No Na sedang menjadi salah satu nama yang menarik perhatian di industri pop. Namun, daya tarik grup vokal perempuan asal Indonesia ini bukan sekadar lagu yang catchy atau penampilan yang mudah mencuri perhatian. Ada identitas yang terasa kuat dalam musik, visual, hingga cara mereka menceritakan keseharian sebagai orang Indonesia.
Di tengah industri pop yang sering membuat banyak grup terlihat serupa, No Na justru mengambil jalan berbeda. Mereka tidak berusaha menghilangkan akar lokal agar terdengar lebih global. Sebaliknya, gamelan, ceng-ceng, dangdut, bahasa Indonesia, wastra, lanskap Nusantara, sampai kehidupan sehari-hari di kota justru dibawa masuk ke dalam karya mereka.
Menariknya, unsur lokal tersebut tidak terasa seperti tempelan untuk sekadar menunjukkan bahwa mereka berasal dari Indonesia. Elemen-elemen itu menjadi bagian dari musik, visual, gaya, dan storytelling No Na. Hasilnya, mereka tetap bisa tampil sebagai grup pop modern tanpa harus kehilangan wajah Indonesia.
Baca Juga: Makna & Lirik Lagu Honk! - No Na, Bawa Identitas Indonesia ke Panggung Global
Tidak Perlu Menjadi Korea atau Barat untuk Mendunia
Fenomena No Na memperlihatkan bahwa menjadi global tidak selalu berarti mengikuti formula yang sudah lebih dulu populer. Selama bertahun-tahun, industri hiburan Asia banyak belajar dari kesuksesan Korean Wave atau Hallyu yang berhasil membawa musik, drama, fesyen, hingga budaya Korea ke berbagai belahan dunia.
Namun, keberhasilan Korea bukan berarti setiap negara harus meniru formula yang sama. Indonesia juga memiliki kekayaan budaya yang bisa menjadi identitas tersendiri ketika dikemas melalui bahasa pop yang relevan bagi generasi sekarang.
Hal tersebut terlihat sejak debut No Na melalui single "Shoot" pada 2 Mei 2025 di bawah naungan 88rising. Lagu tersebut memadukan elemen musik tradisional Indonesia, termasuk gamelan, bersama produksi pop modern. Video musiknya juga menampilkan berbagai lanskap dan elemen budaya Indonesia, seperti sawah dan air terjun Banyumala di Bali.
No Na kemudian melanjutkan pendekatan tersebut melalui karya-karya berikutnya. "Superstitious", misalnya, membawa nuansa new jack swing dan pop 2000-an, sementara visual serta materi promosinya tetap menyelipkan referensi terhadap mitos dan budaya lokal Indonesia.
Pendekatan ini membuat identitas Indonesia tidak hadir hanya sebagai latar. Ia menjadi bagian dari dunia yang dibangun No Na. Karena itu, ketika karya mereka dinikmati audiens internasional, yang ikut diperkenalkan bukan hanya empat anggota grup tersebut, tetapi juga potongan kecil dari kehidupan dan budaya Indonesia.
Dari Angkot sampai Telolet, Hal Biasa Jadi Terasa Istimewa
Salah satu contoh paling menarik terlihat melalui lagu "Honk". No Na membawa berbagai elemen yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia, mulai dari angkot, Metro Mini, telolet, hingga es kelapa.
Hal-hal tersebut mungkin terasa terlalu biasa bagi sebagian orang Indonesia. Angkot, misalnya, merupakan bagian dari keseharian banyak masyarakat yang digunakan untuk pergi sekolah, bekerja, atau sekadar berpindah tempat. Namun, ketika pengalaman tersebut masuk ke dalam lagu pop yang ditujukan kepada audiens global, sesuatu yang sebelumnya dianggap biasa justru berubah menjadi bagian dari identitas yang menarik.
Penggunaan kalimat "get on" yang dikaitkan dengan angkot juga terasa dekat dengan realitas sehari-hari. Kehidupan yang mungkin tidak dianggap cukup keren untuk ditampilkan dalam budaya pop justru dijadikan highlight oleh No Na.
