Ketika FIFA mengumumkan bahwa Piala Dunia 2026 akan digelar di tiga negara sekaligus, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, dunia sepak bola sudah memperkirakan turnamen ini akan menghadirkan banyak hal yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun, pengumuman terbaru mengenai rangkaian upacara pembukaannya menunjukkan bahwa edisi 2026 benar-benar akan mencetak sejarah baru.
Untuk pertama kalinya dalam 92 tahun penyelenggaraan Piala Dunia, turnamen ini akan diawali dengan tiga upacara pembukaan terpisah yang berlangsung di tiga kota berbeda dalam rentang dua hari. Seluruh konsep acara digarap oleh Balich Wonder Studio, agensi kreatif asal Italia yang juga dipercaya menangani upacara pembukaan Olimpiade Musim Dingin Milan-Cortina 2026.
Meski diselenggarakan di lokasi yang berbeda, ketiga pertunjukan tersebut diikat oleh satu narasi utama, yakni bagaimana trofi emas Piala Dunia dimaknai dan diterjemahkan melalui identitas budaya masing-masing negara tuan rumah. Dengan melibatkan sekitar 260 hingga 300 personel produksi untuk setiap acara, rangkaian opening ceremony ini menjadi salah satu pertunjukan langsung paling ambisius yang pernah disiapkan dalam sejarah olahraga dunia.
"Piala Dunia adalah momen yang dunia bagi bersama, dan itu dimulai dari cara kita membukanya. Dimulai dari Mexico City, dilanjutkan ke Toronto dan Los Angeles, upacara-upacara ini menyatukan musik, budaya, dan sepak bola dengan cara yang mencerminkan individualitas masing-masing bangsa sekaligus persatuan yang mendefinisikan turnamen ini," ucap Presiden FIFA Gianni Infantino.
Baca juga: Mengenal Trionda, Bola Piala Dunia 2026 yang Harus Di-Charge Sebelum Pertandingan
Babak Pertama: Mexico City, 11 Juni 2026
Ketika jarum jam menunjukkan pukul 11.30 waktu setempat, gerbang sejarah Estadio Azteca atau lebih dikenal Mexico City Stadium akan terbuka untuk menyambut dunia. Stadion megah berkapasitas 87.500 kursi ini bukan sekadar arena sepak bola biasa, melainkan satu-satunya stadion dalam sejarah yang pernah menjadi panggung tiga Piala Dunia berbeda, mulai dari final 1970 antara Brasil dan Italia, final 1986 ketika Argentina mengalahkan Jerman Barat, dan kini, pembuka 2026.
Setelah renovasi besar selama dua tahun, Azteca resmi dibuka kembali pada 28 Maret 2026, uji cobanya sendiri menarik 84.130 penonton yang menyaksikan Meksiko bermain imbang 0-0 melawan Portugal. Kini, stadion yang berdiri di ketinggian 2.200 meter di atas permukaan laut itu siap menanggung beban sejarah yang jauh lebih besar.
Hal meriah lainnya adalah kembalinya Shakira di panggung Piala Dunia setelah 16 tahun setelah melantunkan "Waka Waka (This Time for Africa)" di Afrika Selatan. Kali ini ia membawakan Dai Dai lagu resmi turnamen yang diciptakannya bersama Burna Boy, sebuah anthem yang menggabungkan energi Latin dengan ritme Afrika Barat. Lagu ini dirilis sebagai bagian dari dukungan FIFA terhadap Global Citizen Education Fund, menjadikan pembukaan itu bukan hanya pesta, tetapi juga pesan kepada dunia.
Barisan penampil yang hadir adalah perwakilan nyata dari kekayaan musik Amerika Latin. Maná, band rock veteran yang sudah lebih dari empat dekade mendominasi panggung Latin Amerika, Alejandro Fernández, Belinda, Danny Ocean, J Balvin, Lila Downs, hingga Los Ángeles Azules. Sekitar 90 menit kemudian, tepuk sorak berubah menjadi deru stadion ketika Meksiko dan Afrika Selatan berjalan masuk ke lapangan, mengulangi pertandingan pembuka yang sama persis dengan Piala Dunia 2010.
Baca juga: Deretan Fakta Piala Dunia 2026: Terbesar, Termegah dan Bersejarah
Babak Kedua: Toronto, 12 Juni 2026
Keesokan harinya, perhatian dunia bergeser ke utara. Toronto Stadium yang dahulu dikenal sebagai BMO Field, bersiap menyambut sesuatu yang belum pernah terjadi dalam sejarah sepak bola Kanada dengan menggelar pertandingan Piala Dunia di tanah air mereka sendiri. Upacara dimulai pukul 13.30 waktu setempat, 90 menit sebelum Kanada melangkah ke lapangan menghadapi Bosnia dan Herzegovina.
Jika Mexico City merayakan kedalaman budaya Latin, Toronto merayakan luasnya spektrum manusia. Bakal hadir sejumlah penyanyi ternama, di antaranya Michael Bublé, Alanis Morissette, Alessia Cara, Jessie Reyez, serta Elyanna yang merupakan penyanyi berusia 24 tahun berdarah Palestina-Chili yang menjadi salah satu artis Arab paling menonjol yang pernah tampil dalam sejarah Piala Dunia. Diikuti juga dengan Nora Fatehi, Sanjoy, Vegedream yang terkenal dengan anthem perayaan Piala Dunia Prancis 2018, Ramenez la Coupe à la Maison, serta dan William Prince.
Babak Ketiga: Los Angeles, 12 Juni 2026
Beberapa jam setelah Toronto, California mengambil alih panggung. SoFi Stadium di Inglewood, stadion paling baru di antara 16 venue yang digunakan dalam turnamen ini yang menjadi tuan rumah upacara ketiga yang dimulai pukul 16.30 waktu setempat. Sembilan puluh menit kemudian, Amerika Serikat akan menghadapi Paraguay di hadapan ribuan pendukung tuan rumah.
Los Angeles, kota yang identik dengan glamor, industri hiburan, dan kebudayaan pop global, tidak akan mengecewakan. Katy Perry yang lahir dan dibesarkan di California akan tampil sebagai ikon yang pulang ke kampung halaman di panggung terbesar yang pernah ada. Di sisinya berdiri Future, Lisa dari BLACKPINK, Tyla, Anitta dari Brasil serta Rema dari Nigeria turut hadir menjadikan panggung LA benar-benar sebuah pesta tanpa batas geografi.
Saifan Zaking