Efek dari Banjir Susulan yang Masih Terjadi hingga Sekarang
Mungkin di linimasa kita berita soal bencana di Aceh sudah mulai redup dan tergantikan tren lain, tapi nyatanya bagi saudara-saudara kita di sana, perjuangan masih tetap berlanjut. Tim Oppal sempat ngobrol singkat dengan Kak Rully (warga di Aceh) yang memantau langsung kondisi di Kecamatan Sawang, dan ternyata meski sudah memasuki bulan kelima masa pemulihan, kondisinya masih jauh dari kata normal. Bayangkan saja, di tengah usaha untuk pulih, warga masih harus berhadapan dengan infrastruktur yang rusak parah, bahkan ada sekolah yang kini berdiri tanpa pagar karena sudah hanyut ke sungai.
Kondisi pendidikan di sana memang cukup memprihatinkan, seperti yang terlihat di TK Bidadari Desa Lhokcut dan SMA Negeri 1 Sawang di mana pagar sekolahnya jatuh ke dalam aliran sungai. Hal ini tentu bikin para orang tua was-was setiap kali melepas anak mereka berangkat sekolah. Bahkan, ada cerita sedih dari Dusun Lhok Pungki yang kini nyaris jadi desa mati karena hampir seluruh warganya terpaksa mengungsi ke lokasi yang lebih tinggi akibat banjir susulan yang terus menerus datang. Alhasil, sekolah TK di dusun tersebut sudah tidak bisa lagi beroperasi karena tak ada lagi warga yang mendiaminya.
Akses Transportasi yang Jauh dari Kata Layak
Masalah akses transportasi juga jadi tantangan berat yang bikin nyesek. Dari sembilan jembatan yang ada di sepanjang aliran sungai Kecamatan Sawang, kini hanya tersisa satu jembatan di Desa Blang Teurakan yang masih bisa difungsikan berkat gotong royong warga dan bantuan TNI. Upaya untuk membangun jembatan darurat sebenarnya sudah dilakukan berkali-kali, mulai dari jembatan apung hingga jembatan bailey, namun alam seolah tak memberi ampun. Jembatan-jembatan tersebut ada yang hanyut terbawa arus, ada pula yang posisinya miring dan tak bisa dilalui hanya seminggu setelah diresmikan karena jalan utamanya habis disapu banjir.
Dampaknya nggak cuma soal akses jalan, tapi juga merembet ke kebutuhan dasar warga. Irigasi yang menjadi jantung kehidupan persawahan di Kecamatan Sawang kini terputus total, sehingga warga dipastikan gagal panen tahun ini. Sawah yang dulunya hijau kini berubah menjadi lapangan kosong yang tertimbun lumpur, ditambah lagi dengan banyaknya pepohonan di kebun warga yang mati diterjang banjir. Masalah air pun jadi krisis baru karena banyak sumur warga yang mengering akibat rusaknya mata air, sehingga meskipun bantuan hunian sementara sudah tersedia, warga belum bisa menempatinya secara maksimal karena keterbatasan akses air bersih.
Harapan Warga Aceh untuk Pemerintah
Melalui kejadian ini, Kak Rully yang merupakan warga di desa yang berada di Aceh Utara menitipkan harapan besar agar pemerintah segera memprioritaskan perbaikan jalan utama Krung Mane–Sawang dan pembangunan jembatan permanen. Akses ini sangat krusial agar roda ekonomi warga bisa kembali berputar dan anak-anak sekolah tidak perlu lagi bertaruh nyawa menyeberangi area yang berbahaya. Selain itu, perbaikan irigasi juga menjadi desakan utama agar warga bisa kembali mengolah sawah mereka.
Bayu Dewantara