“In this economy, apa saja yang sudah kalian downgrade?”
Pertanyaan ini belakangan cukup relate dengan kehidupan banyak orang. Di tengah kebutuhan yang makin beragam, ada yang mulai memilih untuk mengurangi pengeluaran dengan cara mengganti barang atau gaya hidup ke versi yang lebih murah atau sederhana.
Tapi, alasan orang melakukan downgrade juga bisa berbeda-beda. Ada yang ingin cicilan lebih ringan, biaya perawatan lebih murah, menyesuaikan dengan kebutuhan, atau sekadar merasa versi yang lebih sederhana sudah cukup.
Jadi, pilihannya bukan selalu soal “nggak mampu”, tetapi bisa juga karena mulai lebih selektif menentukan apa yang memang dibutuhkan.
Baca juga: Multitasking Biar Sat-Set, Kok Malah Bikin Kepala Jadi Mumet? Ini Alasannya
Mobil Jadi Salah Satu yang Banyak Di-Downgrade
Hal ini terlihat dari sebuah postingan di Threads yang membagikan pengalaman menjual Honda HR-V dan menggantinya dengan mobil LCGC.
“In this economy, apa yg udah kalian downgrade? Me: jual HRV, beli LGCC:) Gapapa yaa yang penting fungsinya sama,” tulis pemilik akun @wulan_as17.
Postingan tersebut kemudian ramai dengan cerita serupa. Dari berbagai unggahan netizen, kendaraan menjadi salah satu hal yang cukup banyak disebut.
- “LCGC in this economy sangat membantu, udah BBM irit, pajaknya murah, spare part murah,” tulis akun @helda.hid.
- “Dari Honda HR-V dan Pajero ke Scoopy 🙂↕️ Alhamdulillah maantap bgtt,” tulis akun @putrimariadi_.
- “8 tahun pake Mini Cooper lalu menyerah dan ganti jadi Baleno, sumpaahhh enak bgt menjalani hari-hari,” tulis akun @levicaeldi.
Pilihan tersebut tentu membuat kelas kendaraannya berubah. Namun, kebutuhan utamanya tetap sama, yaitu kendaraan untuk menunjang aktivitas sehari-hari.
Selain harga beli, biaya penggunaan juga menjadi pertimbangan. LCGC, misalnya, dinilai lebih ringan untuk kebutuhan sehari-hari karena konsumsi BBM, pajak, hingga biaya suku cadangnya relatif lebih terjangkau.
Bukan Cuma Kendaraan, Rumah Juga Ikut Dipikirkan
Downgrade ternyata tidak berhenti di urusan kendaraan.
Salah satu pengguna Threads membagikan bahwa dirinya yang awalnya ingin membeli rumah seharga Rp1 miliar dengan cicilan, akhirnya memilih rumah seharga Rp300 juta yang bisa dibayar secara cash.
“Ingin rumah 1M nyicil. Ganti ke rumah 300jt cash,” tulis pemilik akun @rysputrapersada.
Perbedaannya memang cukup jauh. Rumah yang lebih murah berarti pilihan yang berbeda dari sisi lokasi, ukuran, atau fasilitas. Sebagai gantinya, pemiliknya bisa mendapatkan skema pembayaran yang dirasa lebih sesuai dengan kondisi finansialnya.
Yang Dicari Mulai Bergeser dari Gengsi ke Fungsi
Jika diperhatikan dari berbagai cerita tersebut, ada satu pola yang cukup terlihat, yaitu barang yang dipilih tidak harus yang paling mahal selama kebutuhannya tetap terpenuhi.
Mobil tetap bisa dipakai bepergian meskipun bukan SUV atau mobil premium. Motor tetap bisa mengantar ke tempat tujuan. Rumah yang lebih sederhana tetap bisa menjadi tempat tinggal.
Salah satu pengguna Threads bahkan menilai keputusan seperti ini bukan semata-mata soal “this is economy” atau downgrade, tetapi tentang melihat kebutuhan dengan lebih realistis.
“Ini bukan this is economy or downgrade yaaa. Artinya ego kamu sudah tidak tinggi lagi dan kamu lebih melihat kenyataan kehidupan sekarang seperti apa. Terkadang hidup seperti busur panah harus tarik mundur dulu kebelakang agar bisa tepat sasaran,” tulis pemilik akun @itsmwj27.
Jadi, Apa yang Bisa Di-Downgrade?
Setiap orang tentu punya kebutuhan dan prioritas yang berbeda. Ada yang tetap nyaman dengan mobil atau rumah yang lebih mahal, ada juga yang merasa pilihan yang lebih sederhana sudah cukup untuk kebutuhan sehari-hari.
Begitu juga dengan hal-hal lain seperti traveling, gadget, hingga fashion. Tidak ada pilihan yang lebih benar atau salah, karena semuanya kembali ke kebutuhan dan kondisi masing-masing.
Downgrade pun bukan berarti harus mengurangi semua hal yang disukai. Bisa saja hanya memilih versi yang lebih sederhana untuk hal-hal tertentu, sementara tetap mempertahankan pengeluaran untuk sesuatu yang memang dianggap penting.
Pada akhirnya, pilihan soal gaya hidup memang nggak bisa disamaratakan. Ada yang memilih menyederhanakan, ada juga yang tetap dengan pilihannya. Kalau Oppal Gengs sendiri, ada nggak lifestyle yang belakangan ini dipilih untuk di-downgrade?
Khopida Rahma