berbagai wilayah Sumatera.
Jaringan kereta api yang terhubung dari ujung utara hingga selatan Pulau Sumatera bakal masuk dalam agenda pengembangan jangka panjang PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI. Melalui proyek Trans Sumatera, KAI berupaya menghubungkan Banda Aceh hingga Bandar Lampung dalam satu koridor rel terpadu yang diharapkan dapat meningkatkan mobilitas masyarakat sekaligus memperkuat distribusi logistik antardaerah.
Rencana tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk membangun sistem transportasi perkeretaapian yang lebih terintegrasi. Saat ini, jaringan rel di Sumatera masih beroperasi secara terpisah di beberapa wilayah sehingga konektivitas antarkota maupun antarprovinsi belum berjalan optimal. Lantas, seperti apa rencana pengembangan jalur kereta yang disiapkan KAI untuk menghubungkan seluruh Pulau Sumatera?
KAI Siapkan Konektivitas Rel dari Aceh hingga Lampung
Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, mengatakan pengembangan jaringan rel lintas Sumatera menjadi salah satu agenda strategis perusahaan dalam mendukung konektivitas nasional. Menurutnya, pembangunan ini bertujuan menghubungkan Banda Aceh dengan Bandar Lampung melalui jaringan kereta api yang saling terintegrasi.
Ia menjelaskan bahwa kondisi jalur kereta api di Sumatera saat ini masih bersifat terfragmentasi. Beberapa lintas telah beroperasi, seperti Bandar Lampung–Palembang, Bandar Lampung–Lubuklinggau, serta sejumlah jalur di wilayah Medan dan Padang. Namun, seluruh jaringan tersebut belum tersambung menjadi satu koridor yang berkesinambungan sehingga manfaat transportasi berbasis rel belum dapat dimaksimalkan.
Baca Juga: Cuma Modal 1 Dolar, Bisa Jajan Apa Aja di Indonesia?
Tahap Awal Fokus pada Koridor Banda Aceh–Besitang
Sebagai langkah awal, KAI akan memprioritaskan pembangunan koridor Banda Aceh–Besitang yang dianggap memiliki peran strategis dalam membuka konektivitas kawasan utara Sumatera. Jalur ini akan menjadi penghubung antara Provinsi Aceh dan Sumatera Utara sekaligus fondasi bagi pengembangan jaringan Trans Sumatera secara keseluruhan.
Panjang koridor yang diprioritaskan tersebut mencapai sekitar 478 kilometer. Ruasnya terdiri atas lintas Lhokseumawe–Langsa–Besitang sepanjang 248 kilometer, Banda Aceh–Sigli sepanjang 80 kilometer, serta Sigli–Bireuen–Lhokseumawe sepanjang 150 kilometer. Saat ini KAI masih menyusun Detail Engineering Design (DED) yang akan menjadi dasar teknis sebelum proyek memasuki tahap konstruksi.
Investasi Diperkirakan Mencapai Rp448 Triliun
Untuk mewujudkan jaringan kereta api yang menghubungkan Banda Aceh hingga Bandar Lampung, KAI memperkirakan kebutuhan investasi berada pada kisaran 20 hingga 25 miliar dollar AS. Dengan kurs Rp17.900 per dollar AS pada 3 Juni 2026, nilai tersebut setara sekitar Rp448 triliun.
Besarnya kebutuhan investasi mencerminkan skala proyek yang sangat luas. Selain membangun jalur baru, proyek ini juga mencakup pengembangan infrastruktur pendukung, peningkatan kapasitas jaringan, serta penyambungan berbagai lintas yang saat ini masih terpisah. Karena itu, pembangunan Trans Sumatera dipandang sebagai proyek strategis jangka panjang yang memerlukan perencanaan bertahap.
Masuk Peta Jalan Transformasi KAI hingga 2030
Rencana pembangunan jalur kereta api Trans Sumatera resmi masuk dalam peta jalan transformasi KAI periode 2026–2030. Pada tahap awal, fokus pekerjaan tidak hanya pada penyusunan DED, tetapi juga reaktivasi sejumlah jalur nonaktif yang dinilai masih memiliki potensi untuk mendukung konektivitas regional.
Pemerintah juga menyiapkan reaktivasi jalur kereta api di Sumatera Barat sepanjang 248 kilometer. Di luar itu, terdapat rencana pembangunan jalur baru sepanjang 1.110 kilometer yang telah tercantum dalam Rencana Induk Perkeretaapian Nasional (RIPNAS). Sejumlah koridor yang dipersiapkan meliputi Rantau Prapat–Dumai, Duri–Pekanbaru, Pekanbaru–Rengat, Rengat–Jambi, Lubuklinggau–Bengkulu, hingga Kertapati–Tarahan–Bakauheni yang diproyeksikan menjadi jalur logistik strategis.
Selain melayani penumpang, pengembangan jaringan rel juga diarahkan untuk mendukung distribusi komoditas. Salah satu proyek yang disiapkan adalah pembangunan jalur khusus angkutan batu bara Tanjung Enim Baru–Tarahan II sepanjang 313 kilometer guna memperkuat kapasitas pengangkutan hasil tambang menuju pelabuhan.
Jika seluruh rencana tersebut dapat direalisasikan, Sumatera berpotensi memiliki koridor kereta api terpadu yang menghubungkan wilayah utara hingga selatan pulau. Kehadiran jaringan rel yang terintegrasi diharapkan mampu memperlancar mobilitas masyarakat, menekan biaya logistik, serta mendorong pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah. Akankah proyek Trans Sumatera ini menjadi tonggak baru konektivitas transportasi di Indonesia?
Reyvan