Joseph Paredes memilih jalur nontradisional dengan tidak melanjutkan kuliah karena terkendala biaya, lalu membangun karier sebagai tukang las hingga berpenghasilan sekitar Rp1,6 miliar per tahun.
Profesi pengelasan dianggap lebih tahan terhadap ancaman AI karena tetap membutuhkan keterampilan fisik, pengawasan manusia, serta kemampuan menyelesaikan masalah langsung di lapangan.
Meningkatnya kekhawatiran terhadap AI membuat sebagian generasi muda mulai melirik pekerjaan keahlian seperti las, plumbing, dan landscaping yang dinilai lebih sulit diotomatisasi.
Work-life balance menjadi pertimbangan penting dalam memilih karier. Paredes beralih dari pekerjaan sebelumnya yang menuntut mobilitas tinggi demi memiliki lebih banyak waktu bersama keluarga.
Ketika banyak pekerja muda khawatir kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) akan mengubah bahkan menghilangkan berbagai jenis pekerjaan, Joseph Paredes justru menemukan peluang dari profesi yang selama ini kerap dipandang sebelah mata. Pria berusia 26 tahun asal Amerika Serikat itu memilih menekuni bidang pengelasan dan berhasil membangun karier yang memberinya penghasilan hingga US$100.000 atau sekitar Rp1,6 miliar per tahun.
Keputusan tersebut tidak datang dari jalur yang umum ditempuh banyak anak muda. Paredes tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi karena terkendala biaya dan tidak memperoleh beasiswa. Alih-alih mengejar gelar akademik, ia memilih langsung masuk ke dunia kerja dan mengembangkan keterampilan yang bisa digunakan secara praktis di lapangan. Lalu, bagaimana keputusan yang awalnya lahir karena keterbatasan biaya itu bisa mengantarkannya meraih penghasilan hingga Rp1,6 miliar per tahun?
Dari Teknisi Listrik ke Profesi Pengelasan
Sebelum menjadi tukang las, Paredes sempat bekerja sebagai teknisi listrik. Pekerjaan itu mengharuskannya bepergian hampir setiap hari dari Katy, Texas, menuju Louisiana selama enam hari dalam seminggu. Mobilitas yang tinggi membuatnya sulit menikmati waktu bersama keluarga.
Keinginan untuk mendapatkan keseimbangan hidup yang lebih baik akhirnya mendorongnya mencari jalur karier lain. Saat mencoba dunia pengelasan, ia merasa cocok dengan pekerjaan tersebut. Menurutnya, kemampuan untuk belajar cepat dan etos kerja yang kuat menjadi modal utama hingga akhirnya mampu berkembang di bidang tersebut.
"Saya punya etos kerja yang bagus dan cepat belajar. Saya coba, dan ternyata cocok," ujarnya, mengutip CNBC Indonesia (24/6/2026).
Mengapa Tukang Las Dinilai Lebih Aman dari AI?
Di tengah maraknya perkembangan AI, Paredes menilai profesi yang ia jalani masih relatif aman dari ancaman otomatisasi. Meski robot telah banyak digunakan di pabrik dan sektor manufaktur, ia percaya teknologi tersebut tetap membutuhkan campur tangan manusia.
Menurutnya, robot tidak bisa sepenuhnya menggantikan manusia dalam memastikan kualitas hasil pekerjaan maupun menangani berbagai kondisi yang muncul di lapangan. Kehadiran teknologi justru sering kali membutuhkan operator dan tenaga ahli yang memahami proses kerja secara langsung.
"Kita masih butuh orang fisik, manusia, supaya robot-robot itu bisa bekerja," katanya.
Pandangan tersebut sejalan dengan berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa pekerjaan yang mengandalkan keterampilan fisik, ketelitian manual, dan pemecahan masalah secara langsung masih lebih sulit diotomatisasi dibanding pekerjaan administratif atau berbasis komputer.
Pergeseran Pilihan Karier Generasi Muda
Kisah Paredes mencerminkan perubahan cara pandang sebagian generasi muda terhadap masa depan pekerjaan. Jajak pendapat Reuters/Ipsos pada 2025 menunjukkan mayoritas warga Amerika Serikat khawatir AI akan menghilangkan banyak lapangan kerja dalam beberapa tahun mendatang.
Kekhawatiran tersebut mendorong meningkatnya minat terhadap pekerjaan berbasis keterampilan teknis seperti pengelasan, plumbing, hingga landscaping. Profesi-profesi tersebut dianggap memiliki daya tahan lebih baik terhadap perkembangan teknologi karena membutuhkan kemampuan fisik dan pengalaman lapangan yang sulit direplikasi mesin.
Studi Pearson pada 2023 bahkan memperkirakan AI berpotensi mengambil alih hingga 46 persen tugas pada sejumlah pekerjaan kerah putih pada 2032. Sebaliknya, pekerjaan kerah biru yang paling terdampak diperkirakan hanya sekitar 27 persen, menunjukkan adanya perbedaan tingkat kerentanan terhadap otomatisasi.
Kuliah Bukan Satu-Satunya Jalan Menuju Sukses
Pengalaman Paredes juga menjadi pengingat bahwa gelar kuliah bukan satu-satunya jalur untuk mencapai stabilitas ekonomi. Di tengah tingginya biaya pendidikan dan meningkatnya kekhawatiran terhadap utang mahasiswa, banyak anak muda mulai mempertimbangkan jalur nontradisional yang berfokus pada penguasaan keterampilan tertentu.
Profesi keahlian seperti pengelasan menawarkan peluang untuk langsung masuk ke dunia kerja sekaligus membangun pendapatan yang kompetitif. Selama permintaan terhadap tenaga terampil tetap tinggi, kemampuan teknis yang spesifik justru bisa menjadi aset yang semakin bernilai di era digital.
Selain itu, faktor work-life balance juga semakin menjadi pertimbangan penting. Banyak generasi muda tidak hanya mengejar penghasilan, tetapi juga pekerjaan yang memungkinkan mereka memiliki waktu lebih baik untuk keluarga dan kehidupan pribadi.
Pada akhirnya, kisah Joseph Paredes menunjukkan bahwa masa depan karier tidak selalu harus mengikuti jalur yang dianggap paling umum. Di tengah gempuran AI dan perubahan besar dalam dunia kerja, keterampilan praktis yang sulit digantikan teknologi masih memiliki nilai tinggi. Bagi sebagian orang, memilih profesi berbasis keahlian teknis bukan sekadar alternatif, melainkan strategi untuk membangun karier yang lebih stabil, relevan, dan tahan terhadap perubahan zaman. Kalau Oppal Gengs sendiri, apakah profesi berbasis keterampilan seperti tukang las masih menarik untuk dipertimbangkan sebagai pilihan karier di era AI?
Reyvan