Bahtera Nabi Nuh Diduga Ditemukan di Turki, Ini Fakta dan Perdebatan di Baliknya

  • Muhammad Ichsan

Baru-baru ini kisah tentang Bahtera Nabi Nuh kembali menjadi sorotan dunia. Dua tim peneliti berbeda tengah meneliti Formasi Durupinar (struktur geologis unik) di timur Turki. Ditemukan gundukan yang menyerupai bentuk kapal yang sudah sejak lama diduga sebagai sisa bahtera dalam tradisi Abrahamik. Hasil penelitian ini belum final, dan para ilmuwan masih berdebat soal kebenarannya. 


Source: Viva


Kenapa Lokasi Ini Dicurigai?

Formasi Durpinar ini terletak sekitar 30 kilometer di selatan Gunung Arafat (agri), dekat dengan perbatasan Turki dan Armenia. Strukturnya membentang dengan panjang sekitar 157 hingga 163 meter, dengan bentuk yang menyerupai lambung kapal. Ukuran tersebut mendekati dimensi bahtera yang telah dijelaskan dalam Alkitab, sehingga sejak diketahui pada 1948 dan 1959, banyak orang mengaitkannya dengan kapal Nabi Nuh.


Ada pula alasan geologis. Sejak abad pertengahan, para ahli menduga istilah Arafat merujuk pada Urartu, nama kuno kawasan yang terletak di sekitar Armenia. Karena itu, pegunungan di Turki timur dianggap sebagai wilayah yang cocok untuk kisah pendaratan bahtera tersebut.


Penelitian Tim Turki: Tembikar dan Sampel Tanah

Tim penelitian ini dipimpin oleh Profesor Cenker Atila dari Sivas Cumhuriyet University. Selama sekitar 90 hari, 20 ilmuwan dari lima negara bekerja di dekat Doğubayazıt, Provinsi Ağrı. Mereka menemukan pecahan tembikar yang diduga berasal dari masa sebelum banjir Nabi Nuh, lalu mengambil sampel tanah dan inti tanah yang dikirim ke Ankara. Atila menegaskan bahwa penanggalan karbon pada material organik dan sisa kayu akan menentukan apakah benar ada kapal di sana. Artinya, temuan tembikar ini belum bisa dianggap sebagai bukti.

Penelitian Noah's Ark Scans: Pengeboran hingga 18 Meter

Tim kedua, Noah's Ark Scans, berbasis di California dan didirikan oleh peneliti Amerika, Andrew Jones. Mereka mengambil sampel inti hingga hampir 18 meter untuk menguji apakah struktur ini terbentuk secara alami atau ada jejak aktivitas manusia. Menurut klaim mereka, radar penembus tanah memetakan sesuatu yang tampak seperti koridor dan ruangan, termasuk satu lorong sepanjang sekitar 76 meter. Tahap selanjutnya adalah mengirim robot bawah tanah bernama Gopher ke rongga tersebut. Proyek ini mengaku sudah mengantongi izin pemerintah Turki dan diawasi oleh sejumlah universitas lokal.

Kenapa Banyak Ilmuwan Skeptis?

Klaim ini mendapatkan banyak penolakan dari berbagai ahli geologi. Profesor Lorence Collins dari California State University Northridge menyebut bahwa bentuk seperti perahu ini terbentuk akibat erosi batuan dasar karena puing longsoran. Ia juga menunjukkan bukti geologis bahwa formasi ini jauh lebih tua daripada endapan banjir di sekitarnya. Sampel penelitian lain memang menunjukkan usia 3.500 hingga 5.000 tahun dan mengandung endapan laut, tetapi Profesor Kaya, dari tim tersebut, mengakui bahwa penanggalan itu belum cukup untuk menyatakan ada kapal di lokasi ini.


Yang menariknya adalah salah satu tokoh pendukung teori ini, David Fasold, akhirnya berubah pikiran dan menyebut teori ini hanyalah omong kosong. Namun, sahabatnya, June Dawes, mengatakan bahwa Fasod tetap percaya sampai akhir hayat bahwa ia menemukan bahtera itu.


Baca juga: Dari Wano hingga Alabasta, Ini Isu Lingkungan dalam Anime One Piece yang Juga Terjadi di Indonesia


Hal yang Perlu Diperhatikan Pembaca

Terdapat tiga catatan penting. Pertama, dua tim berbeda tersebut menggunakan metode yang berbeda, jadi jangan tertukar. Kedua, klaim "100 persen buatan manusia" dari Noah's Ark Scans belum diverifikasi secara independen. Ketiga, tim ini digerakkan oleh penggalangan dana dan direktur pemasarannya, Lauren Witzke, adalah aktivis Kristen yang kontroversial. Fakta ini tidak otomatis membuat temuannya salah, tetapi wajar jika pembaca menunggu hasil uji laboratorium dan penilaian ilmuwan lain.


Menanti Hasil Laboratorium

Untuk saat ini, semuanya bergantung pada analisis laboratorium. Jika penanggalan karbon menemukan sisa kayu kuno, perdebatan akan berlanjut ke babak baru. Jika tidak, Durupinar kemungkinan tetap dianggap fenomena geologi alami yang kebetulan mirip kapal. Bagaimanapun, kisah ini membuktikan betapa kuatnya daya tarik misteri bahtera Nabi Nuh bagi manusia modern.