Mengenang Martha Tilaar, Pelopor Kecantikan Nusantara yang Merintis dari Garasi Menteng

  • Muhammad Ichsan

Kabar duka kembali hadir dari dunia kecantikan Indonesia. Pendiri Martha Tilaar Group, Dr. (H.C.) Martha Tilaar, telah berpulang pada Rabu (14/10/2026) pagi di usianya yang menginjak 89 tahun. Kabar ini langsung disampaikan oleh keluarga besar mendiang sekaligus organisasi Tiara Kusuma, tempat Martha menjabat sebagai Dewan Kehormatan. Jenazahnya langsung disemayamkan di Rumah Duka Patra Kuningan, Jakarta Selatan. Keluarga menulis, “Cantiknya jiwa ragamu akan selalu kami kenang,” dalam pernyataan duka mereka.


Source: AFU.id

Sosok Penting di Balik Sariayu

Martha lahir di Kebumen, Jawa Tengah, pada 4 September 1937, dan mempunyai nama asli Martha Handana. Ia tumbuh di lingkungan keluarga yang sangat kental dengan tradisi jamu dan ramuan herbal. Menurut pemberitaan yang beredar, ia merupakan lulusan IKIP Jakarta (UNJ), lalu memperdalam ilmu kecantikan di Academy of Beauty Culture di Amerika Serikat dan sempat membuka salon di sana sebelum kembali ke Tanah Air. Ia menikah dengan H.A.R. Tilaar dan dikaruniai empat anak.


Kairinya Berawal dari Garasi 4x6 Meter

Sebelum brand yang ia miliki sukses, ia memulai perjalanan bisnisnya pada tahun 1970 lewat Martha Salon, yang merupakan salon sederhana berukuran 4x6 meter di garasi rumah orang tuanya di Menteng, Jakarta Pusat. Setelah pulang dari studinya di Amerika, ia juga dipercaya menjadi Direktur Puspita Martha pada 1974-1978 sambil mengelola salonnya.


Sejarah Sariayu dan Produk Martha Tilaar

Source: YouTube Sari Ayu MT

Pada 1977, Martha mendirikan PT Martina Berto yang melahirkan merek Sariayu-Martha Tilaar, produk kosmetik dan perawatan berbahan alami. Awalnya, produk diproduksi di Pulogadung Industrial Estate. Setelah itu, PT Martina Berto bekerja sama dengan Theresia Harsini Setiady, pendiri Kalbe Group, dalam meluncurkan Sariayu sebagai produk kecantikan dan jamu modern. Belum lama ini, Martha Tilaar Group membeli saham Martina Berto yang sempat dimiliki sebagian oleh Kalbe, sehingga perusahaan sepenuhnya berada di bawah manajemennya.

Pada 1988-1990, portofolionya semakin berkembang lewat merek seperti Cempaka, Jamu Martina, Pesona, Biokos, dan Caring Colours. Di kemudian hari, lahir pula PAC dan Dewi Sri Spa.

Baca juga: Mario Aji & Veda Pratama, Perjuangan Dua "Indonesian Heroes" Sampai Tembus Mandalika

Pelopor Kecantikan Berbasis Budaya

Saat dunia kosmetik global memiliki standar yang berkiblat pada kecantikan ala dunia Barat, Martha memilih jalan yang berbeda dengan mengangkat unsur kekayaan alam dan tradisi perawatan perempuan Indonesia. Ia dan timnya menelusuri manuskrip kuno Keraton Yogyakarta untuk mempelajari rahasia kecantikan perempuan Jawa, serta melibatkan ahli antropologi untuk memahami nilai sejarah dan budaya di balik konsep kecantikan Timur. Sariayu juga dikenal sebagai brand yang sering meluncurkan tren warna tata rias yang terinspirasi dari alam dan budaya Nusantara.

Jasa bagi Pendidikan dan Pemberdayaan Perempuan

Di luar bisnis kecantikan yang ia kembangkan, Martha juga turut mendorong pendidikan dan pelatihan kecantikan lewat Puspita Martha dan Yayasan Martha Tilaar, agar perempuan memiliki keterampilan untuk mandiri secara ekonomi. Pada 6 Desember 2014, ia meluncurkan Roemah Martha Tilaar di Gombong, rumah keluarga yang kini menjadi museum dan destinasi wisata. Martha Tilaar Group juga tercatat menjadi satu dari 55 perusahaan dunia anggota Global Compact LEAD PBB di Davos, Swiss.

Penghormatan Terakhir

Tiara Kusuma menyampaikan rasa terima kasih atas inspirasi, dedikasi, dan kontribusi Martha bagi dunia kecantikan Indonesia, serta mendoakan agar almarhumah mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa.

Kini kepemimpinan operasional Martha Tilaar Group dilanjutkan oleh anak-anaknya. Warisan Martha bukan hanya merek kosmetik, tetapi juga keyakinan bahwa kecantikan Indonesia berakar pada alam dan budayanya sendiri.