Di era media sosial, banyak orang terdorong untuk terus menunjukkan pencapaian pribadi, mulai dari karier, gaya hidup, hingga pencapaian kecil sehari-hari. Di tengah budaya yang serba kompetitif itu, konsep Janteloven justru menawarkan sudut pandang berbeda tentang kesederhanaan dan kebersamaan.
Janteloven merupakan norma sosial yang populer di negara-negara Nordik seperti Denmark, Norway, dan Sweden. Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh penulis Aksel Sandemose dalam novel A Fugitive Crosses His Tracks pada 1933. Dalam bukunya, ia menggambarkan “sepuluh aturan” yang pada dasarnya mengingatkan seseorang agar tidak merasa lebih hebat dari orang lain.
Meski kerap dianggap terlalu membatasi ambisi individu, banyak orang melihat Janteloven dari sisi yang lebih positif. Filosofi ini justru dinilai membantu menciptakan masyarakat yang lebih setara dan rendah hati.
1. Mengajarkan sikap rendah hati
Janteloven mengingatkan bahwa kesuksesan tidak harus selalu diumbar. Nilai ini membantu seseorang tetap membumi meski memiliki pencapaian besar. Sikap rendah hati juga membuat hubungan sosial terasa lebih sehat karena tidak ada kebutuhan untuk saling pamer atau berkompetisi secara berlebihan.
2. Mendorong rasa kebersamaan
Alih-alih fokus pada pencapaian individu, Janteloven menekankan pentingnya kepentingan bersama. Nilai ini dinilai berkontribusi pada budaya kolektif yang kuat di negara-negara Nordik, termasuk tingginya tingkat kepercayaan sosial antarwarga.
3. Mengurangi tekanan sosial
Di tengah tren hustle culture, banyak orang merasa tertinggal ketika melihat pencapaian orang lain. Janteloven bisa menjadi pengingat bahwa hidup bukan perlombaan. Setiap orang punya waktunya masing-masing tanpa harus membandingkan diri secara terus-menerus.
4. Membantu menciptakan lingkungan yang lebih egaliter
Budaya ini juga dikaitkan dengan pola hidup yang lebih sederhana dan minim hierarki sosial. Dalam lingkungan kerja maupun pertemanan, semua orang dianggap setara tanpa terlalu menonjolkan status.
5. Mengajarkan empati terhadap orang lain
Ketika seseorang tidak selalu berusaha menjadi pusat
perhatian, ada lebih banyak ruang untuk mendengarkan orang lain. Dari sini,
empati dan kepedulian sosial bisa tumbuh lebih kuat.
Meski begitu, Janteloven tetap perlu disikapi secara seimbang. Rendah hati bukan berarti mengecilkan diri sendiri atau takut berkembang.
Nilai positif dari filosofi ini bisa diambil sebagai pengingat untuk tetap percaya diri tanpa kehilangan empati dan rasa hormat kepada orang lain.
Pada akhirnya, di tengah dunia yang sering menuntut
validasi, Janteloven menawarkan pesan sederhana, yaitu sukses itu penting, tapi
tetap membumi juga nggak kalah berharga.
Muhammad Gustirha Yunas