Nikah di KUA resmi gratis, tapi ada syarat waktu dan tempat yang wajib dipenuhi.
Ada biaya Rp600 ribu kalau akad di luar jam atau lokasi KUA.
Angka pernikahan nasional justru turun, tapi pilihan nikah hemat makin masuk akal buat Gen Z.
Cek pemeriksaan kesehatan pranikah dan potensi pungli sebelum daftar.
“In this economy?” Kalimat sindiran ini rasanya makin relate buat anak muda khususnya Gen Z, termasuk kalau sudah menyangkut urusan menikah. Di satu sisi, usia sudah cukup dan hubungan sudah matang, tapi di sisi lain, harga rumah naik, gaji stagnan, dan tabungan rasanya nggak pernah cukup untuk pesta impian. Dilema “nikah sekarang atau tunda dulu sampai mapan” pun jadi obrolan yang makin sering muncul di circle pertemanan.
Di tengah kegalauan itu, opsi menikah di Kantor Urusan Agama (KUA) mulai dilirik sebagai jalan tengah yang masuk akal biar rencana menikah nggak melulu harus ditunda. Tapi sebelum buru-buru daftar, ada beberapa fakta dan “jebakan” yang jarang dibahas tuntas di media sosial.
Baca Juga: 3 Look After Party Dress Ala Public Figure, yang Gen Z Banget!
Berikut 6 fakta unik seputar nikah di KUA yang wajib kamu tahu sebelum melangkah ke pelaminan. Yuk, intip apa saja Oppal Gengs!
1. Nikah di KUA Itu Beneran Gratis, Tapi Ada Syaratnya
Banyak yang masih ragu, apakah nikah di KUA itu benar-benar Rp0 atau cuma mitos di internet. Faktanya, aturan ini resmi tertuang dalam Peraturan Pemerintah dan diperkuat lewat Peraturan Menteri Agama Nomor 30 Tahun 2024 tentang Pencatatan Nikah.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 59 Tahun 2018, pernikahan yang dilangsungkan di kantor KUA pada hari dan jam kerja tidak dikenakan biaya alias gratis. Jadi, kalau akad kamu dilaksanakan langsung di kantor KUA pada Senin sampai Jumat jam kerja, kamu nggak perlu keluar uang sepeser pun untuk biaya pencatatan nikah.
Yang perlu digarisbawahi, “gratis” di sini murni soal biaya administrasi pencatatan negara, bukan biaya total pernikahan kamu secara keseluruhan. Kamu tetap butuh dana untuk dokumen pendukung seperti materai, fotokopi berkas, dan pas foto sesuai standar Kemenag.
Tapi dibanding biaya gedung dan vendor yang bisa tembus puluhan juta, biaya administrasi ini jelas jauh lebih ramah di kantong. Makanya nggak heran kalau opsi ini makin masuk radar Oppal Gengs yang lagi berhemat.
2. Ada Biaya Rp600 Ribu Kalau Nikah di Luar KUA
Nah, ini dia bagian yang sering bikin calon pengantin kaget belakangan. Meski di kantor KUA gratis, begitu kamu memutuskan akad dilaksanakan di luar kantor, misalnya di rumah, gedung, atau masjid, atau di luar jam kerja, ada biaya resmi yang wajib dibayar.
Biaya muncul ketika akad nikah dilaksanakan di luar kantor KUA atau di luar hari dan jam kerja, dengan tarif yang sudah ditetapkan lewat regulasi PNBP Kementerian Agama sebesar Rp600 ribu.
Kabar baiknya, biaya ini bukan pungutan liar, melainkan resmi masuk kas negara lewat sistem pembayaran bank dengan kode billing dari SIMKAH, bukan dibayar tunai langsung ke petugas.
Ini penting banget buat diketahui karena banyak pasangan yang nggak sadar soal aturan “gratis bersyarat” ini, lalu kaget pas diminta bayar padahal katanya nikah di KUA itu gratis.
Jadi sebelum menentukan lokasi akad, pastikan dulu kamu paham konsekuensi biayanya ya, Oppal Gengs.
3. Angka Pernikahan Nasional Justru Menurun, Tapi Nikah Hemat Makin Masuk Akal
Di tengah tren nikah hemat yang makin digandrungi, angka pernikahan secara nasional justru terus menurun dalam satu dekade terakhir.
BPS mencatat angka pernikahan turun dari 2,1 juta (2014) menjadi 1,4 juta (2025), dan tekanan ekonomi jadi salah satu penyebab utamanya. Bahkan berdasarkan data yang lebih rinci, penurunan tersebut mencapai angka 28,63 persen, atau setara dengan sekitar 632.791 kasus pernikahan dalam kurun waktu sepuluh tahun.
