Fenomena Dating App Fatigue, Niat Cari Pasangan Malah jadi Stres

  • Saifan Zaking

Dating app fatigue kini menjadi fenomena yang semakin banyak dialami pengguna aplikasi kencan digital. Rasa lelah, jenuh, hingga kehilangan motivasi untuk mencari pasangan muncul setelah berulang kali menghadapi proses swipe tanpa akhir, percakapan yang tidak berkembang, ghosting, hingga penolakan secara digital.

Bagi sebagian orang, membuka Tinder, Bumble, Litmatch atau aplikasi kencan lainnya, yang awalnya terasa menyenangkan perlahan berubah menjadi rutinitas yang melelahkan. Jempol bergerak otomatis menggeser profil demi profil, tetapi alih-alih menemukan ‘belahan hati’, yang muncul justru pertanyaan “sebeneranya gue lagi ngapain sih?”.

Jadi sekarang fenomena ini bukan sekadar perasaan subjektif. Berbagai data menunjukkan industri kencan digital tengah menghadapi krisis kepercayaan yang serius, sementara jutaan pengguna mulai mengurangi penggunaan aplikasi kencan atau bahkan memilih untuk meninggalkannya sama sekali.

Mengenal Dating App Fatigue


Ketika teknologi yang dirancang untuk menyatukan orang justru membuat kita semakin kesepian. Dating app fatigue adalah kondisi kelelahan psikologis yang berkembang setelah penggunaan aplikasi kencan secara berulang dalam jangka panjang. Kondisi ini ditandai antara lain:


- Kelelahan emosional akibat penolakan berulang dan ghosting

- Kejenuhan keputusan dari terlalu banyak pilihan profil

- Sinisme terhadap kemungkinan menemukan pasangan yang tulus melalui platform digital

- Penurunan motivasi untuk memulai percakapan atau membalas pesan

- Perasaan bahwa diri sendiri adalah komoditas yang dinilai berdasarkan foto


Fenomena ini juga sering disebut sebagai "swipe fatigue", istilah yang kini semakin sering muncul dalam literatur akademis dan laporan industri sebagai sinyal negatif bagi industri yang tidak bisa diabaikan.


Kenapa Fenomena ini Terjadi?


1. Terjebak dalam Ilusi Pilihan Tak Terbatas


Sekilas, banyaknya pilihan di aplikasi kencan terdengar seperti keuntungan. Namun, realitasnya sering kali berbeda. Saat pengguna terus disuguhi profil baru yang tampak sedikit lebih menarik hanya dengan satu kali swipe, mereka menjadi lebih sulit untuk fokus membangun koneksi dengan orang yang sudah ada di depan mereka.

Akibatnya, percakapan yang sebenarnya memiliki potensi berkembang sering kali ditinggalkan begitu saja karena muncul keyakinan bahwa mungkin ada seseorang yang lebih cocok di profil berikutnya. Dalam psikologi hubungan, kondisi ini dikenal sebagai perceived abundance of alternatives, persepsi bahwa selalu ada pilihan yang lebih baik di luar sana. Alih-alih meningkatkan peluang menemukan pasangan, pola pikir ini justru dapat melemahkan komitmen dan membuat pengguna semakin sulit merasa puas dengan hubungan yang sedang dijalani.

2. Siklus Dopamin yang Membuat Ketagihan

Setiap notifikasi match dapat memicu lonjakan dopamin, zat kimia di otak yang berkaitan dengan rasa senang dan penghargaan. Namun sensasi tersebut biasanya hanya berlangsung singkat. Setelah euforia awal mereda, banyak pengguna kembali menghadapi percakapan yang mandek, balasan yang semakin jarang, atau bahkan ghosting.

Lama-kelamaan, pengguna tidak lagi mengejar hubungan yang bermakna, melainkan sensasi mendapatkan match berikutnya. Mereka terus kembali membuka aplikasi untuk mencari validasi baru. Pola ini menjadi perhatian khusus bagi pengguna usia muda. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa karena perkembangan otak masih berlangsung hingga sekitar usia 25 tahun, kelompok usia ini cenderung lebih rentan terhadap perilaku adiktif dan gejolak emosional yang dipicu oleh siklus penghargaan instan tersebut.

3. Ghosting jadi Luka Kecil yang Membesar

Di era kencan digital, ghosting (menghilang begitu saja tanpa penjelasan) telah menjadi fenomena yang sangat umum. Praktik ini membuat seseorang tiba-tiba kehilangan kontak tanpa mengetahui alasan di baliknya, meninggalkan berbagai pertanyaan yang tidak terjawab.

Meski sering dianggap hal biasa, dampaknya tidak selalu ringan. Pengalaman ditinggalkan tanpa penjelasan dapat memicu kebingungan, kekecewaan, bahkan menurunkan rasa percaya diri. Survei pada 2024 menunjukkan bahwa 84 persen pengguna aplikasi kencan pernah menjadi korban ghosting, sementara 66 persen mengaku pernah melakukannya kepada orang lain. Tingginya angka tersebut menunjukkan bahwa ghosting telah menjadi bagian dari budaya kencan digital modern, sekaligus salah satu faktor utama yang mendorong munculnya dating app fatigue.