Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah. Pada perdagangan hari ini, Jumat (15/5/2026), mata uang Indonesia resmi menyentuh level psikologis baru di angka Rp17.600-an per dolar AS. Pelemahan ini menjadi titik terendah rupiah sebelumnya.
Berdasarkan data pasar spot pagi ini, rupiah langsung dibuka tertekan dan merosot tajam ke angka Rp17.610,20 (09.15 WIB). Kondisi ini memperpanjang tren negatif mata uang domestik yang dalam satu bulan terakhir telah terdepresiasi lebih dari 2,25% akibat kombinasi tekanan global dan sentimen negatif dari pasar ekuitas.
Faktor Pemicu: Geopolitik dan Harga Minyak
Analis pasar uang menyebutkan bahwa pelemahan ini didorong oleh meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah, khususnya ketegangan antara AS dan Iran yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Hal ini memicu lonjakan harga minyak mentah dunia, yang secara langsung memberikan tekanan berat pada neraca perdagangan dan stabilitas rupiah.
Selain faktor eksternal, sentimen risk-off di pasar domestik juga turut memperparah keadaan. Aliran modal asing yang keluar (capital outflow) dari pasar saham (IHSG) membuat permintaan terhadap dolar AS terus melonjak, sementara pasokan valas di pasar dalam negeri cenderung terbatas.
Warga Mulai Panik, Harga Barang Merangkak Naik
Dampak dari ambruknya nilai tukar rupiah ini mulai dirasakan langsung oleh masyarakat. Mengutip dari berbagai sumber, kepanikan mulai melanda warga seiring dengan kenaikan harga sejumlah barang pokok dan alat elektronik yang berbasis impor.
Kondisi ekonomi yang semakin berat ini memaksa konsumen untuk beralih ke produk-produk alternatif yang lebih murah, terutama produk asal China yang harganya dianggap masih relatif terjangkau dibandingkan merek global lainnya.
Menanggapi situasi darurat ini, Bank Indonesia (BI) diharapkan segera melakukan intervensi agresif di pasar valuta asing, baik melalui transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), maupun pembelian SBN di pasar sekunder.
Para analis memprediksi bahwa tanpa intervensi yang kuat, rupiah masih berpotensi bergerak liar di rentang Rp17.550 hingga Rp17.700 dalam beberapa hari ke depan. WDYT?
Bayu Dewantara