Fenomena ini menunjukkan bahwa banyak generasi muda menunda pernikahan bukan karena nggak mau berkomitmen, tapi karena belum merasa siap secara finansial. Di sisi lain, buat mereka yang tetap memilih menikah, opsi KUA jadi jalan tengah yang masuk akal biar nggak perlu menunggu “mapan sempurna” dulu.
Dengan memangkas biaya resepsi besar-besaran, dana yang ada bisa dialihkan ke pos yang lebih strategis untuk kehidupan rumah tangga jangka panjang.
4. Ada Syarat Pemeriksaan Kesehatan Pranikah yang Wajib Diikuti
Selain soal biaya, ada satu syarat yang kadang terlewat dari radar calon pengantin, yaitu pemeriksaan kesehatan pranikah. Sebelum nikah semua pasangan harus mengikuti program premarital check up yang merupakan bagian dari Program Pendampingan, Konseling, dan Pemeriksaan Kesehatan. Program ini bukan sekadar formalitas, tapi bagian dari upaya memastikan kesiapan fisik calon pengantin sebelum resmi menikah.
Lebih detail lagi, selain pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh, juga akan dilakukan program vaksinasi pra nikah berupa vaksin TT yang wajib, dan vaksin lainnya yang opsional seperti DPT, MMR, HPV, Hepatitis B, dan Varisela.
Jadi, sebelum daftar ke KUA, ada baiknya Oppal Gengs sudah menjadwalkan pemeriksaan ini dari jauh-jauh hari biar nggak mepet dan bikin proses administrasi molor.
5. Waspada Oknum Pungli Berkedok “Biaya Tambahan”
Ini nih bagian “jebakan” yang paling sering bikin resah calon pengantin, terutama yang baru pertama kali mengurus dokumen sendiri tanpa calo. Isu pungutan liar sempat ramai dibahas, sampai akhirnya Kementerian Agama turun tangan menegaskan sikap resminya.
Lewat pernyataan resminya, Kemenag menyatakan bahwa biaya layanan pencatatan pernikahan di KUA pada jam dan hari kerja adalah gratis atau nol rupiah, dan biaya Rp600 ribu untuk akad di luar KUA hanya bisa dibayarkan lewat sistem resmi negara, bukan ke petugas secara tunai.
Jadi kalau ada oknum yang minta bayaran tunai di luar itu, Oppal Gengs berhak curiga dan menolaknya. Selalu minta rincian tertulis dan pastikan pembayaran hanya lewat kode billing resmi ya.
6. Uang yang Dihemat Bisa Jadi Modal Awal Rumah Tangga
Ini nih bagian paling relate buat Oppal Gengs yang lagi mikirin masa depan finansial. Dana yang nggak dihabiskan untuk pesta besar bisa dialihkan ke pos yang jauh lebih berdampak jangka panjang.
Pasangan yang menghemat Rp100 sampai 150 juta dari biaya pernikahan dan mengalihkannya ke DP KPR subsidi memiliki fondasi finansial yang jauh lebih kuat di tahun-tahun pertama pernikahan dibandingkan pasangan yang justru memulai rumah tangga dengan utang vendor dan katering.
Ini bukan berarti anti resepsi sama sekali, kok. Banyak pasangan tetap mengadakan syukuran sederhana bersama keluarga terdekat setelah akad di KUA rampung. Yang jadi pembeda cuma skala pestanya saja, pesta besar dengan ratusan tamu dan vendor premium itu pilihan, bukan keharusan yang menentukan sah atau tidaknya sebuah pernikahan.
Nikah di KUA sebenarnya bukan soal “gengsi turun” atau “yang penting hemat”, tapi soal keputusan yang lebih sadar dan terencana di tengah tekanan ekonomi yang makin nyata. Dari fakta-fakta di atas, jelas terlihat bahwa gratisnya biaya administrasi bukan berarti tanpa syarat, dan ada beberapa “jebakan” kecil seperti biaya di luar KUA, potensi pungli, sampai kewajiban pemeriksaan kesehatan yang perlu disiapkan jauh-jauh hari.
Satu pesan besar yang bisa Oppal Gengs pahami ialah bahwa menikah itu soal komitmen dan kesiapan, bukan soal seberapa besar pestanya. Di tengah angka pernikahan nasional yang terus menurun karena tekanan ekonomi, memilih jalur yang lebih realistis seperti KUA justru bisa jadi langkah bijak biar rumah tangga dimulai dengan fondasi finansial yang sehat, bukan dengan utang yang menumpuk sejak hari pertama.
Boy Nugroho