Hobi Kasih Hate Comment? Ini Penjelasan Mengapa Orang Bisa Jahat di Media Sosial

  • Khopida Rahma

Pernah melihat komentar yang isinya nyinyir, menghina fisik, atau bahkan menyerang kehidupan pribadi seseorang di media sosial? Padahal, orang yang dikomentari belum tentu kenal dengan si pemberi komentar.

Media sosial memang menjadi ruang bagi siapa saja untuk menyampaikan pendapat. Namun, tidak semua komentar yang muncul bersifat positif. 

Menariknya, sebagian orang tampak lebih mudah menyampaikan komentar negatif di media sosial dibandingkan saat berinteraksi secara langsung. 

Lantas, apa yang membuat seseorang terdorong untuk memberikan hate comment di media sosial? Yuk, cari tahu!

Kenapa Orang Lebih Berani Berkomentar Jahat di Media Sosial?

Salah satu hal yang membuat seseorang lebih berani menulis komentar negatif adalah adanya jarak antara dirinya dan orang yang dikomentari. 

Saat berinteraksi lewat layar, kita nggak berhadapan langsung dengan ekspresi atau reaksi orang lain.

Apalagi jika menggunakan akun anonim atau identitas yang tidak mudah dikenali. Sebagian orang bisa merasa lebih bebas menyampaikan pendapat, bahkan hal-hal yang mungkin nggak akan mereka ucapkan saat bertemu langsung.

Fenomena ini dikenal sebagai online disinhibition effect, yaitu kondisi ketika seseorang cenderung lebih terbuka atau berani mengekspresikan diri di dunia digital dibandingkan dalam interaksi langsung.

Emosi yang Nggak Terkelola Bisa Memicu Komentar Negatif

Komentar jahat juga bisa jadi salah satu cara seseorang melampiaskan emosi. Misalnya, saat lagi kesal atau nggak setuju dengan suatu unggahan, seseorang bisa langsung mengetik komentar pedas tanpa pikir panjang.

Alhasil, kritik yang sebenarnya bisa disampaikan dengan baik malah berubah jadi hinaan atau serangan personal. 

Apalagi, interaksi di media sosial serba cepat. Kadang, seseorang langsung bereaksi saat melihat sesuatu yang bikin kesal tanpa sempat memikirkan dampak dari kata-katanya.

Namun, emosi bukan satu-satunya faktor yang bikin seseorang gemar memberikan hate comment. Kebiasaan dan lingkungan saat berinteraksi di media sosial juga bisa ikut memengaruhi perilaku tersebut.

Komentar Negatif Bisa Terus Berulang karena Mendapat Respons

Pernah lihat komentar pedas yang malah ramai atau jadi bahan perdebatan? Nah, semakin banyak respons yang muncul, interaksi negatif seperti ini bisa terus berlanjut.

Hal ini juga terlihat dalam penelitian yang dipublikasikan di Proceedings of the AAAI Conference on Web and Social Media pada 2024. 

Dari sekitar 80 ribu percakapan di Twitter yang diteliti, ditemukan bahwa pengguna yang mendapat balasan toxic cenderung lebih aktif melanjutkan percakapan. Bahkan, mereka juga berpotensi membalas dengan komentar toxic.

Temuan serupa juga muncul dalam penelitian yang diterbitkan di jurnal Nature pada 2024. Penelitian tersebut menemukan bahwa percakapan online yang berlangsung lebih lama cenderung memiliki tingkat toksisitas yang lebih tinggi.

Dari sini, bisa dilihat bahwa komentar negatif nggak selalu berhenti pada satu orang saja. Ketika dibalas dengan komentar negatif lainnya, interaksi tersebut justru bisa berkembang menjadi perdebatan yang semakin nggak sehat.

Dampak Hate Comment Nggak Bisa Dianggap Sepele

Buat orang yang menerima, komentar negatif tentu nggak selalu bisa dianggap sekadar tulisan di layar. 

Apalagi jika komentarnya terus berulang atau mulai menyerang hal-hal personal, seperti bentuk tubuh, penampilan, pekerjaan, sampai kehidupan pribadi.

Lama-kelamaan, komentar seperti ini bisa bikin seseorang merasa malu, minder, bahkan jadi takut atau enggan membagikan sesuatu di media sosial. Nggak cuma itu, serangan yang terus-menerus juga bisa memicu stres dan kecemasan.

Padahal, media sosial seharusnya bisa jadi ruang untuk bertukar pendapat. Jadi, beda pendapat boleh saja, tapi jangan sampai komentar kita justru menyakiti orang lain, ya, Oppal Gengs!

Baca juga: Multitasking Biar Sat-Set, Kok Malah Bikin Kepala Jadi Mumet? Ini Alasannya