Loker scam di Threads makin marak, korban rata-rata diarahkan ke Telegram.
IASC catat kerugian penipuan digital tembus Rp9,1 triliun sejak akhir 2024.
Modus paling umum: gaji besar, kerja ringan, ujung-ujungnya diminta bayar.
7 ciri ini wajib kamu hafal sebelum apply loker manapun di medsos.
Nyari kerja zaman sekarang tuh serba dilema, Oppal Gengs. In this economy, cari duit dari pekerjaan halal memang semakin berat dan harus makin digas. Untungnya, akses terhadap informasi lowongan kerja justru semakin mudah.
Coba bayangin generasi sebelumnya, yang harus beli koran atau majalah, gunting halaman lowongan, print CV, siapin pas foto, fotokopi ijazah, masukin amplop coklat, terus antre di kantor pos buat kirim lamaran. Ribet.
Sekarang? Tinggal buka HP, scroll medsos, mulai dari Instagram, Facebook, X, sampai fenomena paling anyar yakni Threads, yang belakangan jadi salah satu platform favorit buat cari maupun nawarin lowongan kerja.
Sayangnya, kemudahan ini juga dimanfaatkan oknum nggak bertanggung jawab. Beberapa waktu terakhir, Threads justru dibanjiri keluhan pengguna yang merasa dijebak modus penipuan alias scam, yaitu tindakan menipu orang lain demi keuntungan pribadi, biasanya dengan cara memanipulasi kepercayaan korban lewat iming-iming yang kelihatan meyakinkan.
Ada yang diarahkan buat klik link ke Telegram, ada juga yang ujung-ujungnya diminta transfer sejumlah uang. Logikanya jadi kebalik, niatnya cari kerja demi dapat uang, eh malah disuruh keluarin uang duluan.
Baca Juga: Bukan Malas, Gen Z Tak Ingin Berada dalam Budaya Kerja Toxic
Nah, biar kamu nggak jadi korban berikutnya, berikut 7 ciri lowongan kerja scam di Threads yang wajib kamu kenali. Yuk, intip apa saja Oppal Gengs!
1. Kamu Di-DM Duluan Tanpa Pernah Melamar
Ciri paling khas dari modus ini adalah kamu tiba-tiba di-DM padahal nggak pernah apply ke mana pun. Biasanya berawal dari kamu posting keluhan “lagi cari kerja” di Threads, lalu dalam hitungan menit ada akun asing yang membalas dengan tawaran pekerjaan.
Berdasarkan laporan pengguna Threads yang viral, banyak akun penawar semacam ini ternyata cuma bot atau akun sindikat yang isinya cuma balas-balas ke ratusan postingan orang lain yang sedang mencari loker, dan akun-akun semacam itu berkeliaran di linimasa.
Perusahaan profesional biasanya nggak akan tiba-tiba menawarkan pekerjaan lewat DM tanpa proses lamaran resmi. Kalau kamu menerima pesan semacam ini, anggap saja itu red flag pertama yang harus langsung bikin kamu waspada, apalagi kalau si pengirim nggak bisa menjelaskan dengan jelas posisi apa yang ditawarkan dan dari perusahaan mana asalnya.
2. Iming-Iming Gaji Fantastis untuk Kerjaan yang Kelewat Ringan
Modus scam loker biasanya menjanjikan penghasilan besar untuk pekerjaan yang terdengar terlalu mudah, seperti “like dan follow akun medsos dibayar” atau “boosting rating toko online”. Ciri khas dari lowongan penipuan semacam ini adalah gaji atau penghasilan yang dijanjikan terlalu tinggi dibanding beban kerjanya yang sangat ringan atau bahkan tidak jelas.
Logikanya sederhana, kalau ada pekerjaan yang cuma modal klik-klik tapi dibayar jutaan rupiah, kemungkinan besar itu jebakan.
3. Diarahkan buat Pindah Chat ke Telegram
Ini salah satu pola paling sering muncul di kasus loker scam Threads: setelah basa-basi sebentar, korban langsung diarahkan buat lanjut komunikasi lewat Telegram. Alasannya beragam, tapi paling umum karena Telegram punya fitur yang bikin pelaku lebih susah dilacak, seperti nomor pengirim yang bisa disembunyikan, akun yang gampang dibuat tanpa verifikasi ketat, dan kemampuan menampung ribuan anggota grup sekaligus.
Begitu sudah masuk grup Telegram, korban biasanya akan digabungkan dengan puluhan bahkan ratusan “anggota” lain yang sebenarnya adalah akun palsu atau bot, yang sengaja dibuat supaya korban merasa pekerjaan itu benar-benar nyata dan banyak orang lain juga sedang mengerjakannya. Kalau sudah diarahkan keluar dari platform resmi ke aplikasi chat pribadi kayak gini, itu tandanya kamu harus mulai curiga.
