Manual Brew vs Kopi Sachet, Beda Rasa Beneran atau Cuma Gengsi?

  • Boy Nugroho


Mungkin di medsos Oppal Gengs pernah kesenggol war receh soal kopi. Satu kubu asik nenteng V60 sambil bahas notes buah-buahan di kopi Gayo mereka, kubu satunya santai aja sobek kopi sachet, tuang air panas, aduk, lalu sruput. Terus muncul deh kalimat sakti: “ih masa masih minum kopi sachet, itu mah bukan kopi beneran”. Auto bikin baper yang doyan kopi sachet, kan?


Ironisnya, yang nyinyir soal manual brew vs kopi sachet ini kadang nggak ngerti juga apa bedanya secara sains, cuma ikut-ikutan gaya biar kelihatan “berkelas”. Padahal kopi sachet itu sudah jadi teman setia jutaan orang Indonesia dari generasi ke generasi dan harganya ramah kantong.


Jadi, sebenernya apa sih salahnya minum kopi sachet? Apakah beneran soal rasa, atau cuma soal gengsi doang? Berikut pembahasannya biar Oppal Gengs nggak ikutan nge-judge.


Baca Juga: Bukan Sekadar Budaya Ngopi, Indonesia Punya Kedai Kopi Terbanyak di Dunia


Beda Proses, Beda Karakter

Manual brew vs kopi sachet sebenarnya beda dari akarnya. Kopi specialty yang diseduh manual (V60, aeropress, moka pot, dan lain-lain) biasanya pakai biji dengan nilai cupping minimal 80 dari skala 100 menurut standar Specialty Coffee Association (SCA), dinilai dari aroma, keasaman, body, sampai aftertaste oleh Q-grader bersertifikat. Prosesnya panjang, mulai dari petik merah selektif, roasting terkontrol, sampai penyeduhan yang bisa diatur suhu dan waktunya sesuai selera penyeduh.


Ilustrasi menuangkan kopi manual brew. (Sumber: Pexels)


Sedangkan kopi sachet lewat jalur berbeda. Riset menyebut proses kopi murni cuma butuh dua tahap yakni sangrai dan penggilingan, sementara kopi kemasan harus melalui serangkaian metode seperti ekstraksi, pengeringan, aromatisasi, dan pengemasan, plus tambahan krimer dan perisa instan. Makanya rasa kopi sachet cenderung lebih seragam dan “aman” di lidah orang Indonesia, sementara manual brew punya karakter rasa yang lebih kompleks dan unik tergantung origin bijinya, misalnya penelitian soal kopi Toraja yang diseduh pakai metode V60 menunjukkan karakter bioaktif dan sensorik yang khas. Jadi bedanya rasa itu nyata, bukan halu, tapi bukan berarti salah satu “kopi beneran” dan satunya bukan.


Perbedaan Harga

Nah ini dia faktor yang paling nempel ke keseharian Oppal Gengs. Harga kopi sachet dan kopi seduh manual di kafe itu jomplang banget. Harga kopi di kedai biasanya paling murah Rp10.000 per cangkir, sementara kopi bungkus atau sachet cuma berkisar Rp2.000. Kalau dihitung sebulan, konsumen kopi kedai bisa keluar sekitar Rp300.000, sedangkan penikmat kopi sachet cuma habis sekitar Rp60.000, beda lima kali lipat!


Data konsumen juga menunjukkan realitanya. Survei Snapcart 2023 terhadap 4.538 responden menemukan kisaran harga kopi yang dibeli mayoritas responden ada di Rp6.000-Rp20.000, dengan produk sachet sebagai pilihan paling umum. Jadi wajar saja kalau kopi sachet tetap juara di rak minimarket dan warung, bukan karena “seleranya rendahan”, tapi karena masuk akal secara ekonomi, apalagi buat yang minum kopi lebih dari sekali sehari.


Faktor Kesehatan

Ini bagian yang sering disalahpahami. Banyak yang nge-judge kopi sachet “nggak sehat”, padahal masalah utamanya bukan di kopinya, tapi di campurannya. Risiko kesehatan muncul kalau kandungan gula di kopi sachet terlalu banyak, yang bisa memicu diabetes atau sindrom metabolik, dan kombinasi gula tinggi plus kafein berpotensi menaikkan tekanan darah. Selain itu, bahaya kopi instan datang dari tambahan gula atau krimer yang meningkatkan kadar gula tubuh, plus bahan pengawet dan pengatur keasaman di sejumlah produk.


Tapi bukan berarti semua kopi sachet jahat lho. Sekarang sudah banyak varian rendah gula bahkan tanpa gula sama sekali, misalnya produk yang hanya mengandung sekitar 5 kkal per sachet karena tanpa tambahan gula, cocok buat pemula yang mau coba kopi hitam. Di sisi lain, kopi manual brew nggak otomatis lebih sehat kalau ujung-ujungnya ditambah gula aren, susu kental manis, atau boba segunung. Jadi soal sehat-tidaknya itu balik lagi ke isi gelas, bukan ke gengsi metode seduhnya.


Simbol Status atau Sekadar Selera?

Sekarang masuk ke akar masalah sebenarnya, yaitu gengsi. Kopi specialty memang identik dengan citra “kelas atas” karena rantai produksinya panjang dan mahal, mulai dari petani sampai barista. Tapi sebenarnya harga tinggi kopi specialty itu bukan karena citra mewah, melainkan karena biaya dan perhatian pada kualitas di setiap tahap produksi, dari bibit unggul, ketinggian tanam, sampai proses petik selektif.


Kopi hitam. (Sumber: Pexels)


Masalahnya, gengsi ini sering dipakai buat flexing di media sosial, bukan murni soal apresiasi rasa. Padahal riset konsumen kopi Indonesia menunjukkan realita yang jauh lebih membumi, bahwa pria peminum kopi lebih banyak memilih menyeduh bubuk kopi campur gula dan seduhan komplit dengan gula plus creamer, sementara manual brew masih jadi minoritas dari total populasi peminum kopi. Artinya, kopi sachet itu representasi selera mayoritas orang Indonesia, bukan tanda “kelas bawah”. Nge-judge orang yang minum kopi sachet sama aja kayak nge-judge orang yang nggak minum americano, receh dan nggak nyambung sama esensi ngopi itu sendiri.


Nah, sudah tahu kan kalau manual brew vs kopi sachet itu memang beda dari segi rasa, proses, harga, dan bahkan kandungan gizinya. Manual brew unggul di eksplorasi rasa dan karakter biji, kopi sachet unggul di harga dan kepraktisan. Keduanya punya tempat masing-masing, tergantung kebutuhan dan budget Oppal Gengs.


Jadi lain kali ada yang julid soal pilihan kopi kamu, nggak usah baper. Yang penting kopi itu nemenin hari kamu dengan cara yang bikin nyaman dan nggak bikin kantong jebol atau gula darah meroket. Ujung-ujungnya, secangkir kopi sachet atau manual brew itu cuma selera, bukan identitas. Selamat ngopi, Oppal Gengs!