·
Kenaikan gaji tidak selalu membuat kondisi
finansial menjadi lebih sehat.
·
Lifestyle creep terjadi ketika pengeluaran ikut
meningkat setelah pendapatan bertambah.
·
Cicilan, makan di luar, liburan, hingga
langganan layanan bisa menjadi pemicu tanpa disadari.
·
Tekanan sosial dan media sosial dapat mendorong
seseorang mengikuti gaya hidup yang lebih mahal.
· Membuat anggaran baru, mencatat pengeluaran, dan mengotomatiskan tabungan dapat membantu mencegah lifestyle creep.
Mendapat kenaikan gaji tentu menjadi kabar yang menyenangkan. Penghasilan yang lebih besar seharusnya memberikan ruang lebih luas untuk memenuhi kebutuhan, menabung, berinvestasi, hingga mempersiapkan berbagai tujuan finansial di masa depan.
Namun, pernahkah kamu merasa kondisi keuangan tidak banyak berubah meski penghasilan sudah meningkat? Gaji bertambah, tetapi saldo tabungan tetap berada di angka yang sama. Bahkan, terkadang uang terasa lebih cepat habis dibandingkan sebelumnya.
Kondisi tersebut bisa menjadi tanda seseorang mengalami lifestyle creep, yaitu situasi ketika peningkatan pendapatan diikuti dengan meningkatnya gaya hidup dan pengeluaran. Akibatnya, tambahan uang yang seharusnya bisa memperkuat kondisi finansial justru habis untuk membiayai pola konsumsi baru.
Apa Itu Lifestyle Creep?
Lifestyle creep atau inflasi gaya hidup terjadi ketika seseorang mulai meningkatkan standar hidup setelah memperoleh tambahan penghasilan. Perubahan ini biasanya berlangsung secara perlahan, sehingga sering kali tidak terasa.
Sebagai contoh, seseorang yang sebelumnya menggunakan kendaraan sederhana mungkin mulai mempertimbangkan mobil dengan cicilan lebih tinggi setelah mendapatkan promosi atau kenaikan gaji. Begitu pula dengan tempat tinggal. Penghasilan yang bertambah bisa membuat seseorang merasa mampu pindah ke hunian yang lebih mahal.
Hal serupa juga dapat terjadi dalam pengeluaran sehari-hari. Frekuensi makan di restoran meningkat, lebih sering membeli pakaian, rutin memesan makanan melalui aplikasi, lebih sering bepergian, atau menambah berbagai layanan berlangganan.
Pada awalnya, setiap pengeluaran tersebut mungkin
terlihat kecil dan masih dapat ditanggung.
Masalah muncul ketika berbagai pengeluaran baru tersebut terjadi secara bersamaan dan akhirnya menghabiskan sebagian besar tambahan penghasilan.
Menurut Brian Walsh, CFP dan Head of Advice & Planning SoFi, pendapatan yang lebih tinggi tidak otomatis membuat kondisi finansial seseorang menjadi lebih baik. Jika pengeluaran ikut meningkat mengikuti pendapatan, seseorang tetap bisa merasa kekurangan uang meski gajinya sudah lebih besar.
Ketika Gaji Naik, tetapi Tabungan Tetap
Salah satu tanda paling mudah dikenali dari lifestyle creep adalah ketika pendapatan meningkat, tetapi jumlah tabungan tidak mengalami perubahan berarti.
Misalnya, sebelumnya seseorang menerima gaji Rp7 juta dan mampu menyisihkan Rp1 juta setiap bulan. Setelah mendapatkan kenaikan gaji menjadi Rp9 juta, seharusnya ada tambahan ruang sekitar Rp2 juta untuk memperbesar tabungan atau investasi.
Namun, jika kenaikan tersebut langsung diikuti dengan peningkatan biaya nongkrong, cicilan kendaraan, belanja, dan hiburan, jumlah yang berhasil disimpan bisa saja tetap Rp1 juta. Dalam kondisi tertentu, seseorang bahkan dapat kembali hidup dari gaji ke gaji.
Meningkatnya penggunaan kartu kredit atau bertambahnya utang konsumtif juga patut menjadi perhatian. Hal tersebut dapat menunjukkan bahwa pertumbuhan penghasilan belum mampu mengimbangi peningkatan gaya hidup.
Gaya Hidup Bisa Dipengaruhi Lingkungan
Lifestyle creep tidak selalu muncul karena keinginan pribadi. Lingkungan sosial juga dapat berperan besar.
Ketika teman-teman mulai sering makan di restoran mahal, bepergian ke luar negeri, menggunakan kendaraan baru, atau tinggal di apartemen dengan fasilitas lebih lengkap, seseorang bisa merasa perlu melakukan hal yang sama.
Media sosial turut memperkuat kecenderungan tersebut. Berbagai unggahan mengenai liburan, restoran, barang bermerek, hingga pencapaian finansial orang lain dapat membuat standar gaya hidup terlihat semakin tinggi.