"Honk" juga melibatkan nama-nama dari lingkaran 88rising. Stephanie Putri ikut menjadi penulis lagu, sementara Rich Brian turut mengisi bagian suara dalam lagu tersebut. Kolaborasi ini sekaligus memperlihatkan bagaimana elemen lokal dapat ditempatkan dalam ekosistem musik yang memiliki jangkauan internasional.
Pada titik ini, Indonesian core yang dibawa No Na bukan sekadar estetika. Mereka seperti mengatakan bahwa sesuatu tidak harus dibuat asing terlebih dahulu agar terlihat keren. Justru angkot, telolet, hingga kebiasaan masyarakat Indonesia bisa menjadi menarik ketika diceritakan melalui perspektif yang segar.
Identitas Justru Membuat No Na Mudah Dikenali
Di industri pop yang sangat kompetitif, memiliki karakter menjadi salah satu modal penting. Banyak artis baru datang membawa kemampuan bernyanyi, menari, atau produksi musik yang bagus, tetapi belum tentu memiliki identitas yang membuat mereka langsung dikenali.
No Na mengambil posisi berbeda. Mereka tidak mencoba menjadi versi Indonesia dari grup Korea atau artis Barat. Mereka membawa referensi yang dekat dari lingkungan sendiri, lalu mengemasnya ke dalam musik pop modern yang dapat diterima audiens lebih luas.
Hal ini sejalan dengan kajian Yuliana Choerul Reza dkk. tahun 2025 dalam publikasinya berjudul "Internasionalisasi Budaya Indonesia melalui Video Musik" yang membahas No Na sebagai contoh bagaimana musik dapat menjadi medium untuk memperkenalkan budaya Indonesia kepada dunia. Kajian tersebut menyoroti bagaimana musik dan video musik No Na memadukan unsur budaya lokal bersama konsep musik populer sehingga dapat menjadi sarana internasionalisasi budaya Indonesia.
Cara tersebut juga menunjukkan bahwa akar budaya tidak harus menjadi penghalang untuk masuk ke pasar global. Sebaliknya, akar yang kuat dapat menjadi pembeda ketika banyak karya lain justru memiliki kecenderungan menggunakan formula yang serupa.
Branding Lokal Tidak Harus Menghapus Aksen
Apa yang dilakukan No Na sebenarnya memberikan pelajaran yang lebih luas, bahkan di luar industri musik. Brand lokal juga tidak selalu harus menghilangkan identitas asalnya agar terlihat berkelas atau mampu diterima pasar internasional.
Bahasa, motif, makanan, kebiasaan, pakaian, hingga kehidupan sehari-hari bisa menjadi aset ketika dikemas melalui cara yang relevan. Tantangannya bukan memilih antara "lokal" atau "global", melainkan menemukan cara agar identitas lokal dapat berbicara menggunakan bahasa zaman sekarang.
No Na menunjukkan bahwa globalisasi tidak selalu harus berakhir pada keseragaman. Ada kemungkinan lain: membawa sesuatu yang sangat lokal ke ruang global dan membiarkan dunia mengenalnya sebagai sesuatu yang baru.
Pada akhirnya, kekuatan No Na bukan hanya terletak pada seberapa catchy lagu mereka. Identitas yang kuat justru menjadi pembeda ketika industri pop semakin dipenuhi karya yang terdengar dan terlihat serupa. No Na menunjukkan bahwa menjadi global tidak berarti harus meninggalkan akar budaya sendiri. Dari gamelan, wastra, hingga angkot dan telolet, berbagai hal yang dekat dengan kehidupan Indonesia dapat dikemas menjadi sesuatu yang relevan dan menarik bagi audiens dunia. Lewat pendekatan tersebut, No Na membuktikan bahwa identitas lokal bukan penghalang untuk go global. Sebaliknya, akar yang kuat justru bisa menjadi alasan sebuah karya lebih mudah dikenali dunia.
Reyvan