4. Diminta Bayar atau “Deposit” di Tengah Proses
Nah, ini dia titik paling krusial yang jadi inti dari hampir semua modus scam loker: permintaan uang di muka. Setelah korban menyelesaikan beberapa “tugas” awal dan menerima komisi kecil sebagai pemanis, korban lalu diminta melakukan deposit supaya bisa membuka level tugas dengan bayaran lebih besar.
Jumlah deposit ini biasanya terus naik bertahap, dari ratusan ribu sampai puluhan juta rupiah, dan begitu korban mencoba menarik uangnya, sistem tiba-tiba eror atau akun korban malah diblokir.
Padahal, proses rekrutmen kerja yang sah itu 100 persen gratis tanpa dipungut biaya apa pun, baik untuk alasan administrasi, pelatihan, maupun alat kerja. Kalau logikanya sampai kebalik, yaitu kamu yang niatnya cari uang malah disuruh keluarin uang duluan, itu udah jelas-jelas penipuan,.
5. Testimoni dan Bukti Transfer yang Kelihatan Terlalu Meyakinkan
Pelaku scam biasanya melengkapi tawarannya dengan testimoni palsu atau tangkapan layar bukti pembayaran yang sengaja dibuat supaya calon korban makin percaya. Menurut laporan komunitas anti-scam, modus ini bahkan semakin canggih karena memanfaatkan tools AI untuk mengedit foto, membuat logo perusahaan palsu, sampai memproduksi video testimoni instan hanya dengan modal prompt teks sederhana.
Semakin meyakinkan tampilannya, semakin besar juga kemungkinan itu settingan. Sebagai pencari kerja, penting untuk tetap kritis dan nggak gampang percaya hanya karena melihat “bukti” yang kelihatannya profesional, karena teknologi sekarang memang bisa memalsukan hampir apa saja dengan sangat meyakinkan.
6. Deskripsi Pekerjaan Kabur dan Identitas Perusahaan Nggak Jelas
Ciri lain yang gampang dikenali adalah deskripsi kerja yang serba samar, misalnya cuma disebut “admin online”, “data entry”, atau “kerja remote fleksibel” tanpa penjelasan detail soal tugas, jam kerja, atau sistem penggajiannya. Perusahaan yang kredibel biasanya selalu mencantumkan deskripsi pekerjaan dan identitas perusahaan secara jelas, lengkap dengan alamat kantor dan kanal media sosial resmi yang bisa dicek ulang.
Kalau kamu coba cari nama perusahaannya di Google atau LinkedIn dan hasilnya nihil alias nggak ketemu apa-apa, itu tanda bahaya besar. Sebagai langkah aman, selalu cek dulu keberadaan perusahaan tersebut secara online sebelum melanjutkan komunikasi lebih jauh, apalagi sebelum memberikan data pribadi apa pun.
7. Data Pribadi Diminta Sebelum Proses Rekrutmen Resmi Dimulai
Terakhir, waspada kalau kamu diminta mengirim data pribadi sensitif seperti KTP, nomor rekening, atau foto selfie, padahal proses wawancara resmi belum pernah dilakukan sama sekali.
Menurut Indonesia Anti-Scam Center (IASC), skema seperti ini termasuk kategori phishing, yaitu upaya mengumpulkan data pribadi korban untuk disalahgunakan demi keuntungan pelaku, entah itu pencurian identitas maupun pembobolan rekening.
Berdasarkan catatan IASC, sejak November 2024 hingga Januari 2026 saja, tercatat 448.442 laporan penipuan digital di Indonesia dengan total kerugian mencapai Rp9,1 triliun, dan sebanyak 89 persen modusnya terjadi lewat WhatsApp, jalur komunikasi yang sama persis dengan pola yang dipakai di kasus loker scam Threads, di mana korban di-DM lalu digiring pindah platform. Angka fantastis ini jadi bukti nyata kalau ancaman ini bukan cuma cerita seram belaka, tapi risiko yang benar-benar nyata dan terus meningkat.
Kalau ditarik benang merahnya, Oppal Gengs, 7 ciri di atas sebenarnya mengarah ke satu pesan besar, bahwa kemudahan mencari kerja lewat medsos itu ibarat pedang bermata dua.
Di satu sisi, kita dimudahkan banget dibanding generasi sebelumnya yang harus ribet lewat surat kabar dan amplop coklat. Tapi di sisi lain, kemudahan itu juga membuka celah buat oknum jahat memanfaatkan keputusasaan orang-orang yang lagi butuh kerja, apalagi di tengah kondisi ekonomi yang serba menantang seperti sekarang.
Jadi, sebelum kamu tergiur klik DM tawaran kerja yang tiba-tiba muncul di Threads, coba tarik napas dulu dan cek ulang satu per satu ciri-ciri di atas.
Ingat, proses rekrutmen kerja yang sah itu nggak akan pernah minta kamu keluar uang duluan, apalagi lewat jalur chat pribadi yang susah dilacak. Semoga dengan mengenali pola-pola ini, kamu bisa tetap semangat cari kerja tanpa harus jadi korban penipuan berikutnya, Oppal Gengs!
Boy Nugroho