Padahal, apa yang terlihat di media sosial belum tentu menggambarkan kondisi keuangan seseorang secara keseluruhan. Memaksakan diri mengikuti gaya hidup orang lain justru dapat membuat pengeluaran melebihi kemampuan finansial sendiri.
Bedakan Kebutuhan dan Keinginan
Salah satu cara sederhana untuk mencegah lifestyle creep adalah kembali membedakan kebutuhan dan keinginan.
Kebutuhan merupakan pengeluaran yang memang diperlukan untuk menjalani aktivitas sehari-hari. Contohnya biaya tempat tinggal, makanan, transportasi, tagihan, dan kebutuhan pekerjaan.
Sementara itu, keinginan lebih berkaitan dengan sesuatu yang ingin dimiliki atau dilakukan meskipun tanpa hal tersebut kebutuhan utama tetap bisa terpenuhi. Membeli sepatu baru karena sedang diskon, makan di restoran mahal setiap akhir pekan, atau mengganti gadget yang masih berfungsi dengan baik dapat masuk dalam kategori ini.
Bukan berarti semua keinginan harus dihilangkan. Menikmati hasil kerja tetap penting. Yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai peningkatan gaya hidup mengorbankan tujuan finansial yang lebih penting.
Ketika mendapatkan kenaikan gaji, seseorang dapat membuat anggaran baru. Sebagian tambahan pendapatan bisa digunakan untuk meningkatkan tabungan, membayar utang, menambah investasi, sementara sebagian lainnya tetap dialokasikan untuk hiburan atau kebutuhan pribadi.
Jangan Biarkan Uang Tambahan Hilang Tanpa Tujuan
Tambahan penghasilan akan lebih mudah dikelola jika sejak
awal sudah memiliki tujuan yang jelas.
Daripada membiarkan seluruh kenaikan gaji masuk ke rekening utama dan kemudian digunakan untuk berbagai kebutuhan spontan, tentukan terlebih dahulu ke mana uang tersebut akan dialokasikan.
Sebagian dapat digunakan untuk memperbesar dana darurat.
Sebagian lainnya bisa dialokasikan untuk investasi, pembayaran utang, tabungan
rumah, dana pendidikan, atau persiapan pensiun.
Memiliki tujuan yang jelas membuat kenaikan penghasilan terasa lebih berarti karena uang tersebut tidak hanya digunakan untuk meningkatkan konsumsi, tetapi juga memperkuat kondisi finansial dalam jangka panjang.
Catat Pengeluaran Secara Rutin
Mencatat pengeluaran juga menjadi langkah penting untuk mengetahui apakah gaya hidup mulai meningkat tanpa disadari.
Pengeluaran kecil yang terjadi berulang kali bisa memberikan dampak besar terhadap kondisi keuangan bulanan. Misalnya, membeli kopi, memesan makanan, menggunakan layanan transportasi online, atau melakukan transaksi kecil lainnya.
Dengan mencatat setiap pengeluaran, seseorang dapat melihat pola konsumsi dengan lebih jelas. Dari sana, pengeluaran yang kurang penting dapat dikurangi tanpa harus memangkas seluruh aktivitas yang menyenangkan.
Cara lainnya adalah mengotomatiskan tabungan atau investasi. Setiap kali menerima gaji, sebagian uang dapat langsung dipindahkan ke rekening tabungan atau instrumen investasi. Dengan begitu, uang untuk tujuan finansial sudah diamankan terlebih dahulu sebelum digunakan untuk kebutuhan lain.
Tetapkan Target Finansial
Memiliki target finansial juga dapat membantu seseorang menahan keinginan untuk terus meningkatkan gaya hidup.
Salah satu target yang dapat diprioritaskan adalah dana darurat. Secara umum, dana darurat dapat dipersiapkan untuk mencukupi kebutuhan hidup selama beberapa bulan jika terjadi kondisi tidak terduga.
Selain itu, tentukan pula tujuan jangka panjang, seperti
membeli rumah, mempersiapkan biaya pendidikan, membangun investasi, atau
menyiapkan dana pensiun.
Dengan adanya target, kenaikan gaji tidak hanya menjadi alasan untuk meningkatkan pengeluaran. Tambahan pendapatan justru dapat menjadi kesempatan untuk memperkuat keamanan finansial.
Pada akhirnya, menikmati hasil kerja bukanlah sesuatu
yang salah. Yang perlu dihindari adalah ketika kenaikan penghasilan selalu
diikuti dengan kenaikan gaya hidup yang sama besarnya.
Jika gaji bertambah tetapi tabungan tidak ikut
berkembang, mungkin sudah waktunya mengevaluasi kembali ke mana uang digunakan.
Dengan mengontrol pengeluaran, menentukan prioritas, dan memberikan tujuan pada
setiap tambahan pendapatan, kenaikan gaji dapat benar-benar membawa perubahan
positif bagi kondisi finansial.
Muhammad Gustirha Yunas