Belakangan ini, netizen dihebohkan dengan sosok pria Kanada bernama Frankie MacDonald. Pasalnya, ia bikin gempar dengan klaim bahwa gempa berkekuatan magnitudo 7,0 hingga 9,0 bakal menghantam Indonesia, khususnya Pulau Jawa, sebelum akhir 2026.
Video itu pun langsung disebar ulang ke sana kemari dengan judul yang makin dibumbui, seolah BMKG sudah mengkonfirmasi hari-H kiamatnya. Padahal, faktanya tidak sesederhana itu.
Siapa sih Frankie MacDonald sebenarnya, kenapa ramalannya bisa viral, dan apa kata lembaga resmi soal potensi gempa di Indonesia? Yuk, intip apa saja Oppal Gengs!
Frankie MacDonald (Sumber: Youtube Frankie MacDonald)
Baca Juga: Mengenal Erupsi Strombolian, Fase Baru Aktivitas Gunung Anak Krakatau
Frankie MacDonald Bukan Ilmuwan Gempa, Dia “Cuma” Kreator Konten
Sebelum ikut deg-degan, kenalan dulu sama sosok di balik video viral ini. Frankie MacDonald adalah pria asal Sydney, Nova Scotia, Kanada, yang dikenal sebagai prakirawan cuaca amatir sekaligus kreator konten media sosial.
Ia menyebut dirinya sendiri “weatherman” karena itu memang cita-citanya sejak kecil, tapi menurut penelusuran sejumlah media, tidak ada catatan pendidikan formal di bidang meteorologi atau geofisika yang mendukung kapasitasnya untuk membuat prediksi semacam ini.
Jadi ketika ada sebuah akun menyebutnya sebagai “pakar” atau “peneliti gempa”, itu jelas hoaks. Video yang bikin heboh soal Indonesia ini diunggah di kanal YouTube pribadinya dan hanya meraih sekitar 25.517 views serta 452 likes sebelum akhirnya menyebar liar lewat repost di X, Facebook, dan Instagram. Sumber ramalannya bukan data seismograf, melainkan feeling, ya betul Oppal Gengs! Perasaannya.
Ilustrasi gempa. (Sumber: Pexels)
Isi Klaim yang Bikin Netizen Ketar-Ketir
Dalam video yang diunggah 3 September 2026 lalu, Frankie menyebut, “Gempa bumi dahsyat lain akan melanda Indonesia sebelum 2026 berakhir. Hal ini akan menimbulkan banyak kerusakan di Indonesia, termasuk Jakarta dan Jawa.”
Ia bahkan menyarankan warga menyiapkan logistik darurat seperti senter, baterai cadangan, radio, dan air minum. Sebagian unggahan ulang bahkan melebih-lebihkan cakupan wilayahnya sampai disebut getarannya bisa dirasakan hingga Malaysia, Singapura, dan Filipina, plus memicu tsunami dan letusan gunung berapi sekaligus.
Masalahnya, tidak ada satu pun detail teknis soal metode, alat ukur, atau data seismologi di balik klaim tersebut. Artinya, itu semua murni pernyataan personal, bukan hasil kajian ilmiah yang bisa diverifikasi.
Kenapa Orang Percaya?
Pada 2016, Frankie sempat memprediksi gempa magnitudo 7,0 atau lebih akan mengguncang Selandia Baru, dan tiga minggu kemudian, gempa M7,8 benar-benar terjadi di Kaikōura pada 14 November 2016. Tahun ini pun ia sempat menyebut potensi gempa M7,0 pada Mei 2026, tak lama sebelum gempa M7,7 mengguncang Sulawesi.
Kedengarannya seperti cenayang, tapi ini contoh klasik apa yang disebut ilmuwan sebagai “survivorship bias”. Indonesia berada di Cincin Api Pasifik dengan ratusan kali gempa magnitudo signifikan setiap tahun, jadi menebak “akan ada gempa besar” itu ibarat menyatakan “akan terjadi hujan di negara tropis”, cepat atau lambat pasti kejadian. Yang diingat orang cuma saat tebakannya klop, sementara ramalan-ramalan meleset lainnya menguap begitu saja dari ingatan kolektif netizen.
