Multitasking Biar Sat-Set, Kok Malah Bikin Kepala Jadi Mumet? Ini Alasannya

  • Khopida Rahma

Pernah nggak sih, niatnya cuma ngerjain satu kerjaan, tapi ujung-ujungnya malah handle banyak hal sekaligus?

Laptop buat kerja, HP buat balas chat, sambil sesekali scrolling Instagram atau TikTok. Belum selesai satu, sudah pindah ke kerjaan lain. Terus ada notifikasi masuk, fokus jadi buyar lagi.

Kelihatannya memang produktif karena banyak yang dikerjain dalam waktu bersamaan. Tapi anehnya, makin banyak yang dikerjakan, pikiran justru makin penuh dan tubuh ikut lelah.

Nah, kalau kamu sering ada di situasi ini, bisa jadi kebiasaan multitasking justru bikin otakmu kewalahan.

Ketika Otak Terlalu Banyak “Tab” yang Terbuka

Sederhananya, coba bayangkan otakmu seperti browser dengan puluhan tab yang terbuka. Ada tugas kantor, chat yang belum dibalas, email masuk, sampai hal-hal kecil yang sebenarnya nggak mendesak tapi tetap mengambil perhatian.

Tubuh memang tidak bergerak, tetapi otak tetap bekerja untuk memilah mana yang harus diperhatikan. Belum lagi kalau kamu terus berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain.

Kelihatannya memang seperti bisa mengerjakan banyak hal sekaligus. Padahal, dilansir dari American Psychological Association, multitasking sering kali berarti hanya berpindah-pindah fokus dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain.

Misalnya, baru beberapa menit mengerjakan laporan, lalu beralih untuk membalas chat. Setelah itu, mengecek email, kembali mengerjakan laporan, lalu kembali terdistraksi oleh notifikasi. 

Setiap kali berpindah fokus, otak membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri kembali. Jadi, bukan hanya karena terlalu banyak pekerjaan. Terlalu sering berpindah fokus juga dapat membuat otak cepat terkuras.

Overstimulasi Membuat Mental dan Tubuh Kewalahan

Ketika otak terus menerima berbagai informasi dalam waktu berdekatan, kamu bisa mengalami kondisi yang disebut overstimulasi. Kondisi ini terjadi ketika jumlah informasi atau rangsangan yang diterima terasa terlalu banyak.

Overstimulasi bukan hanya soal pekerjaan atau penggunaan gadget. Suara bising, lingkungan yang ramai, percakapan, cahaya, hingga aktivitas sehari-hari juga bisa menjadi stimulus yang membuat seseorang merasa kewalahan.

Selain memengaruhi mental, kondisi ini juga bisa membuat tubuh terasa ikut “drop”. Setelah seharian menerima banyak rangsangan, kamu mungkin merasa lelah, padahal tidak melakukan aktivitas fisik yang berat.

Baca juga: Kena Dry Promotion? Ini Pengertian, Tandanya, dan Cara Mengatasinya Tanpa Resign

Tanda-Tanda Kamu Overstimulasi

Setiap orang bisa merasakan overstimulasi dengan cara yang berbeda. Namun, beberapa ciri-ciri yang umum antara lain:

  • Sulit fokus meskipun sebenarnya ingin segera menyelesaikan pekerjaan
  • Kepala terasa penuh atau mudah blank
  • Mudah terdistraksi oleh suara, notifikasi, atau hal-hal kecil di sekitar
  • Cepat merasa kewalahan ketika melihat banyak tugas
  • Lebih mudah merasa kesal atau sensitif
  • Merasa lelah setelah terlalu lama menerima banyak informasi
  • Ingin sejenak scrolling untuk mengalihkan perhatian, tetapi tetap merasa lelah setelahnya

Otak Manusia Memang Punya Batas untuk Multitasking

Magnific.com/magnific

Multitasking memang terlihat seperti cara cepat untuk menyelesaikan banyak hal. Padahal, otak manusia sebenarnya punya batas dalam mengerjakan beberapa tugas sekaligus.

Menurut American Psychological Association (APA), saat berpindah dari satu tugas ke tugas lain, otak membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri. Proses ini disebut switching cost.

Waktunya mungkin hanya sebentar setiap kali berpindah tugas. Tapi kalau dilakukan terus-menerus, waktu yang terbuang bisa jadi cukup banyak.

APA juga mengutip penelitian David Meyer yang menyebut perpindahan tugas dalam kondisi tertentu bisa menghabiskan hingga 40% waktu produktif. Ini menunjukkan bahwa terlalu sering berpindah fokus bisa membuat waktu kerja terbuang tanpa disadari.

 Multitasking Bisa Berujung Burnout

Multitasking yang dilakukan secara terus menerus bisa membuat rasa lelah semakin menumpuk. Pada akhirnya, aktivitas sehari-hari bisa terganggu dan produktivitas jadi menurun, terutama ketika stres dan kelelahan tidak dikelola dengan baik.

Beberapa dampak yang mungkin terasa antara lain:

  • Pekerjaan jadi lebih sulit diselesaikan
  • Performa kerja ikut menurun
  • Kualitas tidur terganggu
  • Motivasi untuk menjalani aktivitas sehari-hari ikut berkurang

Masalahnya, multitasking sudah terlalu akrab dengan keseharian sampai rasa lelah pun sering dianggap biasa. Padahal, tubuh dan pikiran juga punya batas. 

Mungkin kita memang nggak selalu bisa menghindari multitasking. Ada pekerjaan yang harus selesai, chat yang harus dibalas, dan deadline yang nggak bisa ditunda. 

Namun, jika Oppal Gengs merasa lelah terus-menerus, sulit menikmati aktivitas, atau rasanya cuma ingin rehat sebentar dari semuanya, mungkin itu tanda untuk memberi diri sendiri sedikit ruang.

Jadi, nggak semua hal harus diselesaikan sekaligus, ya!