Dunia seni internasional tengah berduka atas kehilangan seniman kontemporer asal Jepang, Yayoi Kusama, yang selama puluhan tahun dikenal melalui mahakaryanya yang mempopulerkan motif polkadot ikonik dan instalasi Infinity Mirror Rooms. Tokyo, 14 Agustus 2026, ia menghembuskan napas terakhirnya pada usia 97 tahun. Kabar duka ini diumumkan secara resmi melalui situs webnya pada Kamis (27/8/2026). Galeri David Zwirner, yang selama ini menaungi karyanya, menyebutkan penyebab kematian kusama adalah kegagalan organ ganda (multiple organ failure).
Kepergian Kusama menandai berakhirnya perjalanan panjang seorang seniman yang mendedikasikan hampir seluruh hidupnya, selama tujuh dekade, untuk terus berkarya sebagai seniman avant-garde. Bahkan hingga hari-hari terakhirnya, ia disebut tetap melukis dan terus mengeksplorasi gagasan tentang cinta abadi serta jiwa manusia.
Source photo: popbela
Masa Kecil Yayoi Kusama yang Membentuk Visi Artistiknya
Kusama lahir di Matsumoto, Jepang, pada 22 Maret 1929. Sejak kecil, ia sudah mengalami halusinasi yang membuatnya, ketika melihat bunga, seolah-olah bunga itu bergerak dan berbicara dengannya. Pengalaman ini membuat fondasi pada dirinya dalam membuat motif polkadot karena terlihat seperti titik-titik (dots) yang terus bermunculan di sepanjang kariernya. Saat ia berusia 13 tahun, ia bahkan sempat dipercaya untuk membuat kain bagi parasut tentara Jepang selama Perang Dunia II.
Setelah itu, Kusama mempelajari nihonga, gaya lukisan tradisional Jepang, di Kyoto City Specialist School of Arts pada 1948-1949. Namun, ia segera merasa tidak cocok dengan keterbatasan gaya tersebut dan mulai tertarik pada gerakan seni avant-garde Eropa dan Amerika.
Baca juga: Mengenang Dolly Parton, Sosok di Balik “I Will Always Love You”
Hijrah ke New York dan Memulai Perjuangan Panjang
Pada tahun 1957 di usia 28 tahun, Kusama memutuskan bahwa lingkup masyarakat Jepang terlalu sempit baginya dan nekat untuk pindah sendirian ke Amerika Serikat dan menetap di New York. Sebelum berangkat, ia bahkan menghancurkan banyak lukisannya sendiri pada awal karyanya.
Di New York, Kusama harus menavigasi dunia seni yang sangat didominasi oleh kalangan kulit putih dan laki-laki. Meski begitu, ia dengan cepat mendapatkan rasa hormat (respect) dari seniman-seniman besar seperti Donald Judd, Joseph Cornell, dan Eva Hesse berkat karya eksperimentalnya, yang apabila dikategorikan dengan label baru seperti “soft sculpture” dan “installation”. Pada periode ini juga ia mengembangkan seri “Infinity Net”, berupa kanvas besar yang dipenuhi ribuan tanda kecil berulang tanpa mempedulikan batas kanvas, seolah terus berlanjut hingga tak terhingga. Meski demikian, kehidupannya di New York tidak mudah karena ia nyaris tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup hariannya dan harus melawan rasa cemas untuk memikirkan bunuh diri (suicide).
Kebangkitan di Usia Senja
Setelah lebih dari satu dekade berada dalam bayang-bayang, akhir 1980-an menjadi titik balik penting bagi penilaian ulang terhadap karya-karyanya. Momen ini ditandai dengan retrospeksi karier tingkat tinggi di Center for International Contemporary Arts, New York, pada 1989. Pengakuan dunia seni internasional semakin dikukuhkan ketika ia diminta mewakili Jepang di Venice Biennale pada 1993, sebuah ajang yang 27 tahun sebelumnya justru pernah ia "bobol" secara tidak resmi.
Kusama akhirnya mencapai puncak karier ketenarannya pada usia yang tidak muda, jauh melampaui popularitas dari rekan-rekan seangkatannya dahulu. Instalasi Infinity Mirror Rooms miliknya, yang membenamkan pengunjung dalam pantulan warna dan cahaya yang seolah tak berujung, berhasil menarik jutaan pengunjung galeri di seluruh dunia. Karyanya dipamerkan di berbagai institusi seni bergengsi, termasuk Museum of Modern Art di New York dan Tate Modern di London.
Warisan yang Tak Lekang oleh Waktu
Kusama pernah berjanji dalam salah satu pernyataannya yang terkenal, "I will keep on making my art until the day I die. And even after I die, my spirit will keep creating new art", yang berarti ia akan terus berkarya hingga akhir hayatnya, dan bahkan setelah kematiannya, jiwanya akan terus menciptakan seni baru.
Sepanjang kariernya, karya-karya yang diciptakan oleh Kusama selalu berangkat dari titik awal yang sederhana, yaitu polkadot. Melalui repetisi yang obsesif, ia berhasil mengungkap gagasan tentang sifat alam semesta yang tak terbatas. Kepergiannya meninggalkan warisan besar bagi dunia seni kontemporer, sekaligus menjadi bukti bahwa dedikasi tanpa henti terhadap sebuah visi artistik mampu melampaui batas usia dan waktu.
Muhammad Ichsan