Suhu ekstrem di dieng disebabkan oleh berbagai faktor
Fenomena dieng dingin ini sering disebut dengan embun upas
Sektor pertanian mendapatkan dampak negatif akibat fenomena alam ini
Sebaliknya sektor Pariwisata mengalami keuntungan
Daerah Dieng kembali diterpa suhu esktrem yang mengakibatkan turunnya lapisan es atau yang biasa disebut oleh masyarakat sekitar sebagai empus upas. Fenomena ini terjadi pada hari Sabtu, 9 Juli 2026, memberikan pemandangan Dieng bak seperti wilayah eropa yang diselimuti es yang mirip dengan salju.
Pemukiman dan kebun milik masyakrat sekitar tertutup oleh kristal es dan menjadi memutih, layaknya makanan yang keluar dari mesin pendingin freezer. Tidak hanya itu, kendaraan disekitar juga terdampak dan diselemuti juga oleh es. Apa yang menyebabkan Dieng menjadi seperti ini? akan dijelaskan selengkapnya, simak pembahasannya.
Penyebab Suhu Dingin di Daerah Dieng
Pada dasarnya Dieng merupakan daerah yang berada di dataran tinggi dengan ketinggi mencapai 2.000 meter di atas permukaan laut. Selain itu, bentuk topografinya berupa cekungan yang dikelilingi oleh gunung-gunung yang menyebab udara dingin terperangkap di bawah.
Saat musim kemarau datang, awan tidak menutup hawa panas dan menimbulkan suhu ekstrem dan menyebabkan seluruh daerah Dieng menjadi membeku. Beberapa Faktor ini dapat berpengaruh diantaranya:
Letak Ketinggian Daerah: Semakin tinggi suatu daerah, tekanan dan kepadatan udara yang terdapat pada wilayah tersebut semakin rendah, yang menciptakan suhu udara menjadu lebih dingin dari daerah lainnya.
Musim Kemarau dan Angin Monsun Australia: Selama musim kemarau yang terjadi pada bulan Juni hingga September, angin bertiup dari Benua Australia yang membawa massa udara dingin dan kering
Minimnya Tutupan Awan: seperti yang sudah dijelaskan di atas langit yang cerah tanpa awan pada musim kemarau mengakibatkan panas bumi bisa lepas begitu saja ke atmosfer di malam hari, dan tidak ada awan yang menahan hawa panas untuk memantulkan ke permukaan.
Topografo Cekungan: Udara dingin dan padat disebabkan karena adanya cekungan yang mengalir ke tempat yang lebih rendah dan terperangkan di dasar cekuangan atau lembah, seperti yang terjadi di kawasan Dieng.
Pendapat ini juga diperkuat oleh Kepala Stasiun Meteorologi(Stemet) kelas II Ahmad Yani Semarang, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika(BMKG) bapak Yoga Sambodo menyampaikan Fenomena ini(embun upas) sudah sering terjadi dan lazim di daerah Dieng selama musim kemarah berlangsung.Saat waktu tersebut tiba suhu udara kawasan pegunungan bisa turun hingga di bawah titik beku.
Ia juga menjelaskan, secara kliminatologis ini disebakan karena aktifnya monsun Australia seperti penjelasan yang sudah dijelaskan di atas terlebih dahulu. Sehinga, saat musim kemarau tiba, tekanan udara di benua Australia lebih tinggi dibandingkan dengan benua asia, angin bertiup dari Australia menuju Indonesia.
Konidisi ini menyebabkan massa udara yang cenderung kering dan membuat awan yang menjadi tutupan berkurang secara drastis.
Sedikitnya awan yang ada di langit menyebabkan sinar matahari dan radiasi menyinari permukaan bumi secara maksimal, sehingga udara sekiatar akan terasa lebih panas.
Saat malam datang panas yang tersimpan pada permukaan bumi akan lebih mudah dilepaskan kembali ke Atmosfer karena tidak adanya lapisan awan yang berada untuk menahan radiasi.
Baca juga: Kenapa Cuaca Dingin Akhir-Akhir Ini Bikin Menggigil? Ini Tips Agar Tetap Fit
Dampak yang Dirasakan Masyarakat Dieng
Sekilas penampakan ini terlihat indah dan memberikan fenomena menarik untuk para wisatawan, embun upas ini memberikan dampak buruk bagi beberapa sektor khususnya kerugian besar yang dialami oleh sektor pertanian.
Banyak tumbuhan yang rusak, contohnya kentang yang mati karena tertutup oleh bongkahan es yang turun. Selain itu, embun upas mengakibatkan dan dan batang tanaman layu, dan bisa mengakibatkan tanaman-tanaman seperti kentang dan kubis terancam gagal panen dan mati.
Hal tersebut dapat berpengaruh terhadap pendapatan finansial para petani dan menimbulkan kerugian besar. Tidak anya itu, fenomena ini juga menganggu kondisi kesehatan para warga. Banyak dari mereka yang terjangkit penyakit seperti Infeksi Saluran Pernapasan(ISPA), hipotermia, dan kulit kering.
Disamping itu, untuk sektor pariwisata mengalami lonjakan yang signifikan karena fenomena empun upas memberikan daya tarik tersendiri bagi penunjung wisatawan. Banyaknya wisatawan yang pergi ke Dieng untuk melihat fenomena langka ini, dan memberikan dorongan ekonomi di sektor pariwisata Dieng.
Muhammad Ichsan