BMKG Bicara Tegas: Ini Bukan Prediksi Ilmiah
Menanggapi kehebohan ini, Penjabat Kendali Mutu Data Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Pepen Supendi, langsung angkat bicara. “Menurut saya, pernyataan tersebut tidak dapat disebut sebagai prediksi gempa yang valid secara ilmiah,” tegasnya dikutip dari Kompas. Ia menjelaskan bahwa prediksi gempa yang sah harus mencantumkan metode dan peralatan yang dipakai, serta lokasi dan waktu yang spesifik hingga satuan jam, menit, dan detik, bukan rentang “sebelum akhir tahun”.
Pepen juga mengingatkan bahwa setiap kenaikan satu tingkat magnitudo berarti pelepasan energi 30-32 kali lebih besar, sehingga rentang klaim “M7 sampai M9” itu sebenarnya mencakup skala kekuatan yang jauh berbeda-beda, bukan angka yang bisa digebyah-uyah. Menurutnya, prediksi tanpa dasar ilmiah justru berisiko memicu kepanikan, mengganggu ekonomi, transportasi, pariwisata, sampai berpotensi menimbulkan korban akibat evakuasi serampangan.
Ilustrasi gempa. (Sumber: Pexels)
Bedakan”Potensi Megathrust” dengan “Prediksi Gempa”
Banyak yang mencampuradukkan dua istilah ini, padahal beda jauh. BMKG menegaskan bahwa pembahasan potensi gempa megathrust yang selama ini beredar bukanlah prediksi atau peringatan dini bahwa gempa besar akan segera terjadi.
“Informasi potensi gempa megathrust yang berkembang saat ini sama sekali bukanlah prediksi atau peringatan dini,” demikian pernyataan resmi BMKG.
Istilah “potensi” berarti suatu wilayah memiliki sumber gempa yang secara geologi mampu menghasilkan gempa besar, ini fakta tektonik, bukan jadwal kejadian. Angka magnitudo dalam kajian megathrust, misalnya skenario M9,0 di zona Megathrust Selat Sunda yang dipakai BMKG dalam latihan simulasi IOWAVE25, cuma dipakai untuk menyusun peta bahaya, standar bangunan, dan jalur evakuasi, bukan ramalan bahwa gempa sebesar itu pasti terjadi dalam waktu dekat.
Jadi, Ngapain Sekarang? Siaga Tentu Saja, Panik Jangan
Sampai di titik ini jelas: hingga sekarang belum ada teknologi apa pun di dunia, sehebat apa pun kanal YouTube-nya, yang bisa memprediksi tepat kapan, di mana, dan seberapa kuat gempa akan terjadi. BMKG menekankan hal yang sama secara konsisten. Tapi bukan berarti Oppal Gengs boleh cuek total, karena Indonesia memang secara geologis rawan gempa kapan saja.
Langkah realistisnya, kenali jalur dan titik evakuasi di sekitar rumah, terutama buat yang tinggal di kawasan pesisir, siapkan tas siaga bencana berisi obat-obatan, air minum, dokumen penting, dan senter, serta susun rencana komunikasi keluarga saat darurat. Kalau merasakan gempa kuat atau berlangsung lama di dekat pantai, tidak perlu menunggu sirene atau broadcast berantai, segera evakuasi mandiri ke tempat tinggi, lalu pantau update resmi lewat kanal BMKG, BNPB, atau BPBD setempat.
Kehebohan soal prediksi gempa Frankie MacDonald ini menunjukkan satu pola yang berulang terus. Bahwa, semakin viral kontennya, makin jauh jaraknya dari metode ilmiah. Padahal, semua itu jauh dari standar sebuah prediksi gempa yang bisa dipertanggungjawabkan secara sains.
BMKG sudah berkali-kali menegaskan hal yang sama, tapi rupanya algoritma media sosial memang lebih doyan konten yang bikin jantung dag-dig-dug ketimbang klarifikasi yang membosankan.
Potensi gempa di Indonesia itu nyata dan permanen karena posisi geografisnya, tapi itu beda jauh dengan kepastian jadwal kiamat versi video YouTube. Daripada energi Oppal Gengs habis buat panik dan sebar ulang video yang belum jelas kebenarannya, lebih baik dialihkan buat lebih waspada tapi tidak panik apalagi berlebihan. Perkara kapan terjadinya gempa itu, belum ada satu pun manusia atau teknologi yang benar-benar tahu jawabannya, termasuk Frankie MacDonald.
Boy Nugroho