Sepertinya kita semua tahu bahwa di mana-mana sedang beredar kabar masif mengenai perkembangan misi Artemis II. NASA secara resmi telah meluncurkan misi berawak pertama ke Bulan sejak tahun 1972 ini, yang sekaligus mencetak rekor baru sebagai misi yang membawa manusia terjauh dari Bumi sepanjang sejarah.
Berita-berita besar mulai bermunculan: "Setengah Jalan ke Bulan, Astronaut Artemis 2 Jauh Tinggalkan Bumi" hingga momen emosional saat misi ini berhasil mengabadikan kembali foto ikonik 'Earthrise' dari sisi jauh Bulan. Foto yang memperlihatkan Bumi terbit di cakrawala Bulan itu seharusnya menjadi bukti tak terbantahkan tentang kemajuan peradaban kita. Namun, kenyataannya di media sosial justru berbeda.
Anomali Komen Netizen tentang NASA
Menariknya, di balik deretan berita pencapaian luar biasa tersebut, kolom komentar selalu diwarnai oleh anomali. Bukannya apresiasi atau rasa bangga sebagai sesama manusia, kita justru disuguhi komentar-komentar skeptis yang meragukan keaslian misi ini. Ada yang bilang itu rekaman lama, ada yang bilang itu editan studio di Nevada, hingga tuduhan bahwa semua ini hanyalah pengalihan isu global.
Tanpa perlu kelarin S3 ilmu astronomi pun, kita sebenarnya bisa mengambil kesimpulan sederhana mengenai pemahaman sebagian orang Indonesia yang memandang misi Artemis II secara skeptis. Mungkin keraguan ini bisa dimaklumi, karena dalam foto yang dipotret astronaut NASA, bentuk Bumi itu bulat sempurna, bukan segitiga, kotak, apalagi gepeng seperti yang diyakini sebagian kelompok. Perdebatan klasik antara pendukung Bumi Bulat dan kaum Bumi Gepeng (Flat Earth) pun kembali pecah di kolom komentar.
3 Teori Konspirasi yang Masih Awet
Teori konspirasi seputar pendaratan manusia di permukaan Bulan ini memang luar biasa "awet". Bayangkan, narasi ini masih bertahan lebih dari 50 tahun sejak pertama kali Neil Armstrong dan Buzz Aldrin menjejakkan kaki di sana dalam misi Apollo 11.
Banyak kejanggalan yang dirangkum oleh mereka yang denial. Argumen yang paling sering diputar ulang adalah soal bendera Amerika Serikat yang terlihat berkibar di Bulan, padahal Bulan tidak memiliki atmosfer alias tidak ada angin. Selain itu, mereka sering mempertanyakan tidak adanya bintang dalam foto-foto pendaratan NASA. Padahal, semua kejanggalan itu sudah dijawab tuntas dengan bukti konkret oleh para ilmuwan—seperti penggunaan tiang penyangga horizontal agar bendera tetap tegak dan masalah exposure kamera yang membuat bintang tidak tertangkap sensor saat memotret objek terang di permukaan Bulan.
Dulu Belum Ada Teknologi, Sekarang Dikira AI
Ketidakpercayaan terhadap NASA sebenarnya memiliki pola yang menarik. Sejak tahun 1969, alasan utama orang tidak percaya adalah karena menganggap teknologi saat itu belum memadai untuk membawa manusia pergi sejauh 384.400 kilometer dan kembali dengan selamat. Mereka menganggap pendaratan itu hanyalah film arahan sutradara Hollywood di sebuah studio rahasia.
Lucunya, saat ini ketika teknologi sudah sangat maju, skeptisisme itu tidak hilang, tapi hanya berganti baju. Jika dulu dianggap film studio, sekarang konten-konten dari Artemis II dianggap sebagai hasil rekayasa CGI, penggunaan green screen, hingga kecanggihan AI. Bagi mereka, seberapa pun jernihnya foto bumi yang dikirimkan astronaut, itu hanyalah hasil prompt dari kecerdasan buatan. Seolah-olah, tidak ada ruang bagi kebenaran jika itu tidak sesuai dengan apa yang ingin mereka percayai.
Antara Sains dan Psikologis
Namun, terlepas dari perdebatan teknis yang melelahkan itu, fenomena ini sebenarnya bukan cuma soal sains, tapi juga soal psikologis. Ada rasa kepuasan tersendiri bagi seseorang ketika merasa "tahu rahasia besar" yang tidak diketahui orang awam. Ini adalah mekanisme pertahanan diri terhadap kompleksitas dunia.
Ilmu antariksa memang sangat rumit dan sulit dicerna secara instan. Menghitung orbit, memahami gravitasi, hingga radiasi sabuk Van Allen membutuhkan literasi yang tinggi. Di tengah distraksi informasi yang luar biasa, narasi "rekayasa" atau konspirasi menjadi penjelasan yang paling gampang diterima oleh logika secara sederhana. Daripada pusing belajar fisika kuantum, lebih mudah untuk bilang, "Ah, itu mah editan!"
Pada akhirnya, misi Artemis II bukan hanya sedang menguji ketahanan wahana antariksa kita, tapi juga sedang menguji sejauh mana masyarakat kita bisa menerima kemajuan ilmu pengetahuan tanpa terjebak dalam lubang hitam teori konspirasi.
Bayu Dewantara