Pernikahan Tanpa Amplop, Apakah Generasi Muda Mulai Mengubah Tradisi Sumbangan Kondangan?

  • Muhammad Arsyad

Amplop dan kondangan tak bisa dipisahkan. Amplop, berisi uang tentu saja, telah lama menjadi bagian dari tradisi kondangan di Indonesia. Ketika menghadiri pernikahan teman, saudara, rekan kerja, atau mantan pacar, kita biasanya membawa uang sebagai bentuk ucapan selamat, sekaligus membantu pasangan pengantin dan keluarga yang menggelar hajatan.


Tapi lambat laun, seiring berkembangnya zaman, fenomena ngasih uang dalam bentuk amplop ketika kondangan mulai bergeser. Generasi muda kini mulai akrab dengan transaksi digital, sehingga urusan perkondangan duniawi pun tak bisa lepas dari sana.




Pertanyaannya, apakah generasi muda sekarang sudah berhasil mengubah tradisi sumbangan dalam kondangan


Dari Amplop ke Transfer Digital


Perubahan ini sebenarnya sudah mulai terasa ketika undangan tak lagi dicetak. Kamu sering, kan, mendapat undangan dari handai tolan yang nun jauh di sana, tapi bukan dalam bentuk kertas, melainkan pesan di WhatsApp? Ya, orang mengenalnya dengan undangan digital.


Undangan digital tersebut bukan cuma berisi tanggal resepsi, nama calon mempelai, dan tempat, tapi juga dilengkapi dengan kode QRIS. Maksudnya disediakan adalah untuk siapapun yang menerima undangan tersebut, sekalipun tidak datang, bisa tetap memberi sumbangan.


Hal ini berkaitan erat dengan perkembangan teknologi. Orang jadi tidak perlu pergi ke ATM untuk mengambil uang saat mau kondangan. Tinggal scan kode QRIS-nya, masukkan nominal, urusan selesai. Menariknya, kode QRIS tidak hanya ada di undangan digital, tapi juga kadang kala disediakan di lokasi hajatan.


Baca juga: Trik Jam Tidur Biar Bangun Gak Lemes, Ini Kata Pakar dan Sains


Efisiensi


Menggeser dari kondangan amplop ke bentuk digital, jelas memudahkan. Bukan cuma penyumbang, tapi juga orang yang menggelar hajatan alias pengantin. Begini, ketimbang dalam bentuk angpao, pencatatan hasil sumbangan bisa lebih mudah dengan digital.


Pengantin tidak perlu merobek ratusan amplop dan membuangnya, cukup lihat nominalnya di smartphone. Ini juga bisa lebih ramah lingkungan. Semua dana tercatat rapi. Bahkan soal siapa yang mengirim uang juga kelihatan. Misalnya si A nyumbang 50 ribu, si B 25 ribu. Semua kelihatan.


Konsep Utang Sosial Tetap Ada, Cuma Bergeser Media Saja




Kalau ditelaah lagi, sebenarnya praktik amplop pernikahan sifatnya adalah sukarela. Namun, hal itu kemudian berubah menjadi semacam bentuk “utang sosial”. Tetapi di masyarakat tertentu, uang kondangan juga dipahami sebagai bentuk gotong royong dan solidaritas, selain harapan untuk disumbang balik dengan nominal serupa.


Nah, hal itulah yang dikritik oleh generasi muda atau Gen Z. Mereka mengkritik tradisi buku sumbangan tradisional yang acap kali dijadikan ajang mencatat nominal demi membalas sumbangan dengan jumlah yang sama di kemudian hari.


Banyak anak muda yang merasa terbebani dengan tradisi tersebut. Apalagi kita tahu kebanyakan anak muda di Indonesia masuk dalam kategori kelas menengah. Selain terhimpit secara ekonomi mereka juga banyak yang jadi sandwich generation.


Baca juga: Layanan Healing119 Kemenkes Alami Lonjakan Akses, Terima 500-600 Kontak per Hari


Lantas, apakah konsep utang sosial ini sirna ketika kondangan amplop bergeser ke QRIS? Ya jelas, jawabannya tidak. “Utang Sosial” ini tetap ada. Hanya saja medianya yang bergeser. Dari amplop ke transaksi digital. Sementara esensinya sebagai “utang sosial” tetap ada. 


Malahan dengan memakai QRIS atau pembayaran digital untuk kondangan, “utang sosial” itu semakin kentara dan sulit dihindari. Jika sebelumnya menggunakan amplop, pengantin tidak tahu siapa yang ngasih 10 ribu, sekarang dengan transaksi digital, pengantin jadi tahu. Oh ternyata Kang Bejo nyumbangnya cuma 10 ribu, sedangkan Pak Lurah 100 ribu.


Ini justru membuat generasi muda akan semakin tertekan, karena tahu bahwa nominal sumbangannya akan dilihat oleh si pengantin. Bukan tidak mungkin si pengantin juga akan membandingkan dengan tamu lain. Si pengantin juga tertekan. Sebab mau nggak mau ia tetap harus membalas nominal serupa.


Baca juga: Sauna atau Ice Bath Setelah Olahraga, Mana yang Cocok untuk Recovery?


Apakah Generasi Muda Benar-Benar Menghapus Tradisi?


Dari sini bisa kelihatan. Sebenarnya generasi muda dan Gen Z tidak benar-benar menghapus tradisi. Terutama yang berkaitan dengan “utang sosial” tadi. Ini hanya soal media.


Dari yang semula ketika mau kondangan kita repot mencari amplop, kadang minta ke teman. Sekarang tak perlu begitu. Ketika misal sampai di tempat hajatan lupa membawa amplop, kita juga tidak bisa beralasan tak bisa memberi sumbangan karena bisa lewat QRIS. Kecuali kalau hapenya juga ketinggalan.