Tidur sering kali dianggap sebagai kegiatan yang tidak produktif. Bermalas-malasan saja. Di sekolah, siswa yang tidur akan ditegur. Di kantor, karyawan yang ngorok diomeli. Tapi pernah nggak sih kamu terbayang bahwa seseorang dibayar mahal karena tidur?
Ya, ada pekerjaan yang dinamakan professional sleeper. Terdengar lucu. Tapi pekerjaan ini beneran ada. Hanya saja banyak yang salah memahami. Professional sleeper bukan berarti kamu dibayar hanya untuk tidur. Atau tidur tapi dibayar. Lantas, seperti apa sebetulnya pekerjaan ini?
Apa Itu Professional Sleeper?
Sebetulnya, professional sleeper tidak sesederhana kamu tidur dan mendapat uang dari sana. Pekerjaan ini kenyataannya justru lebih tepat disebut subjek uji atau tester. Jadi aktivitas tidur seseorang akan digunakan sebagai subjek untuk membantu penelitian, mengembangkan produk, atau mengevaluasi layanan. Ada sejumlah bidang yang membutuhkan pekerjaan ini.
Penguji kasur atau produk tidur
Perusahaan perlengkapan tidur seperti kasur, bantal, selimut, atau perangkat tidur lain acap membutuhkan professional sleeper. Mereka sering kali meminta seseorang untuk mencoba produknya selama beberapa malam.
Setelah bangun, tester biasanya akan memberi penilaian. Seberapa nyaman, tingkat kekerasan kasur, suhu, kualitas tidur, dan lain sebagainya. Inilah yang nanti digunakan untuk, entah mengevaluasi produk atau menjadi bahan marketing.
Subjek penelitian tidur
Kemudian bidang ilmiah. Seorang peneliti, khususnya seorang peneliti tidur membutuhkan professional sleeper. Peserta akan diminta tidur di laboratorium dengan jadwal tertentu.
Selama tidur, peneliti mungkin memantau berbagai parameter menggunakan sensor atau perangkat pemantau tidur. Tujuannya untuk mempelajari gangguan tidur, pola tidur, atau respons tubuh terhadap kondisi tertentu.
Hotel dan rumah sakit
Hotel dan rumah sakit juga membutuhkan professional sleeper. Mereka akan meminta para sleep tester atau penguji tidur untuk menginap di sebuah hotel. Lewat pengalaman tidur di hotel yang bersangkutan, ia lalu diminta memberi penilaian.
Yang dinilai bukan cuma kasurnya, tapi juga temperatur, kebisingan kamar, pencahayaan, bantal, hingga suasana kamar secara keseluruhan. Nah yang begini juga dibutuhkan oleh rumah sakit. Di mana penguji tidur akan menilai seberapa nyaman kamar rumah sakit, sebelum digunakan oleh pasien sesungguhnya
Baca juga: Bikin Kejutan Buat Penggemar, Girls' Generation HRS debut dengan “Skibidi”
Jadi, Apa yang Sebenarnya Dilakukan?
Banyak yang salah paham bahwa ini adalah pekerjaan yang sederhana. Orang masuk kamar, tidur, bangun, lalu dibayar. Padahal tidak sesimpel itu. Kenapa? Sebab seorang professional sleeper harus mengikuti jadwal tidur yang ditentukan.
Tidak cuma itu. Seorang professional sleeper juga diharuskan mencatat pengalaman tidurnya, mengisi survei, menjaga rutinitas tertentu, hingga mengikuti wawancara setelah tidur. Kalau dalam penelitian, para professional sleeper ini juga diminta memakai alat pemantau tidur dan menjalani pemeriksaan kesehatan.
Maka, bukan hanya kemampuan soal tidur. Karena semua orang jelas bisa melakukan ini, kecuali yang doyan insomnia. Tapi yang paling penting adalah keahlian dalam memberikan feedback. Karena yang dibutuhkan bukan cuma “tidur saya nyenyak” atau “kasurnya enak”. Tapi harus bisa menjelaskan.
Kalau nyenyak, nyenyak yang bagaimana? Kalau kasurnya enak, apanya yang bikin enak? Mungkin punggung terasa nyaman, tidak melahirkan pegal-pegal, tubuh tak terasa panas, dan lain sebagainya. Soal tidur pun harus bisa jelasin. Semudah apa tidur? Terus apakah kebangun di tengah malam?
Baca juga: 7 Hal yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Ikut Race Lari Pertama
Bukan Pekerjaan Mudah
Di situlah letak kenapa professional sleeper bukan pekerjaan yang mudah. Dalam bayangan kamu mungkin, ah paling tidur doang. Padahal enggak, karena harus bisa tidur dalam kondisi yang ditentukan. Bukan sesuai keinginan kamu. Bagi orang yang tidak terbiasa tidur saja diatur, jelas ini sulit.
Sebab yang dibutuhkan bukan cuma mau tidur, tapi bersedia mengikuti protokol yang diwajibkan. Dan kondisi ini, sekali lagi, tidak selalu nyaman bagi setiap orang.
Baca juga: Sinopsis Insidious: Out of the Further, Film Terbaru 2026!
Apakah Bisa Menjadi Pekerjaan Tepat?
Pertanyaan berikutnya, apakah menjadi professional sleeper bisa jadi pekerjaan tetap? Jawabannya tidak. Sebab pekerjaan ini sifatnya niche, kontrak, atau dalam proyek tertentu. Biasanya bersifat sementara. Jadi professional sleeper bukan pekerjaan full-time seperti dokter, guru, karyawan, melainkan lebih ke part-time atau freelance.
Baca juga: Setelah 10 Tahun, Akhirnya Instagram Ubah Font Logo In App Mereka
Lalu, berapa gajinya? Gajinya tidak tentu. Pendapatan yang diperoleh bergantung pada durasi, jenis penelitian, persyaratan peserta, dan perusahaan yang menyelenggarakannya.
Di luar negeri, orang bisa mendapatkan ratusan juta dari menjadi professional sleeper. Tapi, sekali lagi perlu ditekankan bahwa ini bukan penghasilan yang pasti. Jadi, kalian tertarik untuk menjadi professional sleeper?
Muhammad Arsyad